
Dor!
Dor!
Polisi tewas di tempat, karena diserang oleh Nicko. Dia sangat lihai, dalam melakukan gerak tembak menembak. Nicko menyerang Hasbi bertubi-tubi, tidak segan melakukan kekerasan fisik. Hasbi juga melakukan perlawanan, namun dengan tangan kosong.
Bugh!
Sebuah tinjuan melayang, mengenai perut Hasbi. Anak buah Nicko juga ramai, mengenakan sarung tangan dari runcing besi yang tajam. Fiha hendak menolong Hasbi, yang hampir ditusuk dengan golok. Fiha bahkan nekat menonjok Nicko, demi suami yang dicinta tidak disiksa.
Fiha tidak sengaja terdorong oleh ketua bajak laut, saat hendak menolong Hasbi berdiri. Tubuh Fiha hanyut di dalam air, terbawa oleh arus laut. Fiha terbangun dengan kondisi sudah berada di pinggir laut, tubuhnya tersesat di pulau tidak berpenghuni.
"Di mana aku, bukankah tadi masih di atas kapal?" Fiha bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Angin kencang berhembus, Fiha sengaja berteduh di bawah pohon. Hujan mulai menjatuhi bumi, sungguh lumayan deras terasa di tubuh.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Hasbi, apa dia selamat? Lalu, bagaimana dengan Syansa dan Ibu? Terus, aku sekarang di mana? Mengapa tempat ini terasa asing, aku tidak pernah ke sini sebelumnya." monolog Fiha.
Syansa sudah merekam kejadian tersebut, agar ada yang membantu Hasbi. Syansa tidak ingin, bila hal buruk terjadi pada ayahnya. Nicko mengejar Syansa, saat menghadapkan kamera ke arahnya.
Syansa berlari tunggang langgang, memasuki ruangan kapal. Syansa menguncinya dari dalam, sambil menutup mulut rapat-rapat. Syansa benar-benar ketakutan, tubuhnya menjadi berkeringat dingin.
"Ya Allah, tolong aku yang tertindas ini. Aku sungguh lemah, bila tidak ada Engkau. Maka dari itu, aku mohon lindungi siapa pun yang masih hidup." Syansa menggosok kedua telapak tangannya.
Brak!
Syansa menendang kaki Nicko, lalu melawan brutal para anak buahnya. Syansa berhasil kabur, dengan tubuh penuh luka. Nicko tertawa lantang, sengaja membiarkan Syansa kabur. Lagipula tubuhnya sudah terluka juga, siapa yang bisa bertahan tanpa pertolongan pikirnya.
Byur!
Syansa tidak sengaja terpeleset, saat berdiri di emperan kapal. Tubuh Syansa hanyut, dengan darah yang larut dalam air. Syansa hanyut ke arah yang berbeda dengan Fiha, ke sebuah sungai warga desa terpencil.
__ADS_1
"Oi lihat itu, mayat siapa iya?" tanya seorang laki-laki, yang sedang merokok.
"Aku juga tidak tahu, coba kamu lihat sana." jawab orang di sebelahnya.
Akhirnya mereka berhasil membawa Syansa ke pinggir sungai. Setelah diperiksa ternyata masih hidup, hanya kondisinya yang tidak stabil.
"Aku tergoda dengan wajahnya, ayo kita bawa ke dalam kamar." ajak pria yang memegang rokok.
"Kamu ini gila iya, mau menodai dia yang sudah malang. Tenggelam tidak tentu arah tujuan, mengharapkan sebuah pertolongan." jawab orang di sebelahnya.
"Kamu jangan ikut campur. Kalau tidak mau, biar aku saja." ujar pria, yang sudah tergila nafsu tersebut.
"Aku punya saudara perempuan, dan juga Ibu kandung. Aku tidak membayangkan, jika orang lain berbuat keji pada mereka." Temannya masih berusaha melarang.
"Iya sudah, kita bawa ke rumah saja. Biar kita tolong, lalu kita antar pulang." Berucap tidak tulus, masih ada rencana yang lain.
__ADS_1
"Baiklah, kalau kamu seperti ini baru aku setuju." jawab orang di sebelahnya dengan antusias.