Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Mencari Bukti


__ADS_3

Pukul 22.00. Fiha keluar lewat jendela, secara diam-diam. Dia ingin menyelidiki, kelicikan om Spanyol. Ali sudah menunggunya sejak tadi, namun enggan untuk mengetuk jendela.


"Apa Hasbi tahu, kalau kamu keluar?" tanya Ali.


"Gak kok, kamu tenang aja." jawab Fiha.


"Kamu nanti siap-siap untuk merekamnya. Aku akan masuk ke dalam bar, untuk memancing dia mengakui perbuatannya." Ali menerangkan rencana, yang telah diaturnya.


"Iya, kita saling bekerjasama saja." jawab Fiha.


Ali mulai menutup wajahnya, dengan menggunakan masker. Begitupun dengan Fiha, yang menutupi wajahnya menggunakan masker. Dia memberi sedikit jarak dengan Ali, agar tidak mengundang kecurigaan.


"Boleh ikut duduk." ujar Ali.


"Silahkan, ayo kita minum bersama." jawab om Spanyol.


"Apa tidak mengganggu waktunya?" tanya Ali, berpura-pura.


"Tentu saja tidak, semakin banyak kawan semakin lebih ramai." jawabnya, dengan suara khas orang mabuk.


Ali tersenyum lalu duduk di sebelahnya, sedangkan Fiha bersiap untuk merekam. Ali mulai ingin melemparkan pertanyaan, namun om Spanyol menyuruhnya untuk melepas masker.


"Sebaiknya lepaskan masker mu anak muda, tidak mungkin 'kan minum sambil menggunakan masker." ujar om Spanyol.


"Aku tidak ikut minum, aku hanya ingin duduk." jawab Ali.


"Maka, kau terusir untuk bergabung bersama kami. Kecuali, bila kau mau ikut berjudi." tawarnya.

__ADS_1


"Aku akan minum bir tersebut, namun bila Om mau menjawab pertanyaan ku." jawab Ali.


Om Spanyol hanya manggut-manggut saja, sampai Ali membuka percakapan yang membuatnya terkejut. Kenapa bocah yang baru datang itu, menanyakan perihal Fiha perempuan kesayangannya tersebut.


"Kau kenal dengan perempuan itu?" tanyanya.


"Iya, aku sangat membencinya. Dia mengambil apa yang aku inginkan." jawab Ali.


"Aku pun sama, begitu membencinya. Rasanya, ingin melihatnya segera hancur." Om Spanyol tertawa kuat.


"Bukankah, Om sudah menghancurkan hidupnya. Semua orang mengira, anak dalam perut Fiha adalah anak anda. Belum lagi dia dituduh selingkuh, dengan teman satu kampusnya." jawab Ali.


"Hahah... itu memang perbuatan diriku." ucap om Spanyol.


"Kerja anda luar biasa." puji Ali.


"Aku sudah menjawab pertanyaan mu, sekarang minumlah bersamaku." ajaknya.


Fiha mengikuti langkah kaki Ali, yang sudah berlari duluan. Sampai di depan pintu, Ali menunggu Fiha yang berjalan lambat. Sepertinya, sakit Fiha kambuh lagi.


"Ayo pergi, sebelum dia mendapatkan kita." ajak Fiha.


"Iya, kamu duluan saja." jawab Ali.


Fiha segera berlari, dan Ali menghadang penjaga bar tersebut. Dia tidak akan membiarkan, mereka menangkap Fiha. Ali dikeroyok oleh mereka, hingga wajahnya babak belur.


Bulan-bulan berlalu, masih saja Fiha menyembunyikan perasaannya. Dia tidak ingin, bila Hasbi mengetahui kerapuhannya.

__ADS_1


"Kalau kamu selalu diam-diam bersama pria lain, Hasbi juga berhak untuk selingkuh. Apa perlu, dia menikah lagi. Ibu hanya merasa kasian, dia tidak mendapat perhatian dari istrinya. Kesehariannya cuma keluyuran, dan mencari alasan gak jelas." ujar Yunah spontan.


"Aku tahu Bu, aku sadar diri. Kalau Hasbi mau menikah sama Aqila, silahkan Bu. Aku tidak akan melarangnya ataupun mengekang, karena aku juga tidak akan bertahan lama lagi." jawab Fiha.


"Oh, kamu bilang tidak lama lagi, karena kamu berniat cerai dari Hasbi. Istri macam apa kamu, yang datang hanya saat butuh." ucap Yunah.


"Bu, jangan kasar seperti itu. Nanti hatinya merasa tidak nyaman, dan akan berpengaruh pada cucu Ibu." Hasbi yang menjawab.


"Dia tidak menganggap kita ada Hasbi, padahal kita tidak melupakan Fiha setelah kepergiannya. Selama ini kita menunggunya, agar bisa bersama seperti dulu. Saat Fiha kembali, kita sangat senang. Maka dari itu, Ibu menyuruh kamu menikah dengan Fiha." ujar Yunah.


"Ibu, jangan marah-marah iya. Tolong bersabar sedikit lagi, meski sebenarnya sulit." jawab Hasbi.


Yunah tidak berkata-kata lagi, dia segera melangkahkan kakinya menjauhi Fiha. Wanita itu mematung, untuk segala rasa yang bercampur aduk di dalam hati.


Huek! Huek!


Fiha segera berlari ke arah kamar mandi, untuk memuntahkan cairan bening dari mulutnya. Kali ini, dia benar-benar merasa lelah secara dadakan. Harap maklum, usia kandungannya juga bertambah.


"Fiha, kamu istirahat aja iya. Jangan capek-capek, biar aku yang ngerjain semuanya." ujar Hasbi.


"Iya Hasbi, makasih iya." jawab Fiha.


Hasbi mengusap lembut perut Fiha, sambil mencium pipi kanan dan kirinya. Fiha tersenyum, karena merasakan kasih sayang Hasbi seperti dulu.


"Anak Ayah, kamu jangan nakal iya." Hasbi berbicara seperti anak kecil.


Fiha tertawa lirih. "Iya Ayah, aku akan patuh."

__ADS_1


"Bunda sudah tertawa lagi, bunda tidak sedih lagi." ujar Hasbi.


"Ini semua karena Allah, dan juga karena Ayah kamu." jawab Fiha.


__ADS_2