
Ali khawatir melihat Fiha, yang sudah tergeletak di lantai. Dia segera mencari cara, untuk bisa keluar dari sana. Lagipula, Hasbi sudah meninggalkan kampus Diamond.
"Fiha, kamu yang sabar iya. Aku sedang mencari cara, untuk membebaskan kamu." ujar Ali.
"Iya Ali." jawab Fiha.
Ali mengambil batu, yang ada di atas sana. Dengan sekuat tenaga, dia melemparkannya ke badan jalan. Batu itu terkena lampu motor seorang perempuan, hingga dia menoleh ke atas. Ali melambaikan tangannya sambil berteriak, hingga perempuan itu berhenti.
"Tolong!" teriak Ali.
”Kenapa pria itu melempar motorku, lalu berteriak minta tolong. Apa dia terjebak, di atas loteng kampus itu.” batinnya.
Dia segera meminta beberapa orang, untuk ikut ke atas sana. Karena dia tidak mengenal, seperti apa watak pria asing tersebut. Bisa saja itu jebakan, supaya dirinya masuk perangkap. Apalagi pria itu, yang telah merusak lampu motornya.
"Apa ada orang di dalam?" tanya Ama.
"Ada, segera keluarkan kami dari sini." jawab Ali.
Mereka berhasil mendobrak pintu, dengan banyaknya orang yang melakukan. Ali melihat Ama yang memegang kunci motor, sambil melihat Ali secara rinci.
"Terima kasih telah menolong kami. Aku akan mengganti lampu motormu, yang sudah rusak terkena lemparan batu." ujar Ali.
"Iya, sama-sama. Santai ajalah, terutama bawa teman kamu dulu." jawabnya.
Fiha dibawa ke rumah sakit, dan banyak orang yang mengantarnya. Mereka berpamitan, setelah Ali duduk di kursi tunggu.
"Boleh minta nomor rekening aja gak? Biar aku transfer uangnya ke akun pribadimu." ujar Ali.
"Iya, boleh banget kok." jawab Ama.
__ADS_1
Ali mencatat nomor rekening Ama pada ponselnya. Lalu setelah itu, dia berpamitan untuk pulang.
Keesokan harinya, Fiha sudah sadar dari pingsannya. Dia mengatakan ingin pulang, dan Ali mengantarnya sampai mendekati rumah saja. Bila Ali mengantar sampai depan rumah, Hasbi akan salah paham pada mereka.
"Assalamualaikum." ucap Fiha.
"Wa'alaikumsalam." jawab Hasbi.
Hasbi membukakan pintu, dan celingak-celinguk ke sekitar. Yunah tiba-tiba muncul, dengan raut wajah malas.
"Apa pantas seorang pria beristri, baru pulang kuliah pada pagi harinya?" tanya Yunah.
"Maaf Bu, aku ada urusan pribadi." jawab Fiha.
"Urusan pribadi harus sembunyi iya, lalu membiarkan suamimu menunggu." ucap Yunah.
"Bukan begitu Bu, aku hanya tidak ingin membebaninya." jawab Fiha.
"Apa Fiha hanya menganggap kamu suami boneka." ujar Yunah.
"Ibu jangan marah terus sama Fiha. Kita tidak pernah tahu, apa isi hatinya sekarang." jawab Hasbi.
"Ibu ingin Fiha bercerita, kalau memang ada masalah. Aku ini menganggapnya, seperti anak sendiri. Seharusnya, dia mengerti dengan perasaanku." ucap Yunah.
"Aku juga bingung padanya Bu, jadi aku tidak bisa menjelaskan apapun." jawabnya.
Setelah Fiha selesai bersiap-siap, dia keluar dari kamarnya. Hasbi tetap memberi perhatian pada Fiha, tidak marah dengan sungguhan.
"Fiha, kamu sarapan pagi dulu iya. Aku sudah menuangkan, nasi dan lauk pauk untukmu." ujar Hasbi.
__ADS_1
"Oh iya." Fiha menganggukkan kepalanya.
Fiha duduk di samping Hasbi, lalu menerima suapan dari suaminya.
"Kamu harus makan yang banyak, dan juga mengonsumsi vitamin. Aku tahu, kamu sedang hamil." ujar Hasbi.
"Iya sayang, anak kita harus lahir dengan selamat." jawab Fiha.
"Fiha, kamu jawab Ibu dengan jujur. Apa kamu pernah, melakukan hubungan di luar batas. Kita 'kan tidak pernah tahu, seperti apa hubungan kamu dengan Om Spanyol." ujar Yunah.
"Tidak Bu, aku sungguh jujur padamu." Fiha menjawab, sambil menunduk.
”Apa Ibu mertuaku mulai meragukan aku. Kenapa dia seperti itu, pertanyaannya sangat tidak enak didengar.” batin Fiha.
Hasbi dan Fiha berboncengan bersama di atas motor, setelah mereka berpamitan pada Yunah. Hasbi tidak ingin banyak bertanya, pasti Fiha akan memberi jawaban yang sama. Fiha tetap tidak mau mengaku, tentang kedekatan dirinya dan Ali.
"Aqila!" Hasbi memanggilnya, saat baru sampai kampus.
"Iya Hasbi." jawab Aqila.
"Ibuku bilang, dia ingin memasak bersamamu." ucap Hasbi.
Aqila tersenyum ke arah Fiha. "Kamu juga ikut 'kan."
"Boleh, boleh." Fiha bersemangat.
"Maaf iya Fiha, Ibuku bilang dia cuma mau sama Aqila. Kalau aku menambah orang lagi, dia akan marah padaku." jawab Hasbi.
Fiha manggut-manggut. "Aku ke kelas dulu."
__ADS_1
"Iya, sampai jumpa." jawabnya.
Langkah kaki Fiha surut, untuk terus melanjutkan perjalanan. Dia benar-benar terpukul, saat melihat kedekatan Hasbi dan Aqila. Bahkan Yunah seperti mendukung mereka, tanpa mempedulikan rasa sakitnya.