
Keesokan paginya, aku kembali ke sekolah. Mataku sudah terlihat sembab, menangis semalaman karena suara makian ibu Ima. Andaikan tidak mengingat kedua orangtuaku, ingin rasanya aku marah mengatakan semuanya. Aku tidak ingin menegurnya lagi pikirku. Aku benar-benar tidak sanggup, mengingat perilakunya selama dua tahun ini. Aku bukanlah orang yang akan berteriak murka, namun orang yang akan menjauh tanpa ingin kembali. Saat jam istirahat tiba, aku dan Aluna duduk di samping kelas.
"Aku ingin cepat tamat saja, dari sekolah SMK Delima ini." Aku berucap, dengan nada suara setengah terisak.
"Kenapa Firsya?" tanya Aluna.
"Aku tidak betah di sekolah ini. Bahkan mereka yang berbuat aku yang dikambinghitamkan, dan harus menangis setiap hari" Aku bercerita, dengan air mengalir di sudut mataku.
"Kalau aku ingin bekerja sudah lulus nanti." Menjawab sambil menunduk.
"Dimana Aluna?" tanyaku.
"Belum tahu." jawabnya.
Mereka berdua berbicara di samping kelas, ada rasa sesak di hati Firsya. Mencerna berkali-kali, ucapan teman-teman sekelasnya itu. Bahkan beberapa dari warga sekolah tidak tidak tahu apapun, ikut campur pada urusannya. Sudah gembar-gembor, menerbangkan berita palsu itu bak angin.
"Apa kamu tahu, mereka menggosipkan aku berpacaran dengan dia. Semua itu palsu, dan tidak benar adanya. Padahal aku tidak menyukai hal tersebut disebarluaskan, kenapa kamu harus mengkhianati aku Aluna?" Tidak bisa menjelaskan sakitnya menerima perlakuan orang sekitar, lebih daripada cinta yang tidak terbalas.
"Maafkan aku Firsya, maafkan aku." jawab Aluna.
"Biarlah aku yang mengalah saja. Mau berbicara apapun juga, tetap saja aku tidak didengarkan dan dipercayai. Merekalah yang benar dan merasa paling bisa bergaul, dan aku yang introvert ini selalu salah." Aku menekuk lutut dengan tangan, sambil kepala meringkuk. Sulit dijelaskan perasaan kelelahan mental, pada luka-luka yang ditoreh oleh beberapa teman sekelasku.
__ADS_1
Mereka yang jahatnya terlalu, menulis penghinaan di kertas dengan mengatasnamakan Rulif. Isi dalam surat itu adalah, adu domba belaka. Lihatlah saat aku marah dan menulis status, akhirnya mereka menghakimi aku seolah tukang cari sensasi. Padahal alam semesta tidak mungkin berbohong dalam bersaksi. Mereka hanya ingin menutupi kesalahan saja, agar ibu Ima tidak marah padanya.
Hari-hari terus berlalu, tibalah hari ini perpisahan sekolah. Aku sengaja singgah dulu, ke kosan teman-temanku. Mereka semua sedang bersiap, dan aku menunggu di luar. Aku berbicara sedikit dengan Surti.
"Surti, Eni itu saudara sepupu Rulif 'kan?" tanyaku lirih.
"Eh bukan Firsya, mereka itu pacaran." jawab Surti, sambil tersenyum.
Aku hampir tak percaya. "Tapi, Aluna bilang padaku mereka sepupu."
"Tidak Firsya, mereka itu pacaran. Lihatlah, sudah sedekat itu." jawabnya.
Aku tersenyum dan hanya mengganggukan kepala saja. Sabar, sabar, sebentar lagi sudah tidak melihatnya juga batinku. Kami semua pergi ke ruangan, yang menjadi pelepasan siswa dan siswi. Semua orang sudah rapi, terlihat cantik bagi yang perempuan. Pagi itu pakaian terlihat beragam, ada yang memakai baju brokat dan kebaya. Hari itu adalah hari perpisahan, antara Firsya dan Rulif.
