
Syansa yang sedang pingsan dibawa ke rumah sakit terdekat. Aliya juga masuk ke salah satu ruangan, untuk mendapatkan perawatan medis. Umar segera menghampiri dokter, yang menangani Syansa di ruangan.
"Dok, bagaimana keadaan Syansa?" tanya Umar.
"Alhamdulillah, keadaannya baik-baik saja." jawab dokter.
"Bolehkah, bila aku menjenguk pasien?" tanya Umar.
"Iya, tentu saja boleh." jawab dokter.
Umar masuk ke dalam, bersamaan dengan Syansa yang sadar. Umar tersenyum ke arahnya, lalu duduk di samping ranjang pasien.
"Kamu gak apa-apa 'kan Syansa?" tanya Umar.
"Seperti yang kamu lihat, sekarang sudah membaik." jawab Syansa.
"Keadaan Aliya sekarang masih tidak sadarkan diri. Dia sedang mengalami sesak nafas yang kambuh." ucap Umar.
"Aku ingin sekali menjenguknya." jawab Syansa.
Syansa ingin beranjak dari posisi terlentang, namun Umar mencegah pergerakan Syansa. Lebih baik, dia memang berisitirahat saja.
"Kamu baru membaik, jangan banyak bergerak." Umar menasehatinya.
"Iya, aku akan mendengarkan nasihat orang sehat." jawab Syansa.
Sementara di sisi lain.
Gus yang sedang asyik menari di koridor, tiba-tiba didatangi si bos. Gus langsung menghentikan aksi konyolnya, yang sudah menjadi candu sehari-hari.
"Manajer Gus, kau harus mencoba jajanan perusahaan kami." ujar pak bos.
"Bos, aku yang investasi dana pasti mendukung." jawab Gus.
"Jajan Vampir level 20 itu, akan segera diluncurkan oleh perusahaan kami." ujar bos.
__ADS_1
"Tapi, kita harus membuat gambar untuk bungkusnya." jawab Gus.
Tiba-tiba Fiha muncul. "Tunggu dulu, bukankah Pak Gus takut gambar hantu?"
"Eh Fiha, maksudku aku akan menyuruh orang lain. Mana mungkin aku yang mengerjakannya." Gus menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Fiha curiga, saat melihat raut wajah paniknya. "Benarkah akan menyuruh orang, kelihatannya tidak begitu niatan awalnya."
"Jangan curiga Fiha, tidak baik. Nanti bisa su'udzon loh." Gus berusaha mengelak.
”Bisa-bisa ketahuan, kalau selama ini aku mengerjainya.” batin Gus.
"Sekarang, lebih baik aku kembali ke ruangan ku sendiri." ujar Gus.
"Nah iya, cepat buat gambarnya sana." titah. bos.
"Siapa yang bos perintah, aku ini hanya tukang investasi." Gus sengaja menghindar, karena ada Fiha di sana.
"Aneh sekali, bukankah awalnya manajer Gus yang begitu semangat." jawab bos.
"Apa benar iya, yang Tris bilang selama ini. Apa gunanya dia mengerjai aku, lagipula untung tak diraih.” batin Fiha.
Filda sengaja meneruskan perusahaan mamanya, karena Halifah sudah meninggal. Sedangkan Ali sendiri baru terkena PHK, dan mencari pekerjaan baru. Dia kini melangkahkan kakinya, menuju ke perusahaan Genta Cengkeh.
"Assalamualaikum Filda!" Ali langsung mengucapkan salam, ketika melihatnya.
"Wa'alaikumus'salam." jawab Filda.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Ali.
"Ini 'kan perusahaan Mama, tentu saja aku berada di sini. Sekarang dia telah tiada, jadi aku yang meneruskannya." jawab Filda.
"Wadaw, sebenarnya aku ke sini ingin melamar kerja." ujar Ali.
"Iya sudah, besok saja Kakak langsung kerja." jawab Filda.
__ADS_1
"Apa kamu tidak ingin melihat resume, mengenai pengalaman kerjaku?" Ali bertanya sekali lagi.
"Tidak perlu Kak, kita 'kan sudah saling mengenal satu sama lain." jawab Filda.
Tanpa diduga, ada Qalam yang datang ke perusahaan. Dia membawakan makanan di dalam rantang, karena mengetahui putrinya akan lembur.
"Assalamualaikum." ucap Qalam
"Wa'alaikumus'salam." jawab Ali dan Filda secara bersamaan.
"Ali, apa kabar?" tanya Qalam.
"Alhamdulillah, baik Paman." jawab Ali.
"Lama sudah tidak jumpa, bila berkenan bermainlah ke rumah." tawar Qalam.
"Iya Paman, lain kali aku akan menyempatkan. Atas seizin Allah." jawab Ali.
Qalam duduk sebentar, untuk mengobrol bersama Ali. Sesekali mengungkit kenangan baik, agar mereka tidak saling canggung. Mengingat bahwa dulu sering menjalani hari bersama.
"Paman ingat 'kan sama Karim, dia dulu begitu antusias belajar. Bahkan tidak enggan, meski harus belajar berdiri." ungkap Ali.
"Iya, aku masih bangga sampai sekarang. Bisa-bisanya, ada anak kecil seperti itu. Dia sangat berbeda, semangat juangnya tinggi. Tidak peduli bila atap bocor, dia akan mengikuti pembelajaran." jelas Qalam.
"Kalian sedang membicarakan siapa?" tanya Filda.
"Itu loh, si Karim. Kamu ingat 'kan, bahwa dia pernah les bareng." jawab Qalam.
"Oh dia toh, yang sudah buat kalian memiliki energi." Filda hanya manggut-manggut.
"Saat itu, aku akui kau nakal. Kau bahkan membuat suasana kacau. Awalnya kau tidak begitu menerima, sampai hati menjadi terbiasa." Ali mengingatkan sikap Filda waktu kecil.
"Aku akui, bahwa dulu aku krisis iman. Namun sekarang aku mengakui, bahwa aku sangat membutuhkan." Filda tersenyum.
"Semoga anak Ayah selalu melangkah dalam kebaikan." Qalam mendoakan putrinya.
__ADS_1