Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Bermain Ayunan


__ADS_3

Fiha dan Hasbi sudah sampai ke rumah, dan melihat Syansa yang sedang digendong Yunah. Fiha mengambil bayi Syansa, dari belaian nyaman neneknya.


"Bu, kami berencana mencari baby sitter untuk menjaga Syansa." ujar Fiha.


"Tidak perlu, biar Ibu saja yang menjaganya. Lagipula, urusan butik ada karyawan dan karyawati." jawab Yunah.


"Pulang dari kuliah, aku juga akan ke butik kok Bu. Ada Ali juga, yang kadang sesekali membantu." ucap Hasbi.


"Iya, berkat kerjasama semuanya butik makin ramai. Ibu akan kasih bonus buat Ali, yang sudah rajin promosi. Banyak dari reseller si Ali, yang menarik pembeli." jelas Yunah.


"Iya Bu, ide bagus. Dengan begitu, Ali akan merasa kerja kerasnya dihargai." ujar Hasbi.


"Iya Hasbi, betul sekali." jawabnya.


Fiha mengganti popok bayi Syansa, yang sudah kotor. Lalu setelahnya mengaji surah Al-Baqarah, untuk menenteramkan hati dan pikirannya.


Hasbi dan Fiha keluar rumah sejenak, setelah Fiha selesai mengaji. Fiha duduk di ayunan, lalu Hasbi mendorongnya dari belakang. Fiha menghirup udara segar, sambil tersenyum mengembang.


"Dalam hidup ini, memiliki kamu adalah anugerah terindah. Kamu adalah kekayaan yang segalanya." Fiha menatap wajah Syansa.


"Anaknya Ayah lucu iya, sepertinya nyaman dalam gendongan Bunda." sahut Hasbi.


"Iya sayang, aku 'kan satu-satunya Bunda Syansa." jawab Fiha.


"Tidak ada orang lain, yang akan menjadi Bundanya." ujar Hasbi.


"Semoga si, aku berharap kamu tidak menikah lagi. Meskipun, jika usiaku hanya sebatas ini." Fiha tersenyum penuh arti.


Hasbi mendorongnya pelan-pelan, agar ayunan tidak terlalu deras. Dia tidak ingin Syansa terjatuh, meskipun ikatan kain gendongan kuat.


"Sayang, kita pulang jam berapa?" tanya Fiha.

__ADS_1


"Pukul 17.30 nanti." jawab Hasbi.


Oak! Oak! Oak! Oak!


Terdengar suara tangis Syansa dalam hening. Dia kelihatannya merasa tidak nyaman, makanya sibuk memberikan kode. Hanya dengan tangis, orang lain akan mengerti. Bahwa ada si kecil, yang memberi suara pada dunia. Menjelaskan ketidaknyamanannya, meski sedikit saja.


"Sayang, ayo kita membeli makanan." tawar Hasbi.


"Kamu serius nih, mau makan-makan sama aku." jawab Fiha.


"Kayak dengan siapa saja, kamu itu istri aku." ucap Hasbi.


"Iya sayang." jawab Fiha.


Mereka melangkahkan kaki, ingin membeli sesuatu. Tidak jauh tempatnya, hanya beberapa sentimeter dari ayunan. Penjual bakso goreng, berada tepat di seberang jalan.


"Mas, baksonya sepuluh." ujar Hasbi.


"Dipisah atau disatukan saja?" tanya pria tersebut.


Hasbi dan Fiha duduk di kursi, menunggu bungkus makanan diberikan. Pertanda bahwa sudah siap, ketika diberikan padanya.


"Berapa Bang?" tanya Hasbi.


"Seperti biasa, hanya sepuluh ribu." Pria itu tersenyum, ke arah mereka.


Hasbi menarik uang yang terselip, di antara lembar kertas lainnya. Abang tersebut menerima kertas, berwarna ungu dengan corak gambar. Langkah kaki Hasbi dan Fiha, melanjutkan pergi ke tempat semula.


"Kamu mau makan sendiri, atau aku suapi?" tanya Hasbi.


Fiha tersenyum manis. "Harusnya gak perlu ditanya, aku ingin disuapi tanpa ditawari lagi."

__ADS_1


"Mulai semena-mena iya." canda Hasbi.


"Harus ikhlas, hummh..." Fiha memanyunkan bibirnya manja.


Hasbi menyuapi makanan ke mulut istrinya, lalu dikunyah dengan perlahan. Ada rasa yang mulai lengket pada lidah, menyeruak ke dalam tenggorokan. Berlarian ke dalam usus, lalu menuju lambung.


"Bagaimana sayang rasanya?" tanya Hasbi.


"Alhamdulillah enak, selagi ada gigi saja. Ini merupakan anugerah dari yang Maha Kuasa." jawab Fiha.


"Benar sayang, bila gigi kita menghilang makanan apapun terasa hambar. Lihatlah Nenek di seberang jalan itu, sedang disuapi bubur oleh anaknya." Hasbi menunjuk seorang perempuan.


"Iya Hasbi, itu contoh kehidupan." jawab Fiha.


”Seperti dalam surat Ar-Rahman, yang berulang sebanyak tiga puluh satu kali. Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukadziban yang artinya, "maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” batin Fiha.


Keesokan harinya, Fiha bertemu dengan perempuan itu lagi. Perempuan bertatto yang telah dia tolong, ketika jatuh dari motor.


"Hai, kamu di sini juga?" tanya Fiha.


"Iya, aku kebetulan mau ke bengkel. Motorku itu ada yang rusak, jadi bawaannya mau jatuh. Pas dikendarai, bisa membahayakan orang lain." jawabnya.


"Oh iya, nama kamu siapa?" tanya Fiha.


"Namaku Zesi." jawabnya.


"Lain kali, kita belajar bersama." tawar Fiha.


"Boleh, saling berbagi ilmu." jawabnya.


Sementara Hasbi, mengejar Ali yang menghindarinya. Sejak dari tadi pagi, Ali tidak berbicara pada siapapun juga.

__ADS_1


"Kamu kenapa menghindar Ali, aku jadi tidak enak hati. Katakan saja, bila aku punya salah?" tanya Hasbi.


"Sekali saja, tolong biarkan raga manusia menjauh. Biarkan dia mengosongkan dunia, agar dia senyum dalam ketenangan. Mengerti satu hal, bahwa sendiri tidak selalu tentang kesedihan. Ada senyum kesejukan, yang terukir di sudut bibirnya." jawab Ali datar.


__ADS_2