Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Operasi Caesar


__ADS_3

Empat bulan kemudian.


Dokter terburu-buru menemui Hasbi, karena air ketuban Fiha pecah. Dia harus segera menjalani operasi Caesar, untuk menyelamatkan bayinya yang berumur tujuh bulan.


"Saudara Hasbi, istrimu dalam keadaan darurat. Dia harus segera dioperasi, untuk mengeluarkan bayinya." ucap dokter.


"Baiklah Dok. Lakukan apa saja, yang penting anakku bisa diselamatkan." jawab Hasbi.


Dokter segera berlari dengan terburu-buru, menuju ke ruang Fiha dirawat. Beberapa suster diperintahkan untuk memindahkan pasien, ke ruang operasi. Hasbi mencium telapak tangan Fiha, sebelum pada akhirnya dia masuk ke dalam ruang operasi.


”Fiha, kasian sekali kamu, antara hidup dan mati. Aku mencintaimu istriku sayang, aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu.” batin Hasbi.


Satu jam kemudian, operasi Caesar sudah selesai dilakukan. Dokter memberitahu, bila keadaan Fiha semakin memburuk. Jantungnya juga tidak stabil, karena kanker ganas yang menggerogotinya.


"Hasbi, kamu yang tabah iya." Ali mengusap punggung, sahabat karibnya itu.


"Iya Ali, ini sudah takdir." jawab Hasbi.


Mereka melihat bayi, ke ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit). Ruang tersebut merupakan tempat khusus untuk merawat bayi baru lahir, yang membutuhkan pengawasan ketat oleh tenaga medis.


"Anak Ayah, kasian sekali kamu. Ayah hanya bisa melihat dari arah luar, tidak dapat masuk ke dalam." Hasbi memegang kaca ruangan, dengan sedikit mencengkeram jari-jarinya pada kaca.


"Hasbi anak kamu pasti kuat, sama seperti Ibunya. Kamu jangan gelisah terus, tenangkan diri kamu dulu." ujar Ali.


"Iya Hasbi, yang diucapkan Ali benar. Kamu juga harus memikirkan diri kamu sendiri, meski itu hanya sedikit. Nanti Fiha juga ikut sedih, saat sadar dari komanya." tambah Aqila.


"Aku tidak bisa lega, sebelum Fiha dapat pendonor jantung." jawab Hasbi.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, aku sudah memposting di internet." ucap Ali.


"Aku tidak akan menunggu lagi, biar aku saja yang mendonorkan jantungku untuk Fiha." Hasbi mengacak rambutnya frustasi.


"Hasbi, kamu bisa tenang gak si? Apa kamu mau, saat Fiha terbangun melihat anaknya menjadi anak yatim." Aqila sedikit kesal.


"Aqila, ini bukan soal tenang dan tidak tenang. Ini soal nyawa, orang yang benar-benar berharga." jawab Hasbi.


Keesokan harinya, Aqila dan Ali kembali ke kampus. Kali ini, Aqila berbicara dengan sangat serius. Tepatnya di bawah pohon, yang berada di parkiran.


"Ali, kamu pernah bilang, kalau kamu suka sama aku. Hmmm... aku tahu, kamu sedang tidak bercanda. Akulah yang menyangkal semuanya, agar tidak memberi jawaban apapun pada perasaanmu. Karena aku terbiasa, bahwa kita berteman tanpa canggung." jelas Aqila, panjang dan lebar.


"Aku mengerti kok, makanya aku tidak ingin meneruskan. Aku pikir, kita menjadi teman juga baik." jawab Ali datar.


"Mulai sekarang, kita sering habiskan waktu bersama. Bila kamu tidak melihat aku lagi, kenang lah ingatan baik ini." ucap Aqila.


"Bisa dibilang seperti itu, anggap saja ini pamitan paling awal." ujar Aqila.


"Aqila, Aqila, kenapa harus pamitan. Kita akan tetap di sini, tidak kemana-mana." jawab Ali.


"Iya, aku memang tetap kuliah di sini. Namun, nyawa manusia tidak ada yang tahu." ucap Aqila.


"Aku pun kalau soal itu, hanya Tuhan yang tahu." jawab Ali.


"Maka dari itu, aku sekarang mengatakannya." ujar Aqila.


"Iya sudah, mendingan sekarang kita ke kantin." jawab Ali.

__ADS_1


Aqila dan Ali segera melangkahkan kakinya, meninggalkan tempat tersebut. Mereka berjalan menuju kelas Habsi, lalu menyapa Hasbi secara bersamaan.


"Hasbi, ayo ikut kita ke kantin!" ajak Aqila.


"Kalian saja, aku sedang ingin di kelas." jawab Hasbi.


"Aku tahu, kamu sedang memikirkan anakmu di ruang NICU. Tapi mengisi perut dengan asupan kalori, itu juga hal penting." sahut Ali.


"Baiklah, aku ikut kalian." jawab Hasbi.


Mereka melangkahkan kaki, menuju kantin. Hasbi dan Ali memesan makanan, sedangkan Aqila menunggu di kursi paling pojok.


"Aqila, sudah aku pesan." ujar Ali.


"Baiklah, tinggal menunggu pesanan datang." jawab Aqila.


Hasbi tampak merenung, tidak banyak bicara. Biasanya, dia akan bicara meskipun sedikit. Aqila juga sedang memikirkan, bagaimana cara membantu bayi tidak berdosa itu.


”Wajar bila Hasbi bersedih, anak itu 'kan butuh seorang Ibu. Siapa yang akan menyusuinya, bila Ibunya tiada lagi.” batin Aqila.


Pesanan sudah datang, dan diletakkan nampan di atas meja. Aqila menyantapnya dengan perlahan, bersamaan dengan Hasbi dan Ali.


"Soto ini tidak berubah rasa, masih sama seperti awal masuk kampus." ujar Ali.


"Sudah bicaranya, kenapa membahas ini dan itu. Nanti, tersedak loh!" jawab Aqila.


Kini mereka menghayati mengunyah makanan, biar lebih terasa kenikmatan bumbunya.

__ADS_1


__ADS_2