Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Mesin Capit Boneka


__ADS_3

Yunah membawa gelas berisi pop ice, lalu memberikannya pada Hasbi dan Aqila. Dia tega membiarkan Fiha, tidak mendapatkan perlakuan yang sama.


"Bu, apa harus seperti ini Ibu bersikap?" tanya Hasbi.


"Bukankah dia sudah terbiasa, biarkan saja dia menerimanya. Lagipula, dia bisa minta Ali untuk membuatkannya." jawab Yunah datar.


"Ibu bukan seperti yang aku kenal, Ibu sudah banyak berubah. Apa harus membalas seseorang yang menyakiti, dengan perbuatan yang lebih menyakiti lagi." Hasbi menegurnya.


"Apa Fiha sepenting itu, sampai kamu mengabaikan orangtua kamu sendiri." jawab Yunah.


"Aku gak mengabaikan Ibu, aku cuma ingin kalian akur." ucap Hasbi jujur.


"Sudahlah, Ibu capek berdebat sama kamu." Yunah segera meninggalkan Hasbi.


Fiha memegang lengan Hasbi. "Sayang, kamu jangan marah sama Ibu. Aku bisa buat sendiri kok."


"Biar aku yang buatin untuk kamu, oke?" jawab Hasbi, sengaja menawarkan niat baiknya.


"Hasbi, pekerjaan kamu masih banyak. Lebih baik, Fiha minum es punya aku saja. Nanti, aku bisa bikin sendiri kok." sahut Aqila.


"Gak usah Aqila, kamu minum aja. Jangan sungkan iya, aku sudah senang dengan kedatangan kamu. Biasanya, kamu tidak pernah dekat kami lagi." jawab Fiha.


Aqila menyeruput air es tersebut, dengan menggunakan pipet yang telah disediakan. Sementara Hasbi sengaja mengajak Fiha, untuk minum berdua dengannya. Biar terkesan lebih romantis, daripada Hasbi minum sendiri.


"Sedang mencari cara, biar kelihatan suami pengertian." ledek Fiha.


Hasbi tersenyum mendengar candaannya. "Minum satu gelas berdua itu lebih asyik sayang. Kita seperti melengkapi, kekurangan satu sama lain."

__ADS_1


Fiha menyentil hidungnya. "Mulai lagi nih!"


Hasbi mencubit hidung Fiha, sambil tertawa kecil. "Memangnya kenapa, bila mau mulai lagi. Kita memang tiada akhir, karena selalu dimulai dari awal."


Sedang asyik bercanda menikmati kebersamaan, namun malah Fiha tiba-tiba merasa sakit. Dia sudah nyengir saja, karena menahannya lumayan lama. Namun, tidak ingin menunjukkan dengan terang-terangan.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Hasbi.


"Aku gak apa-apa kok." jawab Fiha.


"Benar nih, jangan bohong loh sayangku." Hasbi masih sempat bercanda.


"Hahah... sebenarnya aku mengerjai kamu. Aku mau lihat, kamu bakalan panik gak." Fiha pura-pura tertawa.


Pada malam harinya, Hasbi dan Fiha jalan-jalan. Hitung-hitung liburan, setelah mengendap terkurung tugas. Fiha dan Hasbi melakukan kencan suami istri, supaya bisa menghabiskan waktu berdua di luaran rumah.


"Aku akan mengambilnya untukmu, tunggu sebentar sayangku." jawab Hasbi.


"Huh, jangan lama-lama iya." ucap Fiha manja.


"Iya sayang." jawab Hasbi.


Hasbi memencet tombol mesin pencapit boneka, hingga lima kelinci berhasil dia dapatkan.


"Sayang, aku 'kan cuma minta satu." ucap Fiha.


"Satunya buat aku, dan tiganya buat anak kita." Hasbi tersenyum mengembang.

__ADS_1


Fiha hanya menarik sedikit sudut bibirnya, dengan wajah yang pucat samar. Dia sengaja menggunakan lipstik sedikit cerah, agar tidak terlihat bahwa bibirnya pucat.


"Aku berharap, kita bisa mendidik anak-anak bersama." ujar Fiha.


"Iya sayang, aku juga." jawab Hasbi.


Mereka saling merangkul satu sama lain, dengan kaki yang terus berjalan. Fiha tersenyum atas kebahagiaan, yang Tuhan berikan. Mungkin bisa sedikit lama, ataupun sedikit lagi. Tidak ada yang pernah tahu, kapan manusia itu akan tinggal nama. Yang jelas lakukan tindakan dengan sebaik-baiknya, untuk bekal kehidupan setelah kematian.


Mereka sudah sampai rumah, lalu bergegas ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Setelah selesai wudhu, Fiha dan Hasbi segera merebahkan tubuh. Hanya Hasbi saja yang dapat tidur, sedangkan Fiha menahan sakitnya secara diam-diam. Setengah malam pun, tak dapat membuatnya tidur.


Keesokan harinya, Fiha salat Subuh bersama Hasbi. Lalu setelahnya bersiap-siap pergi ke kampus. Sebelum pergi, mereka sarapan pagi bersama. Yunah masih diam saja, tidak bicara banyak seperti dulu. Bahkan masih cuek, tatkala Hasbi dan Fiha berpamitan.


"Fiha, pokoknya kamu harus tenang dan tegar. Aku yakin, Ibu tuh sayang sama kamu. Ini cuma salah paham, dan hanya soal waktu aja." ujar Hasbi.


"Iya Hasbi, gak apa-apa." jawab Fiha.


Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai. Aqila menghampiri Hasbi, sambil membawa kertas.


"Hasbi, kamu disuruh Pak rektor mengerjakan ini. Kalau sudah selesai, silakan bawa ke ruangannya." ujar Aqila.


"Iya Aqila, terima kasih." jawab Hasbi.


"Sama-sama." ujarnya.


Aqila melihat Fiha sekilas sambil tersenyum, lalu mendapat balasan serupa dari Fiha. Aqila segera pergi, setelah berpamitan dengan mereka.


Bruk!

__ADS_1


Ali tidak sengaja menabrak Aqila, karena sedang memikirkan calon pendonor yang ditemuinya. Bagaimana Fiha bisa menjalankan operasi, bila tidak ada donor jantung yang cocok untuknya.


__ADS_2