
"Hasbi, sekarang bagaimana keadaan keluargamu?" tanya Ali.
"Seperti yang kau lihat, alhamdulillah aku baik-baik saja." jawab Hasbi.
"Kalau kau menemui kesulitan, kau jangan sungkan meminta tolong." ucap Ali.
"Iya, tenang saja. Insyaa Allah!" jawab Hasbi.
"Kalau gitu, besok kita ke rumah Filda." ujar Ali.
"Secepat itu, ternyata kau ingin menikahinya." jawab Hasbi.
Keesokan harinya, Ali ditemani Hasbi ke rumah Filda. Bersamaan dengan Fiha juga, yang ikut menemaninya. Kali ini mereka berdua menggiring teman, untuk naik ke pelaminan. Meski sudah kepala tiga, namun Ali juga butuh pendamping. Yang namanya hidup, tidak selamanya nyaman sendirian. Ada kalanya, ingin membina sebuah keluarga.
"Ada apa ini, tumben datang beramai-ramai?" tanya Qalam.
"Seperti ini Paman, kedatanganku ke sini untuk melamar Filda." jawab Ali.
"Masyaa Allah, kalau hal tersebut, kita putuskan pada Filda saja." ujar Qalam.
"Baiklah Paman." jawab Ali.
Qalam berpamitan sejenak, untuk memanggil Filda. Dia mengetuk pintu kamar putrinya, lalu berbicara sedikit. Filda keluar dari kamar, menuju ke ruang tamu.
"Filda, ada pria yang melamarmu, apa kau mau menerimanya?" tanya Qalam.
"Iya Ayah, aku mau." Filda menjawab, sambil tersenyum mengembang.
__ADS_1
Akhirnya Ali akan segera mempunyai istri, dan mengakhiri masa lajangnya yang sudah lama. Tidak menyangka, bahwa akan berjodoh dengan Filda. Gadis itu dulu merupakan bocah, yang dianggap seperti adik sendiri.
Keesokan harinya, Fiha pergi pagi-pagi sekali. Hari ini dia akan menyerahkan gambar desain merek jajanan, yang sempat dibahas waktu itu.
"Sayang, sampai jumpa makan siang nanti." ujar Hasbi.
"Iya sayang, sampai jumpa kembali." jawab Fiha.
"Kamu hati-hati dimarahi bos iya." ucap Hasbi.
"Iya, kamu juga." jawab Fiha.
Setelah saling melambaikan tangan, mereka pergi ke ruangan masing-masing. Pastinya mengerjakan pekerjaan, yang belum diselesaikan. Tris membawa kopi untuk dinikmati, sambil mengerjakan tugasnya.
"Eh Fiha, lihat dong gambarnya." ujar Tris.
"Seram juga ini gambar, tak terbayangkan jika aku di dalamnya." Tris bergidik ngeri.
"Nah iya, makanya ada desain untuk makanan penutup." Fiha memperlihatkan lukisan sebuah cahaya, di taman nan indah.
"Jadi itu disebut Taubat level 30?" Tris menyentil kertas yang dipegang Fiha.
Fiha mengangguk sambil tersenyum. "Tepatnya begitu si, sangat cocok dan istimewa."
Fiha berada di ruangan bos, setelah langkah kakinya yang melebihi kucing jalan santai. Bos dengan usilnya membuat lelucon, menempelkan kaca pembesar pada kertas.
"Apa kurang besar gambarnya?" Fiha refleks bertanya.
__ADS_1
"Sebenarnya cukup untuk dilihat sekilas, namun agar lebih jelas aku membesarkannya." jawab bos.
Tiba-tiba pintu terbuka, ternyata itu manajer Gus. Seperti anak kecil yang aktif, menyelaraskan gerak langkah kaki. Bos mau saja meladeninya berjoget, lalu tangan mereka kompakan tos di udara.
"Terobosan baru, dari karyawati kita yang keren." ujar bos.
"Huahahah..." Tertawa terpingkal-pingkal, tidak mempedulikan tatapan heran Fiha.
"Eh Fiha, mengapa kau tidak ikut heboh?" tanya bos.
"Tidak apa-apa, aku ingin biasa-biasa saja." jawab Fiha seadanya. "Jika sudah selesai, dan tidak ada yang mau dibicarakan. Aku ingin keluar dari ruangan ini." Memilih diri sendiri untuk berpamitan, menatap kebebasan ruangan kerja sendiri.
"Silakan, pergi dan kerjakan tugas wajibmu." Bos terasa ingin terbang di angkasa, baru kali ini ada karyawati yang bertanggungjawab.
Di sisi lain juga terlihat Syansa, yang menggerakkan gagang berwarna putih. Terus saja mempertahankan bundaran pelangi, yang berada dalam mulut. Lidahnya lincah terus mengemut, hingga manisnya terasa berkali-kali.
Kichi tidak menepuk teman di sebelahnya, juga tidak membuyarkan apa yang ada di lamunannya. Sekarang matanya tertuju pada Aliya, yang berada di kursi lapangan. Dia sibuk memberikan makanan pada Umar, sambil menyuruh untuk membuka mulut. Sesekali tertawa, tatkala tangannya menyuapi.
"Eh, kamu suka sama Umar iya?" tanya Kichi dengan berani, karena dia sangat penasaran.
"Oh tidak, sungguh angin apa yang membawamu hingga menyimpulkan begitu." jawab Syansa dengan mengelak, namun masih terlihat santai.
Kichi masih menerka, sembari melihat mentari terik. Kini pantulan cahayanya berpindah ke arah lengan baju putih abu-abu mereka. "Bukan hanya sekali, tapi kamu sering memperhatikan mereka."
"Sudah lama kami bersahabat, wajar saja memperhatikan satu sama lain." jelas Syansa.
Dengan bawa-bawa embel sahabat, akan mengurangi rasa curiga teman-temannya.
__ADS_1
Masih tidak percaya, karena hatinya sendiri berkata lain. "Ah tidak, kamu sedang mencari alasan." Terus saja menerka, karena terlalu penasaran. Mungkin langit ketujuh adalah tandingan, ketinggian rasa ingin tahu dalam diri Kichi. "Sudah, aku mengaku kalah telak, kamu memang pandai menyembunyikan perasaan." Kichi mengoceh dengan seenaknya, tidak peduli reaksi penolakan Syansa.