
Sesuai dengan rencana, Fiha dan Hasbi melakukan kencan. Mereka jalan berduaan, menghabiskan waktu pada restoran besar. Mereka telah membawa buku dan pena, sebagai persiapan alat mencatat kegiatan.
"Sayang, beruntung sekali kita. Blind date kali ini, bos yang tanggung biayanya." ujar Fiha.
"Iya sayang, itu artinya rezeki." jawab Hasbi.
"Bila bos tidak memberikan tugas, kita bisa bayar sendiri. Lagipula kita juga punya gaji, meski tidak sebanyak uang bos." Fiha nyengir.
"Iya sayang, kamu benar." jawab Hasbi.
Tiba-tiba saja, ada orang yang membawa kumpulan balon. Tidak ketinggalan pula, setumpuk bunga dan cemilan ringan.
"Fiha, kamu mau bunga tidak?" tanya Hasbi.
"Untuk apa memberi aku bunga, aku 'kan tidak suka bunga pajangan." jawab Fiha.
"Kalau gitu, kita beli cemilan nya saja." ujar Hasbi.
"Iya sayang." jawab Fiha.
Hasbi membeli cemilan, lumayan banyak. Sampai tangannya menggenggam produk, dengan merek perusahaan tempatnya bekerja.
"Kentang goreng dikasih saus ini, apa paling banyak dibeli anak muda?" tanya Hasbi, pada penjual tersebut.
"Benar, setiap kali selalu habis." jawabnya.
"Berarti sangat laris manis iya." ucap Hasbi.
"Tentu saja, kalau tidak mana mungkin aku bisa berkeliaran. Berjualan dalam restoran ini, tentu menggunakan uang sewa." jawabnya jujur.
Hasbi dan Fiha melihat cahaya langit berbintang, saat pulang setelah kencan. Hasbi dan Fiha melangkahkan kakinya, lalu berdiri di tepi jembatan kokoh.
__ADS_1
Keesokan harinya, Fiha terbangun dari tidurnya. Dia melihat sandalnya, yang masih utuh. Tidak pula berpindah dari kaki, pertanda semalam langsung tidur saja.
"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Hasbi.
"Iya sayang, kamu lihat kelakuan kita berdua. Pulang kencan langsung tertidur, karena begitu lelahnya beraktivitas." jawab Fiha.
"Iya sayang, semalam kita tidak mencuci muka terlebih dulu." ujar Hasbi.
"Padahal harusnya si tidak melupakannya." jawab Fiha.
Hasbi dan Fiha memasuki kamar mandi, untuk segera membersihkan diri. Yunah dan Syansa sudah menunggu mereka, agar sarapan pagi bersama. Hasbi dan Fiha keluar rumah, lalu pergi menuju kantor.
Tris melambai-lambaikan tangannya pada Fiha. "Di mana iya, kita harus mencari kopi berbalut coklat."
"Untuk apa?" Fiha malah bingung.
"Ada manajer baru, seram amat wajahnya." ujar Tris.
"Iya, siapa? Aku 'kan tidak tahu." jawab Fiha.
"Baiklah, ayo cepat sedikit." Fiha segera berjalan duluan, setelah melambaikan tangan pada Hasbi.
Tris membeli semua aneka rasa kopi, supaya tidak salah-salah lagi. Kalau dia beli satu-satu, bisa saja akan ada kekeliruan.
"Apa perusahaan akan jadi tempat pesta kopi?" canda Fiha.
"Bisa jadi si, karena ada manajer baru." jawab Tris.
Mereka berdua masuk ruangan manajer baru, dengan membawakan gelas besar. Pria muda itu melihat Fiha sekilas, lalu beralih ke gelas yang ada di tangan Tris.
"Kenapa kau membuat kopi seperti ini?" tanyanya, dengan datar.
__ADS_1
"Karena dengan kopi ini, Bapak akan merasa segar." jawab Tris.
"Omong kosong macam apa ini, aku meminta buatkan kopi coklat." ujarnya tegas.
"Oh iya Pak, aku tidak tahu. Maaf!" jawab Tris.
"Masa kau tidak tahu, aku 'kan sudah menjelaskan. Aku bilang kopi berbalut susu, tanpa kekentalan latte pahitnya." ucap pria muda tersebut.
"Harap dimaklumi Pak, kalau kurang dapat dipahami. Bapak adalah manajer baru di sini. Kalau gitu, biar aku buatkan yang baru." Fiha yang menjawab.
Pria tersebut memberikan bahasa isyarat, dengan menggoyangkan jarinya ke arah pintu. Fiha keluar bersamaan dengan langkah kaki Tris.
"Eh Fiha, kamu kesal tidak dengan manajer tadi?" tanya Tris.
"Memangnya kita bisa berbuat apalagi. Dia yang akan memberikan investasi dana." jawab Fiha.
"Loh, kok kamu tahu hal ini?" Tris sibuk mengoceh, sepanjang tangan Fiha bekerja.
"Tentu saja tahu, aku melihat berkas di mejanya tadi." jawab Fiha.
Fiha keluar dari pantry, menuju ke ruangan meeting. Fiha meletakkannya di atas meja, lalu keluar dari ruangan. Tris heran dengan Fiha, bisa-bisanya dia tidak malu sama sekali. Semua orang mengira dia bukan pegawai kantor, tapi lebih kepada jabatan cleaning Service.
"Fiha, kamu tuh diomongin sama semua orang. Ngapain si gak diletakkan di ruangan kerjanya saja." gerutu Tris.
"Kalau diletakkan di sana, keburu air yang hangat jadi dingin." jawab Fiha.
Fiha mempercepat langkahnya, menuju ke ruangan kerjanya sendiri. Fiha mengerjakan tugas, yang belum dituntaskan dengan baik.
"Di ruangan meeting sedang dibahas mengenai blind date." ujar Tris.
"Benarkah? Tapi, aku tidak mendengar namaku disebut." jawab Fiha.
__ADS_1
"Kata teman-teman juga si." Tris nyengir.
"Yaelah, aku kira kamu mendengar langsung. Tidak tahunya, info yang didapat dari mulut orang." jawab Fiha.