Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Mengelak Perasaan


__ADS_3

Seperti jurnal umum yang menjadi awal mula, untuk terbentuknya sebuah laporan berikutnya. Komunikasi antar dua orang yang tidak membaik, bagaikan beban yang lupa terhitung. Seperti aset rasa, yang harus diterapkan pada arus kas. Mengerti dengan jelas aliran perasaan, bagaikan memperhitungkan setiap sisi debit dan kredit.


"Hai!" sapa Aluna dengan ceria.


"Hmmm..." Aku menjawab singkat saja, hanya menarik sedikit sudut bibirku.


Benar-benar sepi, karena masih banyak yang belum datang. Hatiku tidak bisa berbohong, selalu mencari Rulif ketika tidak ada. Pikiranku menolak untuk hal tersebut, namun tidak dapat sejalan dengan hati.


Beberapa menit setelah baris berbaris di lapangan, ibu Ima masuk ke kelas lagi. Aku benar-benar tidak semangat, karena harus merasa getir. Akankah kali ini membahas pelajaran, atau akan mempermalukan aku dengan olokan.


”Bisakah menasehati aku dikala sendiri Bu, apakah harus di depan orang yang menindas ku. Katakan padaku secara langsung, bila mencintai seseorang itu salah. Katakan langsung saat berdua, biar aku juga bisa melepaskan semua beban ini.” batinku.


Akhir-akhir ini memang terlihat senggang, masuk ke kelas hanya untuk memperhatikanku. Menilai seolah aku yang paling terburuk, dan fakir ilmu agama. Sesudah menjelaskan materi, masih sempat-sempatnya menyelipkan aku di dalamnya.


Ibu Ima menanyakan seputar tempat magang, dan Aluna begitu ingin menyebutkan pendapatku. Padahal aku pun masih melihat gerakan Rulif, yang tidak menjawab apa-apa. Aku benar-benar ingin, kali ini berpisah dengannya. Ibu Ima menanyakan lagi, namun aku tidak dapat mendengar jawabannya. Membiarkan suara teman-temannya, yang sibuk mengatakan pendapat.


"Rulif di PT. Cahaya." ujar Riyadi.


"Iya, desa Sinar Berseri." timpal Sakim.


Masih ku ingat dengan jelas, masih ku tahan sedalam-dalamnya. Aku takut bila saatnya giliran ku yang ditanya, akan menimbulkan fitnah karena disangka mengikutinya. Setelah melewati banyak nama, giliran namaku yang disebut. Aku diam seribu bahasa, bingung harus menjawab apa. Berpikir sejenak, namun Aluna yang begitu antusias menjawab.


"Firsya, kamu memilih magang dimana?" tanya ibu Ima.

__ADS_1


"Bu, Firsya magang di PT. Cahaya serempak dengan aku." jawab Aluna.


"Ibu nanya Firsya." ucap ibu Ima.


"Iya Bu, saya magang di PT. Cahaya." jawabku, dengan raut wajah datar.


"Hih, mengikuti Rulif terus." ujar Tomtam.


"Rulif di kota Jambi magangnya." jawab Riyadi.


"Kalau Rulif di PT. Cahaya bakalan bersama dengan Firsya." ucap Sakim.


"Rulif bakalan di Jambi." jawab Ido.


Apakah aku harus menjadi seperti jurnal pembalik, agar dapat memutar hal yang telah dilakukan penyesuaian waktu. Supaya mempermudah langkah perjuangan pada periode berikutnya, tanpa membuang waktu seperti sekarang.


Apakah untuk melupakanmu harus melakukan prive, pada aset hati yang belum menggunung? Aku pun sama seperti hutang tidak bisa dibiarkan menumpuk, tanpa kepastian kapan akan dilunasi. Maksudku kapan kamu melunasi semua tanda tanya di hati, agar balance seperti debit dan kredit. Karena laporan yang benar, harus sejajar pada dua sisi. Layaknya sebuah perasaan, yang diperankan dua orang. Sedangkan kita berdua bagaikan debit dan kredit, yang tidak mau berada pada tabel yang sama.


