Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Pacaran Setelah Menikah


__ADS_3

Halifah sekarang lebih memperhatikan Filda, daripada yang sebelumnya. Sejak kejadian dia terjebak di dalam lift, telah membuat Halifah merasa cemas.


"Filda, kamu tidak apa-apa 'kan?" tanya Halifah.


"Aku tidak apa-apa Ma, 'kan ada Pak duda." Filda menahan tawa.


"Kamu kalau mau cekikikan, gak usah ditahan gitu. Kelihatan jelek tau." gerutu Halifah.


"Aku lucu, waktu Mama bilang terimakasih pada Pak duda." jawab Filda.


"Kalau tidak karena terpaksa, Mama juga gak akan mau." ucap Halifah.


"Masak si Ma, Pak duda ganteng loh." goda Filda.


”Duda pilihan Filda, pasti akan menjadi milik Mama.” batin Filda.


Fiha dan Hasbi pulang ke toko, saat pelajaran kuliah telah usai. Yunah senang melihatnya, tapi ada sedih juga. Biasanya, dia melihat Aqila ada di sana.


"Hasbi, Fiha, kalian makan dulu iya." ucap Yunah.


"Iya Bu." jawab keduanya.


Hasbi mengusap lembut kepala Fiha, yang terbalut jilbab. Fiha segera memeluk Hasbi, lalu menggandeng tangannya. Mereka berdua segera ke ruang istirahat.


"Sayang, suapi aku makan." pinta Fiha, dengan manja.


"Iya sayang, kamu suapi aku juga." jawab Hasbi.


Hasbi dan Fiha berdua saling suap-suapan, sampai Yunah lewat di depan mereka. Fiha menundukkan kepalanya, merasa sedikit malu.

__ADS_1


"Hasbi, aku merasa malu banget sama Ibu." ucap Fiha.


"Kamu menyuapi suami sendiri malu, tapi genit dengan sugar Daddy berani." ledek Hasbi.


"Maaf deh sayang, aku 'kan gak ada uang." ujar Fiha.


"Kalau gak ada uang, kamu bisa kerja. Tapi, jangan pernah lagi mengorbankan diri kamu. Aku bicara seperti ini, karena aku cinta sama kamu." Hasbi tersenyum tulus padanya.


Setelah usai makan, Hasbi dan Fiha menjahit baju. Mereka melakukannya berdua, karena Fiha baru belajar. Dia tidak akan bisa mengerjakannya sendiri.


"Sayang, kalau beri warna ke bajunya pakai apa?" tanya Fiha.


"Pakai sablon sayang." jawab Hasbi.


"Sayang, aku mau minta gendong." pinta Fiha.


"Kamu ini iya manja banget. Tapi, boleh juga tuh permintaanmu." jawab Hasbi.


"Cie, kalian berdua romantis sekali." ujarnya.


"Iya dong, kami 'kan pengantin baru." Fiha bercanda.


"Cepat nikah sana, biar bisa kayak mereka." ujar teman di sebelahnya.


"Iya, aku juga sebentar lagi lamaran." jawabnya.


Fiha dan Hasbi tersenyum, memandang mereka. Lucu juga ketika mereka merasa iri, sudah seperti melihat drama saja.


"Sayang, kalau Aqila suka sama kamu, apa kamu menyesal menikah dengan aku?" tanya Fiha.

__ADS_1


"Darimana kamu bisa punya pemikiran seperti itu." jawab Hasbi.


"Aku hanya sembarang bicara, seperti orang yang mengarang cerita. Kamu tinggal jawab aja, gak usah mikir lagi." ujar Fiha.


"Aku gak menyesal sama kamu, niatnya 'kan hanya satu. Menikahi dirimu karena ingin menggapai Ridha Allah." jawab Hasbi.


Fiha memeluk Hasbi, begitupun sebaliknya. Akhirnya, Hasbi dan Fiha saling berpelukan.


Sementara di sisi lain, Aqila menulis dalam buku hariannya. Dia menulis tentang ungkapan hatinya. Tentang kisahnya bersama Hasbi, yang cukup sampai di sini. Tentang cintanya yang sudah putus, sebelum sempat bersatu.


Mungkin, aku bagian air surut saat air pasang. Seperti aku yang harus menghilang, karena dia telah kembali. Apa jika aku yang ada di kehidupan dirimu yang dulu, maka kau akan bersama dengan diriku di masa depan. Nyatanya sekarang kau menikah, padahal awalnya kau bilang tidak terburu. Sebenarnya aku tahu kau menginginkan pernikahan, tapi kau sengaja menunggu sampai dia datang. Kau memang tidak ingin bersamaku, sehingga mencari celah untuk tidak menjadi tawanan.


Setelah selesai menulis, Aqila mengingat tawaran Hasbi dan Fiha. Dirinya berpikir untuk bergabung kembali, supaya Fiha mengira Aqila sudah mengikhlaskan. Namun bukan sekarang saatnya, mungkin menunggu waktu yang tepat.


Keesokan harinya, Aqila pergi ke kampus. Fiha menghampiri Aqila yang sedang menyendiri.


"Aqila, kamu kelihatannya lancar banget baca Alquran. Mau gak kalau mengajari aku?" tanya Fiha.


"Kalau aku si mau aja, tapi bukankah ada Hasbi yang mengajarimu." jawab Aqila.


"Iya, tapi aku mau juga diajari sama kamu." ucap Fiha.


"Iya sudah, ayo kita mulai." jawab Aqila.


”Aqila ini cantik, baik, shalihah, tapi kenapa Hasbi gak suka sama dia. Meskipun aku tahu, awalnya dia menyebalkan. Aku bingung, dia tetap menunggu aku. Padahal selama ini, ada seseorang di sisinya. Mungkin Tuhan kirim Aqila, untuk menemani Hasbi sementara waktu.” batin Fiha.


Aqila mengajari Fiha dengan telaten, karena Fiha belum fasih. Dia membaca masih dengan terbata-bata, namun terlihat bahwa dia Istiqomah. Setelah selesai mengaji, mereka berdua menutup kitab Al-Quran.


"Aqila, kalau tidak ada Hasbi pasti kita berdua bisa menjadi sahabat." ucap Fiha.

__ADS_1


Aqila memegang tangan Fiha. "Ada atau tiada Hasbi, kita berdua bisa bersahabat. Hanya saja aku butuh waktu, untuk terbiasa dengan semuanya.


__ADS_2