
Beberapa hari kemudian, aku masuk sekolah. Wajahku semakin kusut saja, mataku terlihat sembab karena menangis semalaman. Karena apa? Karena Tuhan harus mempertemukan aku, dengan Sakim dan Ido lagi. Padahal aku mengira, mereka tidak akan masuk kelas akuntansi. Meski belum sembuh, aku memaksa masuk sekolah. Aku tidak ingin, ketinggalan pelajaran lebih jauh lagi.
"Firsya, ada yang mau aku bicarakan. Ikut ke samping kelas." ajak Rahma.
"Baiklah." Menjawab singkat.
Aku mengganggukan kepala, lalu mengekorinya sampai keluar ruangan. Aku ikut ke samping kelas, bersama dengan Rahma.
"Firsya, kamu itu sudah mencemarkan nama baik Rulif. Dia sampai disuruh Abangnya pindah sekolah." ujar Rahma.
"Karena dia memblokir Facebook ku, saat aku meminta pertemanan." jawabku singkat.
Tiba-tiba muncul si ketua kelas, dan teman-temannya. Rombongan mereka itulah yang aku tidak tahu, seperti apa isi hatinya.
"Firsya kamu itu egois, hanya mikirin perasaan kamu sendiri. Itu hak Rulif, kalau dia mau memblokir kamu." sahut Iska.
"Itu berarti dia membenciku." jawabku.
”Itu juga membuktikan, bahwa surat di atas meja dialah pengirimnya. Dialah yang mencaci maki aku, setengah mati. Kenapa kalian semua seolah menghakimi aku, lalu pembuat masalah awal kenapa tidak dihakimi?" batinku.
"Dia itu bukan benci, cuma ilfeel sama kamu." ujar Rahma.
"Sudahlah, kalian semua membelanya terus." jawabku, yang tersulut emosi.
__ADS_1
"Hih, dibilangin baik-baik malah katanya belain si doi." ujar Rahma.
Tiba-tiba Tiya datang. "Ada apa ini?"
"Tolong sampaikan pada Rulif, aku minta maaf. Aku yang salah, sudah egois." Jawaban kalau kecewa, pasti mengalah saja.
Tiya pergi ke dalam kelas, lalu beberapa menit kemudian keluar kembali. "Dia bilang sudah maafin, tapi menjauh lah dari dia."
”Hmmm... kalau bukan lingkungan sekolah, mungkin saat ini juga, aku akan beradu mulut sampai tuntas. Tidak peduli, dengan penilaian siapapun juga. Karena yang tahu apa yang sebenarnya terjadi, hanyalah aku dan hatiku sendiri. Siapa memangnya yang memulai? Siapa yang menyebar perasaanku pada Rulif? Siapa yang menderita, bila kalian tahu cerita dari awalnya. Siapa yang ditindas dan dihina setiap hari? Siapa yang diam-diam menangis? Siapa yang tidak belajar dengan tenang? Apa status yang aku tulis, sebanding dengan penderitaan selama ini? Di mata kalian usai, di mata batinku tidak pernah ridha. Sebelum aku mendapat keadilan, aku akan menjauh dari kalian semua.” batinku menjerit.
Aku tidak ingin meneteskan air mata depan mereka. Rasanya aku bisa mengikhlaskan cinta bertepuk sebelah tangan, tapi aku tidak pernah terima dengan alur cerita seperti ini. Aku segera berlari ke arah pohon-pohon sawit. Di sana terlihat sepi, tempat praktik anak pertanian. Masih terngiang di telingaku, ucapan dari Iska sang ketua kelas. Sejak itu, aku tidak percaya dengan ketulusan cinta. Bahkan aku juga, tidak percaya yang namanya janji. Nyatanya karena permulaan dikhianati sahabat, aku bisa ambruk tak berdaya. Masalah itu menjadi besar, karena terus dinyalakan apinya. Sakit tak terkira, hingga aku menutup hati. Diam terpaku menatap kolam, berdiri tegak di permukaannya. Aku tidak peduli, bila disangka yang tidak-tidak. Yang paling terpenting, Tuhan tahu aku sedang berusaha melapangkan dada.
