
Fiha dan Ali sudah sampai ke rumah masing-masing. Hasbi baru saja pulang, setelah Fiha sudah beberapa menit sampai.
"Cantik sekali kamu Fiha!" puji Hasbi.
"Oh iya, tapi aku rasa lebih cantik Aqila." jawab Fiha.
"Hari ini, kenapa kamu dandan seperti ini?" tanya Hasbi penasaran.
"Ingin menyambut suamiku, yang pulangnya telat. Istri masuk rumah sakit, tapi dia sedang bersama perempuan lain." jawab Fiha.
"Fiha, aku dan Aqila tadi tidak sengaja. Ada seorang laki-laki, yang hendak membius Aqila. Aku hanya berniat menolongnya saja." ucap Hasbi, dengan jujur.
"Ternyata menolong seseorang, bisa menyebabkan telepon terabaikan." jawab Fiha.
"Aku mengantar Aqila ke rumah sakit, tidak sempat untuk membuka ponsel. Aku minta maaf Fiha." ujar Hasbi.
"Tidak perlu merasa bersalah, aku tadi hanya pingsan. Maka dari itu, Ali menelepon berkali-kali." jawab Fiha.
"Kamu sakit apa?" Hasbi khawatir.
"Tidak apa-apa, hanya sakit kepala ringan." jawab Fiha.
"Fiha, kamu sedang tidak berbohong 'kan?" Hasbi memegang kedua pundaknya.
"Tidak Hasbi, aku bicara seadanya saja." jawab Fiha.
Fiha segera berlalu dari hadapan Hasbi, masuk ke dalam kamarnya sendiri. Melampiaskan rasa sesak, yang menjelma dalam dada.
"Apa mungkin, Hasbi akan menikahi Aqila. Apalagi setelah aku meninggal, Aqila akan mengisi kekosongan hatinya. Aku akan terbuang dari hati Hasbi, sebagai orang yang dia cintai." monolog Fiha.
Hasbi masuk ke kamar, tahu bila Fiha sedang cemburu. Dia memeluk istrinya dari belakang, dan berbisik lembut di telinganya.
"Maafkan aku sayang, maafkan kesalahanku hari ini. Aku tidak bermaksud, untuk mengabaikan telepon darimu." ucap Hasbi.
"Iya, aku mengerti kok." jawab Fiha.
__ADS_1
"Kenapa menjawab datar begitu, harusnya kamu akan tersenyum bila tidak marah." ujar Hasbi.
"Aku gak marah Hasbi, aku cuma cemburu aja." jawab Fiha.
Keesokan harinya, Fiha merasa sangat pusing. Dia berniat untuk tidak pergi ke kampus. Dadanya terasa sesak, dan juga tubuhnya berkeringat dingin.
"Hasbi, tolong berikan surat ku pada dosen iya." ujar Fiha.
"Kenapa tidak masuk kuliah, kamu sakit iya Fiha." Hasbi melihat wajah pusatnya.
"Aku hanya demam, sekarang, cepat pergi sana." titah Fiha.
"Oke, aku akan segera pergi dari pandangan matamu." jawab Hasbi.
”Biarlah, bila kamu menanggap aku menyebalkan. Setidaknya kamu tidak akan kecewa, kalau aku pergi selamanya.” batin Fiha.
Hasbi sudah sampai kampus, bersamaan dengan Aqila juga. Hasbi segera melangkahkan kakinya menuju ke kelas. Aqila pun juga sama, berjalan menuju kelasnya.
"Hasbi, terimakasih iya telah menolongku kemarin." ucap Aqila.
"Fiha kenapa tidak masuk sekolah?" tanya Aqila.
"Dia sekarang sedang sakit." jawabnya.
"Semoga Fiha lekas membaik." ujar Aqila.
"Aamiin, terimakasih Aqila." jawab Hasbi.
Fiha berguling-guling di atas ranjang tidur, menahan segala rasa sakit. Dia tidak ingin berteriak, karena Yunah akan mendengarnya.
"Astaghfirullah, sungguh sakit sekali." Fiha mengeluh, namun tidak ingin marah.
Sebuah penyakit adalah takdir dari Tuhan, manusia tidak bisa memaksa menghilangkannya. Walaupun manusia itu ingin memaki-maki sebanyak buih di lautan. Rasa sakit tak dapat dielak, dengan sekedar berkata.
Tok! Tok!
__ADS_1
"Masuk aja Bu, gak dikunci kok." ucap Fiha.
Yunah masuk ke dalam. "Fiha, kamu makan dulu iya. Kamu dari tadi pagi, belum sarapan juga." jawab Yunah.
"Iya Bu, aku juga mau minum obat." ujar Fiha.
"Kok Ibu gak tau, kalau kamu minum obat." jawab Yunah.
"Bu, aku sekarang sedang sakit. Aku beli obat demam di apotek." ucap Fiha.
"Iya Fiha, semoga kamu cepat sembuh." jawab Yunah.
Yunah menyendok makanan, lalu menyuapkannya pada mulut Fiha. Menantunya itu, bagaikan anak sendiri.
"Fiha, kamu sedang mengandung, jadi jangan terlalu banyak pikiran." ucap Yunah.
"Iya Bu, aku hanya sedang memikirkan Hasbi kuliah hari ini." jawab Fiha.
"Tentu seperti biasanya, tidak ada yang berbeda." ujar Yunah.
"Hehe... iya Bu." jawab Fiha.
”Tentu ada yang berbeda Bu, dia sekarang lebih mudah didekati. Aqila bisa berbicara sama dia, karena gak ada aku. Terus saat aku gak bernyawa lagi, Hasbi bakalan nikah sama dia. Hmmm... kenapa aku bisa berpikir seperti ini. Hah, aku benar-benar terlalu cemburu buta.” batin Fiha.
Tanpa terasa Fiha geleng-geleng kepala, sedangkan Yunah mengerutkan dahinya heran. Dia berhenti untuk menyuapi anak menantunya.
"Kamu tidak mau makan lagi?" tanya Yunah.
"Aku sudah kenyang Bu." jawab Fiha.
"Oh iya, sekarang cepat minum obat." ucap Yunah.
"Iya Bu, biar aku sendiri saja." jawab Fiha.
Fiha tidak ingin Yunah mengetahui, obat apa yang sedang dikonsumsi olehnya. Biarlah dia diam-diam, dalam meminum pil itu. Yunah keluar dari ruangan kamar, sambil membawa piring dan gelas.
__ADS_1