Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Shalawat Yaa Ayuhan Nabi


__ADS_3

Ali dan Filda minum es, untuk menghilangkan rasa haus. Lagipula sambil menunggu sepeda Filda dibenarkan montir.


"Filda, aku pikir kami tadi anak kecil. Menarik sepeda di pinggir jalan, dengan langkah terlunta-lunta." Ali masih menahan tawanya.


"Sembarangan saja, orang besar seperti ini." jawab Filda.


"Badan besar, tapi muka kayak anak kecil." ledek Ali.


"Daripada jomblo yang tidak kunjung menikah." canda Filda.


"Sekarang apa kabar Kak Fiha dan Kak Hasbi?" tanya Ali.


"Alhamdulillah mereka baik-baik saja." jawab Filda.


Saat sepeda sudah selesai diperbaiki, Ali mengajak Filda ke candi. Filda mau-mau saja, lagipula tidak berboncengan juga. Candi itu juga, merupakan tempat Syansa jalan-jalan.


"Syansa, kita foto yuk." ajak Kichi.


"Iya Kichi." jawab Syansa.


Cekrak! Cekrek!


"Eh Syansa!" sapa Filda.


"Eh Kak Filda, ada di sini juga?" tanya Syansa.


"Iya, bersama Kak Ali." jawab Filda.


"Hai Syansa, kamu pasti anaknya Fiha dan Hasbi. Aku adalah teman akrab mereka, tapi sudah delapan tahun tidak jumpa." ucap Ali.


"Oh gitu iya Kak." jawab Syansa.


Sudah memasuki usia kepala tiga, masih saja Ali betah melajang. Daripada menjalin hubungan dengan orang yang salah. Itu terus kalimat yang melingkari rongga kepalanya.


"Kapan nikah Kak Ali?" tanya Filda.


"Kapan-kapan, saat Tuhan mengizinkan." jawab Ali santai.


Karena mereka berdua juga ada di sana, maka Syansa memutuskan untuk mengajak keduanya bermain bersama. Mereka mendayung sepeda keliling taman, hanya untuk menikmati udara segar.


"Ayo Syansa kejar aku, kalau kamu bisa kamu hebat." Filda menantangnya.


"Siapa takut, aku pastinya akan menang." jawab Syansa.


Filda dan Syansa semakin mempercepat dayungan sepedanya. Sampai di pembelokan, malah Syansa tidak sengaja terpeleset. Hal tersebut mengakibatkan Syansa terjatuh dari sepedanya.


"Aduh, duh, sakit sekali." keluh Syansa.


"Siapa suruh untuk buru-buru, itulah akibatnya kalau tidak santai." Ali meledeknya.


"Eh Paman, apa Paman tahu bahwa aku sedang balapan." ujar Syansa.

__ADS_1


"Aku tahu kok, aku dengar pembicaraan kalian." jawab Ali.


Kichi membantunya untuk berdiri, lalu memapah tubuhnya hingga ke bawah pohon. Syansa mengelus betisnya yang berdarah, sambil menyenandungkan shalawat di dalam hatinya.


Yaa ayyuhan Nabi wal kaukabud durri.


Yaa ayyuhan Nabi wal kaukabud durri.


Anta imaamul hadroh sulthoonuhal ghoibi.


Anta imaamul hadroh sulthoonuhal ghoibi.


Fa inni ‘abdun himli tsaqiilun.


Fa inni ‘abdun himli tsaqiilun.


Wali dzunuubun mitslarrimali.


Wali dzunuubun mitslarrimali.


Yaa ayyuhan Nabi wal kaukabud durri.


Yaa ayyuhan Nabi wal kaukabud durri.


Anta imaamul hadroh sulthoonuhal ghoibi.


Anta imaamul hadroh sulthoonuhal ghoibi.


Washolli dauman ‘ala nabiina.


Washolli dauman ‘ala nabiina.


Yaa ayyuhan Nabi wal kaukabud durri.


Yaa ayyuhan Nabi wal kaukabud durri.


Anta imaamul hadroh sulthoonuhal ghoibi.


Anta imaamul hadroh sulthoonuhal ghoibi.


Ya man yarooni walaa aroohu.


Ya man yarooni walaa aroohu.


Undzur bi'aini ridho lihaali.


Undzur bi'aini ridho lihaali.


Yaa ayyuhan Nabi wal kaukabud durri.


Yaa ayyuhan Nabi wal kaukabud durri.

__ADS_1


Anta imaamul hadroh sulthoonuhal ghoibi.


Anta imaamul hadroh sulthoonuhal ghoibi.


Angin-angin yang berhembus, telah membuat rasa perih sedikit menghilang. Awalnya terasa parah, bagaikan kulitnya disayat pisau saja. Padahal tidaklah demikian, hanya begitu perasaan Syansa.


"Syansa, maafin aku iya." ujar Filda.


"Gak apa-apa kok, Kakak gak salah." jawab Syansa.


"Jika ada orang yang patut disalahkan adalah paman." sahut Ali.


"Kok Paman?" Bukankah dari tadi diam saja." jawab Syansa.


"Di sini, yang paling tua adalah Paman." ucap Ali.


"Cie, dia merasa tua." Filda dan Syansa meledeknya secara bersamaan.


"Aku 'kan jujur orangnya, tidak suka mengaku-ngaku muda." ucap Ali.


"Iya, iya Om." jawab Syansa.


Pukul 17.00. Syansa sudah pulang, bersamaan dengan kedua orangtuanya. Mereka juga baru sampai ke rumah, setelah menyelesaikan banyak pekerjaan.


"Syansa, kamu habis jalan kemana? Tumben baru pulang sudah sore?" tanya Fiha.


"Aku baru jalan sama teman." jawab Syansa.


"Teman kamu si Umar dan Aliya." ucap Fiha.


"Bukan kok." jawab Syansa.


"Tumben kalian gak jalan bersama lagi, biasanya selalu bertiga." ujar Fiha.


"Kami punya kesibukan masing-masing." jawab Syansa.


"Besok, ajak mereka berdua main ke rumah. Kebetulan sekali, Ayah dan Bunda libur kerja. Bunda akan memasak rendang, kesukaan kalian bertiga. Ingat tidak, lagi kecil kalian suka makan sampai comot." ledek Fiha.


"Heheh... iya Bunda. Aku ingat banget, sampai kemasukan lalat karena tersedak." jawab Syansa.


Pada malam harinya, Syansa makan bersama keluarga. Yunah mengambilkan cucunya banyak sayur, agar dia tidak kekurangan gizi.


"Syansa, kamu jangan lupa makan ayam kampungnya. Ini sangat bagus untuk menambah gumpalan lemak, lihatlah dirimu sudah kurus begitu." ujar Yunah.


"Iya Nek, tapi Alhamdulillah aku sehat-sehat saja." jawab Syansa.


"Dulu pernah kamu demam, sampai tensinya hanya 90." ucap Yunah.


"Iya Nek, aku akan makan daging juga." jawab Syansa.


”Aku tidak suka makan daging lagi, tidak tahu kenapa selera makan seakan berkurang.” batin Syansa.

__ADS_1


__ADS_2