Jika saja mereka yang menindas ku tidak membayarnya di dunia, pastilah mereka akan membayarnya di akhirat. Aku masih menangis sendiri, memanggil nama Rara berkali-kali. Berharap sahabatku di masa SMP, akan datang melihatku sebentar saja. Dia sudah tahu kalau aku sakit, karena kami ada mengobrol lewat ponsel. Tapi, dia tidak tahu permasalahan rumit ini.
"Andai saja tidak ada Emak Comblang, pasti hal ini tidak akan pernah terjadi. Aku bisa mencintainya secara diam-diam, tanpa harus mengalami ini. Aku juga tidak akan disisihkan oleh Bu Ima."
"Firsya tunggu, jangan berlari lagi." pinta Ulia.
Aku menghentikan langkahku, sambil meneteskan air mata. "Aku ingin sendiri."
Sang juara kelas satu itu, benar-benar baik. Aku bisa merasakan ketulusannya, karena dia satu-satunya orang yang pernah meraih tanganku. Meski dia sering berteman dengan yang lain, tapi dia tidak enggan berteman denganku.
Ulia sudah mendekat. "Firsya, tenangkan dirimu."
__ADS_1
"Mereka semua tega, menyudutkan aku seorang diri." Aku langsung memeluknya.
”Terimakasih karena pernah meraih tanganku, kau adalah teman tak terlupakan. Kau juga pernah melakukannya, saat aku menangis sendiri di belakang toilet.” batinku.
Ulia mengajakku duduk di tepi kolam, aku mendengarkan ucapannya dengan baik. Lumayan menenangkan dan terkesan tulus, dibandingkan ucapan yang lainnya. Atul sudah datang saja bersama Eli, mereka diam saja karena tidak tahu permasalahannya. Mereka terlihat heran, hanya berdiri didekat pohon karet.
”Apa masih akan ada orang yang mempercayaiku, bahwa aku menangis bukan karena tergila-gila pada cinta.” batinku tersiksa.
Saat pulang ke rumah, ucapan Tiya terngiang di telingaku. Aku teringat dengan pernyataannya itu.
”Baiklah, aku memutuskan untuk menjauhi semuanya. Karena di sini sangat adil, bila menjauhi siapapun yang terlibat. Aku tidak akan pernah meminta pertemanan lagi, sampai kalian sendiri yang memintanya. Mungkin juga butuh waktu lama, untuk mengkonfirmasi permintaan pertemanan kembali.” batinku.
Aku mulai menghapus akun Facebook satu persatu, walau sebenarnya aku sayang sekali dengan akun tersebut. Banyak foto kenangan kebersamaan, namun terpaksa aku hanguskan. Aku ingin tenang, tanpa melihat mereka lagi. Tanpa memainkan sosial media, tanpa melihat mereka berseliweran lagi.
Aku tidak akan menghubungi Rara, lagipula dia juga sibuk dengan dunianya sendiri. Mulai saat itu, aku berharap penuh pada Allah. Aku ingin menggenggam cinta dengan erat, tapi bukan untuk makhluk. Hanya cinta pada Allah, yang tak akan pernah berakhir menyakitkan. Aku membuka lemari buku, membaca kisah para nabi. Menghayati setiap paragraf nya, lalu aku terbius ke dalamnya.
Kisah Zulaikha dan nabi Yusuf, yang benar-benar membuat haru. Kisah Ismail yang benar-benar mengagumkan. Kisah nabi Adam, yang bisa memberi motivasi. Cukup beberapa lembar, aku letakkan buku ke tempat semula. Aku melangkahkan kakiku ke dapur, menyantap makanan siang. Perutku terasa lapar, karena menutupi semuanya butuh tenaga. Mamak melihatku yang terlihat murung.
"Firsya, kenapa?" tanya Uni.
"Tidak apa-apa Mak, kepalaku hanya sakit." jawab Firsya.
"Iya sudah, istirahat dulu." ucap Uni.
__ADS_1
"Iya Mak." jawabku singkat.
Rasanya masih terasa berkaca-kaca mata ini, ntah sampai kapan aku menangis. Aku berniat dalam hati, untuk melanjutkannya saat tengah malam nanti. Ingin mengadu kepada Tuhan, supaya memberi keadilan atas perbuatan mereka.