
Hasbi dan Fiha mojok berduaan di kampus, saat sudah sepi mahasiswa dan mahasiswi. Jarang-jarang mereka melakukan hal tersebut.
"Sayang, kamu gak takut khilaf." goda Fiha.
"Terobos saja khilaf nya." jawab Hasbi.
"Gak boleh gitu sayang." Fiha menahan tawa.
"Gemas aku tuh, lihat muka pelawak mu." Hasbi merapikan jilbab Fiha.
"Sekarang kamu tertawa dong, kalau mukaku muka pelawak." ucap Fiha.
"Jangan terlalu sering tertawa, nanti tiba-tiba sedih." jawab Hasbi.
"Bila kesedihan selalu dapat aku bagi denganmu, maka aku masih dapat bertahan." Fiha bersandar pada pundak Hasbi.
"Berbagilah sayang, aku siap mendengar keluh kesah mu." jawab Hasbi.
"Terima kasih kau telah mencintaiku, terima kasih kau telah menyayangiku." ucap Fiha.
"Iya sayang, sama-sama." jawab Hasbi.
Fiha memeluk Hasbi dengan erat, seperti tidak ingin melepasnya. Tetesan demi tetesan air bening, mengalir pada pipi Fiha. Akhirnya lolos juga dari pelupuk matanya, sambil terus menahan sakit.
"Sayang, kenapa kamu menangis?" Hasbi baru menyadarinya, saat melepaskan pelukan Fiha.
"Aku terlalu bahagia bisa bersamamu hari ini. Ke depannya, kita tidak pernah tahu. Waktu bisa saja mengubur manusia dalam waktu singkat. Sejatinya dunia ini semu, seketika hilang sekejap mata memandang." celoteh Fiha.
Hasbi mengelus lembut kedua pipinya. "Pintar bicara iya kamu."
"Kamu yang mengajariku arti cinta, bagaimana menghargai waktu bersama pasangan." Fiha tersenyum memandang wajah Hasbi.
__ADS_1
"Kita saling memberikan dan menerima cinta sayang." Hasbi menggenggam erat tangan Fiha.
"Iya Hasbi, syukuri perasaan yang semakin tumbuh bermekaran saat ini." jawab Hasbi.
Qalam berpamitan pada Yunah, selaku saudara tertuanya. Dia akan pergi pulang kampung ke pulau Ciredeng, untuk menemui kedua orangtuanya.
"Qalam, aku nitip uang sama kamu. Tolong berikan pada Ibu dan Ayah." ujar Yunah.
"Iya Kak." jawab Qalam.
Qalam segera melangkahkan kakinya keluar dari butik. Dia mengendarai motornya, hingga sampai ke bandara. Qalam akan memberikan oleh-oleh, untuk kedua orangtuanya.
Tanpa disengaja, Qalam bertemu Filda dan Halifah di dermaga. Filda melambaikan tangannya pada Qalam. Mata mereka berdua beradu, dengan bibir tersenyum.
"Pak duda, ternyata Bapak di sini juga." ujar Filda.
"Iya Filda, Bapak ingin mengunjungi orangtua di pulau Ciredeng." jawab Qalam.
"Berarti, kita satu tujuan dong. Aku juga mau ke sana, mengunjungi Nenek dan Kakek." ujar Filda.
"Pak duda dan Mamaku memang berjodoh. Wajar saja, bila bertemu lagi di sini." ucap Filda spontan.
"Kamu ini masih kecil, tahu apa tentang pernikahan." Qalam mencubit hidungnya.
Mereka sudah masuk ke dalam kapal, lalu kendaraan air melaju beberapa menit kemudian. Fiha dan Hasbi sudah sampai ke butik, setelah pulang dari kampus.
"Kalian tumben lama pulangnya." ujar Yunah.
"Kami tadi berduaan, sengaja mojok di sudut sekolah." jawab Hasbi.
"Bagus, kalau gitu Ibu akan memasak yang spesial untuk Fiha." Yunah mengembangkan senyuman.
__ADS_1
"Ibu senang sekali, bila mendengar kami berdua selalu bersama setiap saat." jawab Hasbi.
"Itu adalah keharusan, tidak boleh keseringan menjaga jarak." ujar Yunah.
"Bu, kami juga punya urusan masing-masing. Apa salahnya, untuk mempunyai privasi diri." jawab Fiha.
"Fiha, kamu adalah anak menantuku. Kamu harus nurut iya, jangan pergi sama pria lain. Ibu gak mau, kamu menjadi menantu orang lain." ucap Yunah.
"Iya Bu." jawab Fiha.
Fiha menahan rasa sakitnya, lalu berniat ingin ke belakang sebentar. Dia sudah tidak sanggup lagi, menutupi penyakit kanker jantungnya.
"Bu, aku ingin ke belakang toko Fisbi Boutique dulu. Aku ingin mencari udara segar, karena banyak pohon di sana." ujar Fiha.
"Iya, biar Hasbi yang menemani kamu." jawab Yunah.
"Gak Bu, biar aku ke belakang sendiri saja." ucap Fiha menolak.
"Iya sudah, kamu gak apa-apa 'kan." jawab Yunah memastikan.
Fiha mengganggukan kepalanya, lalu melangkahkan kaki ke belakang. Dia terguling-guling, dengan rasa sakit yang tak bisa dijelaskan. Fiha terus memegangi, rongga dada sebelah kiri.
"Aaa... sakit sekali, sungguh sakit. Astaghfirullah, astaghfirullah, Subhanallah, Allahuakbar." Fiha mengucapkan istighfar, untuk segala musibahnya.
Tiba-tiba ada seorang karyawati perempuan, yang membuka pintu belakang. Dia hendak membuang sampah, bekas plastik packing barang.
"Kenapa Kak Fiha rebahan di sini?" tanyanya.
"Tidak, aku tadi tidak sengaja terpeleset." Fiha segera berdiri.
"Kalau tidak sengaja terpeleset, kenapa Kakak tidak cepat berdiri?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Kakak memikirkan ponsel yang jatuh." jawab Fiha beralasan.
Perempuan muda itu masuk ke dalam, dan Fiha menghembuskan nafas lega. Akhirnya tidak ketahuan pikir Fiha. Dia segera mengambil bungkus obat, yang ada di dalam kantong bajunya. Fiha membuka botol minum, lalu meneguk air bersamaan dengan obat.