
Hasbi dan Fiha berencana, akan melamar kerja bersama. Mereka ingin menambah perekonomian keluarga, yang sangat berkurang. Bukannya usaha butik itu tidak cukup untuk makan, namun usaha itu untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
"Sayang, kalau kita sudah mengumpulkan uang. Aku ingin, kita membeli kebun." ujar Fiha.
"Iya, menjadi petani bukanlah hal yang berat. Apalagi, dulu Ibu suka bercocok tanam. Kita bisa meminta dia mengajari." jawab Hasbi.
"Iya sayang, aku punya buku tutorialnya." ujar Fiha.
"Oh, yang berisi cara menanam bunga mawar itu iya." Hasbi mengingat buku itu.
"Benar sekali, yang itu isinya ." ucap Fiha.
"Iya sudah, sekarang ayo berangkat." jawab Hasbi.
Keesokan paginya mereka mulai bekerja, setelah diinterview secara langsung pada hari kemarin.
"Sayang, sampai berjumpa pada jam istirahat." ujar Fiha.
"Iya sayang." jawab Hasbi.
Fiha masuk ke ruangan kerjanya sendiri, lalu mendapati seorang perempuan tampak kebingungan. Fiha menyapa duluan, untuk menanyakan apa yang dia cari.
"Apa yang hilang?" tanya Fiha.
"Sebuah kartu nama, itu kode untuk masuk ruangan rahasia." jawabnya.
"Iya sudah, biar aku bantu cariin." tawar Fiha.
"Boleh, boleh, terima kasih." jawabnya.
Mereka berdua mencari ke bawah-bawah meja. Bahkan tidak enggan, untuk mengecek tong sampah. Mereka juga membongkar kertas-kertas, yang sudah tersusun rapi pada tempatnya. Fiha juga mengangkat semua kursi, untuk memastikan keberadaan benda tersebut.
"Kamu terakhir kali jalan dimana?" tanya Fiha.
__ADS_1
"Aku cuma jalan ke kantin saja." jawabnya.
"Siapa namamu?" tanya Fiha.
"Namaku Tris." jawabnya.
Mereka pun pergi ke kantin, yang ada di sekitar kantor. Demi menemukan benda, yang membuat mereka gelisah. Sudah setengah jam, akhirnya Fiha menemukanya di dalam mangkuk kotor.
"Ini, kamu sendiri yang meletakkannya." Fiha mengangkatnya ke atas udara.
"Sepertinya tidak mungkin, aku meletakkan pada kuah makanan. Kelihatannya ini tidak sengaja terjatuh." jawab Tris.
Tris menarik tangan Fiha, supaya perempuan itu berjalan mengikutinya. Tris mengalungkan papan nama, pada lehernya.
"Kamu mau mengajak aku kemana?" tanya Fiha.
"Temani aku ke ruangan rahasia perusahaan." jawab Tris.
"Yuk, kita ke arah jajaran lemari." ajak Tris.
"Gak usahlah, nanti ada barang yang hilang." jawab Fiha.
"Hih gak lah Fiha, kamu jangan parno gitu." ujar Tris.
"Hmmm... baiklah." jawab Fiha.
Mereka berjalan menuju ke arah lemari, lalu mengambil beberapa kertas. Setelah selesai ditumpuk dalam map, mereka membawanya ke ruangan depan. Mereka mengerjakan laporan-laporan kantor, yang perlu dicari sumber aliran dananya.
"Fiha, kamu tahu gak si bagian yang ini." ujar Tris.
"Oh, seperti ini cara mengerjakannya." Fiha mulai menorehkan tinta di kertas putih.
Tris akhirnya dapat memahami, yang Fiha jelaskan padanya. Keduanya akhirnya bisa mengerjakan sendiri-sendiri. Saat jam istirahat tiba, Hasbi menghampiri Fiha.
__ADS_1
"Fiha, ayo kita makan siang bersama." ajak Hasbi.
"Iya sayang." jawab Fiha.
Hasbi dan Fiha melangkahkan kakinya, menuju ke kedai bakso di seberang jalan. Suasana siang itu, banyak angin sepoi-sepoi. Mereka sangat menikmati, rasanya makan berdua. Romantis seperti tanpa beban apapun juga, meski sebenarnya ada.
Syansa, Aliya, dan Umar pergi ke sebuah rumah pohon. Syansa hanya bermain ponsel, sambil mencari-cari surah Al-Qur'an di internet. Dia ingin mengunduhnya, agar tersimpan di dalam ponsel. Bisa mendengarkannya ketika hendak tidur, atau aktivitas lainnya.
Aliya menunjuk dua burung terbang. "Umar lihat deh, burung itu bagus sekali. Pokoknya seperti saat kita kecil, sering bermain bersama-sama."
"Iya benar, jadi rindu saat itu." jawab Umar.
"Saat dewasa, hidup tidak akan sebahagia masa anak-anak. Banyak beban yang semakin berat, namun harus tetap dipikul." sahut Syansa.
"Iya, kamu benar sekali." jawab Umar.
Mereka tersenyum, meski tidak tahu perasaan masing-masing. Sebenarnya Syansa senang sahabatnya bahagia, hanya saja bukan dia yang disukai Umar. Pria itu selalu bercerita, bahwa dia sangat suka sama Aliya.
"Pulang jam berapa?" tanya Umar.
"Aku si setengah jam lagi." jawab Aliya.
"Kalau kamu Syansa?" tanya Umar lagi.
"Aku nurut aja, kapan kalian akan meninggalkan tempat ini." jawab Syansa.
Saat Fiha dan Hasbi telah kembali, rupanya bersamaan dengan Syansa juga. Fiha dan Hasbi masih ada pekerjaan kantor, yang dibawa pulang ke rumah. Mereka akan mengerjakannya, tatkala waktu luang ada.
"Syansa, kamu sudah pulang dari tadi?" tanya Fiha.
"Iya Bunda, cuma tadi pergi sama Umar dan Aliya." jawab Syansa.
Syansa melangkahkan kakinya, berjalan menuju kamar. Kini dia mulai menggambar, apapun yang keluar dari dalam imajinasinya.
__ADS_1