Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Gosip Selingkuh


__ADS_3

Ali sudah sampai di rumah Fiha, dengan membawa sebungkus obat. Dia segera mengetuk pintu, lalu pintu terbuka. Ali memberikan kantung kresek, yang berisi obat untuknya.


"Fiha, sebaiknya aku segera pulang. Gosip tentang kita berdua, sudah tersebar di seluruh penjuru kampus." ujar Ali.


"Iya Ali, kamu hati-hati." Fiha merasa lemas, dan terjatuh di lantai.


Ali membantu Fiha berdiri, sampai Hasbi datang. Dia masih melihat di kejauhan, bagaimana istrinya menerima tangan Ali. Jelas-jelas mereka bukan suami istri, namun saling memegang pundak satu sama lain.


"Sepertinya ini bukanlah gosip, mereka memang sering bertemu di belakangku. Fiha selalu menggesa-gesa agar aku pergi darinya, hanya untuk yang aku lihat sekarang." monolog Hasbi.


Siapa yang tidak akan salah paham, saat orang yang kita cintai dekat dengan orang lain. Terlebih lagi, bukan hanya sekali dua kali. Hasbi sudah menyaksikannya berkali-kali, bahkan di kampus pun sering berdua.


Fiha tersenyum. "Terima kasih Ali, kamu sudah membantuku."


"Kita sudah seperti saudara Fiha. Aku menganggap sahabat, bukanlah sekedar mengukir tanah di atas air." jawab Ali.


Ali segera masuk ke dalam rumah, untuk membantu Fiha berjalan. Dia takut, bila Fiha jatuh lagi.


"Kamu yakin, kalau kita aman-aman aja?" tanya Fiha.


"Iya, aku yakin banget." jawab Ali.


"Jangan sampai Hasbi tahu iya." ucap Fiha.


"Habsi si gak tahu, tapi gosip yang beredar di kampus gak enak banget." jawab Ali.

__ADS_1


"Iya, aku mendapatkan pesan dari rektor. Dia menyuruh kita masuk ke ruangannya berdua. Mungkin, dia ingin meminta klarifikasi." ujar Fiha.


"Iya sudah, kita hadapi saja bersama." jawab Ali.


Fiha segera menelan pil, setelah meneguk air minum. Tak berselang lama, terdengar Hasbi mengucapkan salam. Fiha dan Ali menjawab salam, dengan perasaan cemas tak terkira.


"Sayang, kamu sudah pulang?" tanya Fiha.


"Sudah." Menjawab singkat, dengan intonasi datar.


"Hasbi, aku harap kamu tidak mempercayai kabar angin." ujar Ali.


"Aku tidak menghiraukan, sebelum mataku melihat dengan sendirinya." jawab Hasbi.


Pada sore harinya, Yunah sudah pulang dari butik. Dia menghampiri Fiha, sambil menatapnya lekat.


"Bu, itu sungguh hanya gosip. Tolong, jangan percaya pada orang luar." jawab Fiha.


"Bila kamu ingin dipercaya, apa bisa mulai sekarang menjauh dari Ali." ujar Yunah.


"Bu, maaf aku gak bisa. Dia dan aku..." Fiha sulit menjelaskan, ingin rasanya menangis.


"Kamu dan dia apa, sebenarnya selingkuh di belakang Hasbi." Yunah teringat dengan foto kebersamaan mereka, yang dia lihat di ponsel temannya.


"Bu, aku mencintai Hasbi. Tujuanku datang ke sini, karena aku mencintai dia. Tolong percaya padaku Bu, aku mohon." Fiha mulai menangis.

__ADS_1


Yunah segera beranjak dari duduknya, dengan membawa rasa kecewa ia pergi. Dia tidak menyangka, Fiha masih menyangkal. Dia tidak mau jujur, padahal terlihat jelas tidak ingin menjauhi Ali.


Fiha masuk ke dalam kamar, lalu melihat Hasbi yang sedang mengaji. Pria itu sepertinya menghilangkan galau, dengan membaca Alquran sebanyak-banyaknya.


”Suamiku, apa aku terlihat sangat durhaka. Aku mencintaimu, makanya aku menyembunyikan ini. Aku sadar, hanya seorang mualaf. Aku sedang berusaha, untuk tafakur dalam diam. Tidak mengapa, bila kalian kini membenciku.” batin Fiha.


Keesokan harinya, Hasbi masih saja mendiamkannya. Hanya saat mengajak salat subuh bersama saja, baru bibir suaminya bersuara. Dia memang tidak menangis, namun dia terluka sangat dalam. Fiha dan Hasbi sudah halal, namun seperti hanya sebelah pihak. Hasbi merasa hanya dia yang jujur, namun Fiha tidak sama sekali.


Hasbi menghampiri Aqila, dan membiarkan Fiha tertinggal di belakangnya. Fiha tersenyum, berpikir mungkin Hasbi akan ada pengganti. Fiha bisa lega meninggalkannya, lalu Hasbi belajar mencintai Aqila pikirnya.


"Aqila, Ibu menyuruh kamu datang ke Fisbi Boutique." ujar Hasbi.


"Iya, nanti pulang dari kampus aku sempatin." jawab Aqila.


"Terima kasih." ujarnya.


"Jangan sungkan." jawab Aqila.


Fiha memegangi dadanya yang terasa sesak, dia segera berjalan ke kelasnya. Ali mendekati Fiha, tidak mempedulikan suara orang sekitar. Ali membukakan air minum, dan Fiha menerimanya.


"Mualaf tukang selingkuh."


"Kedok doang hijabnya, padahal juga gak Istiqomah."


"Sudah selingkuh, tidak mau mengaku."

__ADS_1


"Gak sudi, punya teman sekelas munafik kayak dia."


Mereka hendak melemparkan botol minuman padanya, namun Ali berusaha menghentikan. Mereka malah lebih brutal, hendak melemparkan penggaris. Ali segera berdiri di depan meja Fiha, berusaha menangkis serangan. Kepalanya terkena lemparan spidol, dan kakinya terkena kursi. Fiha dan Ali segera berjalan keluar kelas, dengan sama-sama menahan sakit.


__ADS_2