Kami mengabadikan momen perpisahan, agar ada yang dapat dikenang. Meski hanya teman-teman yang biasa dekat denganku saja. Aku tidak bisa menerima, saat diriku harus foto bareng. Aku tidak mengenang sama sekali kebersamaan, namun mengingat masih ada yang pernah baik padaku. Di antara mereka tidak semuanya jahat, makanya aku enggan untuk marah di depan yang tak bersalah. Takut bila ada yang salah makna, dengan kata mereka.
Selesai sudah, acara perpisahan. Aku mengendarai motor di jalan, sambil menangis tersedu-sedu. Kenapa aku harus tidak menikmati masa sekolahku, kenapa aku harus mendapatkan bagian bertemu Sakim dan Ido. Aku benar-benar tidak ikhlas, dengan apa yang telah mereka perbuat.
Aku kembali ke rumah, dengan air mata yang sudah mengering di pipi. Semua sudah berakhir, tinggal menunggu berkas SKHU mendarat padaku. Berencana ingin kerja, hidup mandiri seorang diri. Semuanya sudah terlintas dalam benak, namun manusia hanya bisa berencana.
Aku mengambil SKHU, ketika saatnya tiba. Pergi bersama Aluna, Atul, dan Zian adiknya Atul. Sampai di sekolah, aku mendapatkan tatapan tidak enak. Pak Mizi sengaja ingin mengejekku lagi. Oh tenang, sebenarnya aku bukanlah orang yang terlalu tersinggung. Tapi aku orang yang bisa membedakan, mana yang bercanda dan mana yang menghina.
__ADS_1
"Untuk apa ngambil SKHU?" tanyanya, sambil memiringkan sudut bibirnya.
"Untuk kerja Pak." Aku menjawab datar.
"Kau siapa?" tanyanya.
"Firsya Pak, masak lupa." Atul yang menjawab, sambil tersenyum.
Mereka mengira guru tersebut hanya bercanda, padahal mereka tidak tahu sudah berapa kali dia meremehkan aku. Sudah berapa kali aku kerap dihina di kelas, meski dengan kalimat sindiran halus.
Aku tidak bisa berkata-kata, aku tahan supaya tidak menangis. Aku tidak ingin dikatai cengeng, atau bila tidak dia akan lebih menghinaku. Menganggap aku lemah, dan tidak bisa membela diri sendiri.
Aku bukan tidak bisa mengamuk, demi sebuah harga diri. Tapi iya kalau aku didengarkan, kalau tidak sama saja sia-sia. Pak Mizi terlihat sekali ingin menang sendiri, setiap aku ingin menjelaskan dia sudah memotong saja. Seolah dia tidak memberi kesempatan, untuk diriku menjelaskan gejolak dalam dada. Hanya ada hati yang tidak akan pernah mau, kembali ke sekolah lagi.
"Firsya, kamu sombong sekali. Salaman dong sama Ibu Ima." ujar pak Mizi.
Aku diam saja, harusnya dia tahu. Di sini aku korban, yang sudah berlumuran darah. Namun masih saja memilih makan hati, ketimbang menegakkan keadilan yang sesungguhnya. Berdebat dengan orang seperti mereka, akan membuat kita kena sasaran saja.
Aku bersalaman dengan ibu Ima, tanpa mengucapkan apapun. Hanya pergi setelah puas dinyinyiri oleh pak Mizi. Kalau tidak mengingat dia guru, mungkin sudah aku hempaskan ucapannya.
Kita tidak pernah tahu ke depannya, nasib akan seperti apa. Tidak tahu bahwa di luar sana, mungkin akan sangat sulit mencari kerja. Tidak cukup perjuangan interview sekali, langsung mendapatkan panggilan kerja. Itu yang aku alami, setelah beberapa bulan kemudian.
__ADS_1
Aku sempat sedih, namun tidak ingin berkecil hati. Biarlah yang berada di atas, menganggap diriku kecil. Pada hakikatnya, semua manusia itu memang kecil. Yang paling besar di dunia ini, hanyalah Allah Swt.