Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Wawancara


__ADS_3

Saat sampai rumah, Hasbi meletakkan sandal Fiha. Sepanjang perjalanan, Hasbi sibuk menggenggamnya dalam jemari. Jelas Hasbi melakukan hal tersebut, karena Fiha tertidur dalam kehangatan.


"Fiha, kau ini berat sekali. Aku tidak tahu, kau makan sebanyak apa." Hasbi merasa lucu, lalu tertawa sendiri.


"Bunda sekarang parah loh Ayah, dia bisa makan tiga kali sehari. Bahkan, jadi doyan tulang. Sudah bisa mengalahkan perlombaan kucing terhebat senegara Asia." Tiba-tiba saja Syansa nongol.


"Wah benarkah? Kenapa Ayah tidak mengetahuinya." Hasbi tampak berpikir.


"Karena Ayah terlalu sibuk, bahkan sekarang jarang memperhatikan Bunda." jawab Syansa.


Keesokan harinya, tepatnya pukul 07.00.


"Fiha, kau tahu blind date kita menjadi perbincangan populer." ujar Hasbi.


"Benarkah sayang, kok bisa si." jawab Fiha, masih bingung.


"Saat meeting, Pak bos merekam tentang hal itu. Lalu, kita berdua diundang untuk menghadiri wawancara." ucap Hasbi.


"Pokoknya Syansa harus ikut, dia juga harus menyaksikan keromantisan kedua orangtuanya." jawab Fiha.


"Bunda, ada apa ini?" sahut Syansa.


"Besok, kami akan wawancara. Kamu juga harus ikut iya, biar lebih lengkap." jawab Fiha.


Syansa mengacungkan kedua jempol nya. "Iya Bunda, aku pasti ikut."


"Terima kasih iya sayang." jawab Fiha.


"Jangan sungkan Bunda, aku ini putrimu." Syansa tersenyum tulus, serta mengembang lebar.


"Tidak, aku tidak akan sungkan padamu lagi." Fiha mencubit kedua pipinya.

__ADS_1


Hari yang ditunggu akhirnya tiba, mereka menghadiri acara. Fiha, Hasbi, dan Syansa duduk di panggung acara. Nama mereka telah dipanggil sebagai narasumber, agar bisa memotivasi banyak orang.


"Kalian tahu 'kan, bahwa kalian sedang populer. Lewat akun sosial media bos perusahaan besar, yang mengunggah pembahasan blind date saat meeting." ujar pembawa acara.


"Iya, kami tahu soal itu. Namun sebagai karyawan, awalnya kami hanya mengemban tugas. Tidak terpikirkan, jikalau harus sampai diundang dalam wawancara." jawab Fiha.


"Ini siapa?" tanya seorang perempuan muda.


"Ini adalah Syansa, putri pertama kami." jawab Fiha.


"Sangat cantik, sudah kelas berapa Dik?" tanyanya lagi.


"Kelas dua belas SMA." jawab Syansa.


"Wah, pasti sudah banyak sekali prestasi." ucapnya.


"Meskipun banyak, aku tidak ingin merasa puas diri. Orangtuaku bilang, hal tersebut memicu kita lengah." jawab Syansa.


Terdengar suara begitu riuh, saat semua orang mendengarkan penuturan Syansa. Tidak boleh merasa puas diri dengan ilmu, meskipun harus selalu bersyukur dalam menjalani langkah kehidupan.


"Bagaimana tampil di depan kamera, pasti rasanya sangat gugup?" Aliya mengintrogasi.


"Bukan gugup lagi, malahan Syansa sudah mau pingsan." timpal Umar.


"Kalian berdua kalau bercanda, selalu ada-ada saja. Meski tidak masuk akal, namun Umar lucu." Syansa tersenyum mengembang.


"Kau ini menjauhi sahabat kecil, hanya karena diwawancarai. Sungguh tipis nilai persahabatan!" Umar berkacak pinggang.


"Siapa yang mengatakan demikian, aku tidak punya pemikiran seperti itu." jawab Syansa.


"Aku katakan sekali lagi, kau jangan mengelak. Bahkan Kichi temanmu itu, sudah angkat bicara mengenai hal ini." ujar Umar.

__ADS_1


"Wah, kalian sungguh parah. Tidak ada diriku, Kichi pun jadi alat informasi." Syansa giliran berkacak pinggang.


Tris menghampiri Fiha, dengan nafas tersengal-sengal. Dia tidak mengerti dengan jalan kehidupan, mengapa begitu sulit untuk bernafas lega.


"Ada apa Tris, seperti dikejar tsunami saja." ledek Fiha.


"Bahkan ini lebih darurat dari hal tersebut." jawab Tris, yang masih mengatur nafasnya.


"Memangnya ada apa?" tanya Fiha penasaran.


"Hari ini Pak manajer secara khusus memanggilmu." Tris menganggukkan kepalanya, sambil bergoyang hebat.


"Hah, kau selalu membuatku terkejut. Saat aku mendatanginya, tidak mengerikan seperti reaksi mu. Kau bahkan sudah mengalahkan pegawai PLN yang tersengat listrik." Fiha melihat Tris, yang masih terlihat kejang.


Tris beranjak dari pelemasan tubuhnya. "Segera pergi, dan pastikan."


Tris mendorong tubuh Fiha dengan pelan, hingga perempuan itu berhasil masuk ke dalam ruangan manajer. Berbeda dengan Tris, yang tidak ingin menyentuhkan telapak sepatunya. Dia bertahan di luar sebagai pagar, yang siap menguping apapun yang dibicarakan Fiha.


"Fiha, kau hari ini lembur iya." ujar manajer muda tersebut.


"Baik Pak, siap melaksanakan tugas." jawab Fiha.


"Jangan lupa, suruh suamimu pulang duluan." ujar pria tersebut.


"Mana bisa begitu Pak, dia akan tetap menunggu. Bahkan, tidak peduli bila langit mengeluarkan suara menggelegar." jawab Fiha.


"Iya sudah, aku cuma minta satu hal." ujarnya.


"Hah, apa itu?" Fiha malah bingung.


"Tolong acuhkan dia selama bekerja, dilarang membuka pintu ruangan meski dia mengetuk." pinta bapak manajer.

__ADS_1


"Insyaa Allah Pak." Fiha membenarkan jarum pentul pada kepalanya.


Permintaan bapak manajer terasa aneh di kepalanya. Bagaimana mungkin, suami sendiri dilarang melihat istri bekerja. Lagipula, Hasbi tidak akan mengganggu dirinya.


__ADS_2