
Aqila memungut buku-bukunya yang terjatuh, dan Ali membantu Aqila untuk mengambilnya.
"Aduh, maaf iya Aqila!" ucap Ali.
"Iya, gak apa-apa kok." jawabnya.
Aqila menumpuk buku-buku yang diberikan Ali, pada kedua tangannya. Lalu setelah itu, dia bergegas meninggalkan Ali.
"Aqila, kamu sepertinya masih suka sama Hasbi. Aku yang mau melamar kamu, rasanya menjadi ragu. Bisa saja, akan tertolak.” batin Ali pesimis.
Hasbi segera keluar dari ruangan rektor, setelah selesai mengisi tugas. Dia melihat kelas yang masih sepi, hanya ada Fiha yang memegang plastik obat.
"Fiha, kamu sakit iya?" Hasbi tiba-tiba masuk, ke dalam ruangan.
"Tidak kok, siapa yang bilang." jawab Fiha.
"Tidak ada yang bilang, aku lihat sendiri pil di tangan kamu." ucap Hasbi.
"Oh, ini pil obat titipan temanku. Katanya dia sakit, jadi aku yang akan mengantar untuknya. Lagipula, apotek tersebut jauh dari rumahnya." jawab Fiha.
"Siapa teman kamu, kok aku gak tahu." Hasbi masih ingin tahu.
"Kamu gak perlu tahulah, kamu juga gak akan kenal." jawab Fiha.
"Cowok apa cewek?" tanya Hasbi lagi.
"Cewek kok temanku, tenang aja gak usah cemburu." jawab Fiha.
Pulang sekolah, Ali menerima pesan dari Fiha. Dia berencana ingin bertemu Ali, di sebuah kedai langganan biasanya. Ali membalas pesan Fiha, lalu segera keluar rumah. Tiba-tiba, dia dikagetkan oleh sosok Aqila.
"Mau kemana?" tanya Aqila.
__ADS_1
"Hmm... aku mau ke sebuah toko elektronik." jawab Ali.
"Ngapain ke sana kayak orang was-was, harus berjalan celingak-celinguk lagi." ucap Aqila.
"Hmm... aku hanya takut ada anak kecil lewat. Biasanya, mereka suka membuntuti aku." jawab Ali.
"Aku mau ikut kamu pergi." ujar Aqila.
"Iya boleh." jawabnya santai.
”Aku si senang aja kamu ikut, tapi kenapa disaat yang gak tepat kayak gini.” batin Ali.
Ali dan Aqila pergi, dengan menggunakan motor masing-masing. Mereka sudah sampai ke toko elektronik. Tanpa sengaja bertemu Filda, yang sedang menunggu Halifah berbincang dengan pemilik toko.
"Eh kalian, Kakak yang waktu itu 'kan?" tanya Filda.
"Iya Dik, kami temannya Kak Fiha." jawab Ali.
Ali merasa cemas, namun menutupi hal tersebut dengan senyuman. Sesekali memencet batang hidungnya, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Filda menatap Ali lekat, berharap ada sumber jawaban di sana. "Kok Kakak diam saja, aku serius nanya. Mamaku punya banyak kenalan orang penting, siapa tahu bisa bantu Kakak."
"Haduh Filda, mungkin kamu salah dengar. Waktu itu, dokter membicarakan pasien pada Kakak." alibi Ali.
"Pasti Kakak mengenal pasien tersebut." Filda asal menebak saja.
"Tidak, dokter itu tuh kebetulan kenal dengan aku. Terus, dia curhat masalah pasien yang terkena kanker." jawab Ali.
"Oh gitu, aku kira Kakak yang mempunyai penyakit jantung." ucap Filda.
"Heheh... mana mungkin. Kakak bukanlah manusia perokok, sama seperti kamu anak pintar." Ali mencubit hidupnya, dengan gemas.
__ADS_1
Halifah sudah keluar dari toko, lalu bertemu dengan Ali dan Aqila. Setelah diingat-ingat, dia seperti pernah bertemu.
"Eh kamu, temannya Hasbi 'kan?" tanya Halifah.
"Iya Bu, benar sekali." jawab Ali.
"Jangan panggil Bu, tapi panggil Bibi saja. Sebentar lagi, Ibu akan menikah dengan Pak Duda." Filda menutup mulutnya, sambil menahan tawa.
"Kamu ini Filda, terlalu banyak bicara. Ayo kita pulang sekarang, Mama sudah mendapatkan apa yang dicari." Filda menarik pergelangan tangannya.
"Oh gitu toh, aku doain lancar iya sampai hari H." Ali tersenyum meledek, perempuan paruh baya tersebut.
"Jangan dengarkan Filda, dia memang begitu anaknya. Tidak disaring dulu, bila ingin bicara." jawab Halifah.
Aqila dan Ali masuk ke dalam, lalu pelayan menawarkan mereka melihat-lihat. Pelayanan yang super ramah, membuat Aqila merasa nyaman.
"Kamu mau beli apa, kok cuma lihat-lihat doang." ujar Aqila.
"Aku mau beli kipas angin kecil, karena di rumah sudah rusak." jawab Ali, asal bicara.
"Oh gitu, biar aku bantuin deh cari yang pas." tawar Aqila.
"Boleh banget Aqila, kalau bisa sering-sering." canda Ali.
"Kamu ini, ibaratnya dikasih gaji malah minta bonus insentif juga." Aqila tersenyum.
Berulang kali ponsel Ali berbunyi, namun tidak diangkat. Ali memilih mengabaikannya, karena takut ketahuan Aqila. Padahal tujuan Aqila ikut dengannya, untuk misi penyelidikannya dengan Hasbi. Meski Fiha dan Ali sudah berjauhan, namun mereka masih meneruskan rencana kerjasama.
"Kok gak diangkat teleponnya?" tanya Aqila.
"Dari nomor salah sambung." jawab Ali asal-asalan.
__ADS_1
”Haduh, kok Aqila lama banget milihnya.” batinnya gemas.