
Hasbi duduk di sebelah Fiha, rela meninggalkan pembicaraan penting dengan Aqila. Dia tahu, bahwa Fiha sedang tidak baik-baik saja.
"Fiha, kamu jangan sedih lagi iya. Kamu tidak sendiri, masih ada Ibu dan aku." ucap Hasbi.
"Tapi, kamu tidak akan selamanya bersamaku. Kita akan berpisah, saat kamu sudah menikah." jawab Fiha.
"Fiha, kamu dengar baik-baik, aku belum kepikiran untuk nikah." ujar Hasbi.
"Lalu Aqila, dia calon kamu 'kan." jawab Fiha memastikan.
"Calon apaan Fiha, dia cuma teman." ucap Hasbi.
"Teman bisa jadi gebetan, dimulai dari pendekatan." jawab Fiha ketus.
"Fiha, Fiha, kamu ini bicaranya sudah ngelantur." ucap Hasbi.
"Gak, aku benar-benar bicara langsung dari pikiran mengalir." jawab Fiha.
Fiha meneruskan ucapannya. "Hasbi, perempuan itu merdu sekali suaranya."
"Kalau kamu mau seperti itu, aku juga bisa mengajari kamu." jawab Hasbi menawarkan.
"Awas jatuh cintrong, kok tiba-tiba baik." goda Fiha.
"Kamu yang awas jatuh cintrong." jawab Hasbi.
Aqila melihat dari kejauhan, mereka berdua sedang tersenyum. Aqila tahu, bahwa Hasbi tidak sebahagia itu ketika bersamanya.
”Aku penasaran, siapa iya gadis itu. Sejak kapan Hasbi mengenalnya.” batin Aqila.
Saat jam pelajaran telah usai, Aqila, Ali, Hasbi, dan Fiha pergi ke pondok pesantren. Mereka menghampiri orang-orang, yang sedang berada di tenda sementara. Ada seorang pria paruh baya, yang merupakan pemilik pondok pesantren.
"Pak, ini ada sedikit sumbangan dari kampus Bronze." ucap Hasbi.
__ADS_1
"Terimakasih Nak, semoga Tuhan membalas kebaikan kalian." jawabnya.
"Aamiin." jawab mereka bersamaan.
Mereka melangkahkan kaki masing-masing, untuk pulang bersama. Di dalam perjalanan ada anak-anak kecil, yang memperhatikan mereka.
"Eh, Kakak yang memakai peci cocok banget sama yang berjilbab."
"Iya, cantik dan tampan."
"Kalau yang mengenakan baju lengan pendek cocok dengan siapa."
"Cocok dengan yang itu." Menunjuk Ali.
Fiha dapat mendengar suara berseliweran, matanya juga melihat Aqila yang tersenyum sipuh. Fiha mempercepat langkahnya, mendahului mereka semua.
"Fiha, tunggu dong!" teriak Ali.
"Aku sedang buru-buru." jawab Fiha.
"Aku ada urusan sama sugar Daddy ku." jawab Fiha beralasan.
"Fiha, kamu jangan pergi lagi." Hasbi khawatir.
"Tidak, aku akan tetap pergi. Itu adalah caraku, melampiaskan semua beban hidup." jawab Fiha.
Fiha semakin mempercepat langkahnya, karena didorong rasa cemburu. Fiha bersembunyi di balik tumbuhan yang rimbun. Hasbi mengedarkan pandangannya ke sekeliling, namun tidak terlihat juga Fiha.
"Hasbi tunggu, kamu kok cepat banget jalannya." ujar Aqila.
"Aku mengejar Fiha." Hasbi mengusap tengkuknya, yang tidak gatal.
"Biasa aja kali, kamu tahu juga alamatnya." ucap Ali.
__ADS_1
"Aku pulang duluan iya." Hasbi segera menaiki motornya.
Kendaraan roda empat yang dikendarai olehnya, melaju dengan cepat ke arah kosan Fiha. Namun tidak terlihat juga, bahwa Fiha ada di dalam. Sudah berulang kali Hasbi mengetuknya, namun tidak tampak juga orang keluar. Akhirnya Hasbi pulang ke rumahnya, dan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Pada esok harinya, Yunah membuat makanan. Dia memasak opor ayam, khusus kesukaan Fiha.
"Hasbi, Ibu mau ke kosan Fiha." ucap Yunah.
"Iya Bu, aku antar iya." jawab Hasbi.
"Ibu khawatir, dia tidak makan. Dulu saat kita kesusahan, kamu ingat siapa yang membawa lauk. Saat warung kelontong krisis, Fiha datang memborong banyak barang." jelas Yunah.
"Iya Bu, aku mengingatnya." jawab Hasbi.
Setelah beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai kosan. Yunah memanggil nama Fiha, lalu pintu terbuka dengan cepat.
"Fiha, ini Ibu bawakan makanan." ujar Yunah.
Fiha mengambilnya. "Terimakasih Bu, ayo masuk."
Yunah masuk ke dalam bersama Hasbi, karena Fiha menawarinya.
"Fiha, sebenarnya Ibu ingin melakukan penawaran. Ini juga karena Ibu sayang sama kamu." ujar Yunah.
"Penawaran apa Bu, aku menjadi penasaran." jawab Fiha.
"Kalau kamu bersedia pindah agama lalu menikah dengan Hasbi, kamu bisa tinggal di rumah Ibu tanpa hidup seorang diri." jelas Yunah.
"Mana mungkin Bu, Hasbi tidak suka sama aku." jawab Fiha.
"Yang paling terpenting, kamu suka dengan islam terlebih dulu." rayu Yunah.
"Hmmm... ada si sebenarnya niatan untuk mengenal lebih dalam." jawab Fiha.
"Benarkah Fiha, secepat itu?" tanya Yunah.
__ADS_1
"Aku merasa, kitab Al-Qur'an benar-benar membawa kedamaian. Saat orang lain melantunkannya, benar-benar terasa sejuk. Sudah sejak dulu, aku mendengarkan Habsi mengaji." Fiha tersenyum ke arah Hasbi.
"Fiha, aku senang kalau kamu punya pemikiran seperti itu. Kamu harus benar-benar tafakur dalam mencintai. Jangan pernah goyah, hanya karena urusan dunia. Tidak apa-apa perlahan, yang terpenting bisa istiqomah." jelas Hasbi, dengan semringah.