Pada suatu hari pernah, Sakim menghampiri diriku. Aku masih tetap menunduk, tidak ingin menoleh ke arahnya. Atau bila aku bicara banyak, aku akan menangis saat itu juga. Mengapa dia tidak pernah merasa bersalah, menegurku dengan seenaknya. Setelah apa yang dia perbuat bersama teman yang lain, menjadikan perasaan serius ku yang murni sebagai candaan.


Perasaan bukan bahan candaan, coba posisi itu ada pada diri kalian. Bahan candaan yang lainnya banyak, pastinya bukan tentang perasaan. Andai aku tipu kalian dengan mengatakan, bahwa orang yang dicintai menghina diri kalian di depanku? Lalu apa kalian masih akan menertawakan perasaan sendiri, yang terluka dan mungkin patah hati????


"Firsya, kau suka sama Rulif?" tanya Sakim.

__ADS_1


"Tidak." jawabku singkat.


"Kau sayang sama Rulif?"


Aku diam saja, tidak menjawab sama sekali. Harusnya dia tahu sendiri, tanpa melempar pertanyaan tersebut. Tidak pernah tahu juga hatinya seperti apa, bisa jadi menertawakan karena bertepuk sebelah tangan. Rahasia orang lain, seharusnya tidak perlu terlalu sibuk. Aku bukan tidak ingin menjawab ucapan Sakim atau siapapun, terkadang diam adalah pilihan terbaik saat sudah malas meladeni. Sebab yang hatiku memahami, mereka hanya ingin tahu bukan peduli. Mereka cuma pengacau, dari semua keadaan baik-baik saja.


”Jangan pernah bertanya hal semacam ini, apalagi kaulah orang yang meluluhlantakkan hatiku. Akan terasa sangat memuakkan, bila kau terus banyak bicara. Menjauh lah makhluk tak berperasaan, karena kau tak layak melempar pertanyaan tersebut.” batinku.


Dihari berikutnya, yang ntah hari apa. Aku juga tidak ingat, tanggal berapa dialog bermula. Cuma yang paling terpenting, aku ingat apa yang terjadi. Sekelompok siswa dan siswi mengenakan seragam lengkap olahraga. Hari itu kami akan praktik, mengadakan latihan pemanasan. Saat hendak baris berbaris, Sakim dan Ido sibuk di depan guru. Menyuruhku untuk berbaris dekat Rulif namun aku menghindarinya, lalu menukar barisan milik orang lain.


"Kenapa kalian sibuk sekali?" tanya guru olahraga ku.


"Tidak Pak, biar Firsya dekat dengan Rulif." jawab Sakim.


"Memangnya ada apa?" tanyanya, sambil tersenyum samar.


"Firsya suka sama Rulif." jawab Sakim.


"Tidak Pak." Aku mengelak.


Begitulah terus aku lalui, sudah jelas terbongkar namun masih tetap tidak mengakui. Jikalau aku mengakuinya, itu benar-benar sangat memalukan. Belum pernah terlintas di benakku, untuk membongkarnya sejak awal. Bila tidak karena Aluna yang ingkar janji, dan mengatakannya pada banyak orang. Pasti sampai sekarang, tidak akan pernah ada yang tahu. Bukan kesalahannya yang menjadi tolak ukur, namun dampak yang ditimbulkan dari tindakan tersebut.


Introvert? apa itu pendiam, pemalu, phobia, atau trauma pada masa lalu. Ntahlah, aku bukanlah orang yang memahami definisi dengan tepat. Bukan pula pakar filosofi terbaik di dunia, hanya berdasarkan perkiraan saja. Sebenarnya orang seperti ini, hanyalah mendapat bagian teremehkan. Jarang dianggap ada, bahkan bagian terkhianati kerap kali menghampiri. Namun dalam merangkai kata cerita bersambung, biasanya introvert ini bisa lebih dalam.

__ADS_1


Mungkin karena ruang sepi, yang membuat otak bekerja lebih cepat. Bisa berpikir untuk menyusun rangkaian kata-kata cantik. Enak dibaca dan didengar, berdasarkan ungkapan naluri terdalam. Mata yang fokus pada torehan pelampiasan. Jari-jari yang lihai dalam menulis, menyesuaikan pemikiran dalam otak manusia. Sering terurai dalam bentuk karya sastra, yang menjadi penghibur orang bersedih.


__ADS_2