
Keesokan harinya, Fiha memperlihatkan surat yang diberikan oleh Ali. Hasbi membacanya dengan seksama, tentang sapaan kecil sekaligus brosur perusahaan.
"Fiha sayang, kamu dengar satu hal iya. Aku bukan melarang, kamu menerima rekomendasi pekerjaan darinya. Namun, perasaan pertemanan tersebut tidak akan berlangsung lama. Pria dan wanita yang berteman terlalu dekat, juga dapat menimbulkan benih-benih perasaan." ujar Hasbi mengingatkannya.
"Sayang, kau berpikir terlalu jauh." jawab Fiha.
"Pepatah mengatakan begitu sayang." ucap Hasbi.
"Baiklah." jawab Fiha.
Fiha akhirnya masuk ke dalam kamar, dan membiarkan Hasbi tertinggal di ruang tamu. Lidahnya memilih untuk membunyikan suara shalawat, yang keluar dari kedua celah bibirnya.
Sholallahu 'Ala Muhammad
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
Sholallahu 'Ala Muhammad
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
Sholallahu 'Ala Muhammad
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
Sholallahu 'Ala Muhammad
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
Asyroqol Badru 'Alaina
Fakhtafat Minhul Budur
Mitsla Husnikma Roaina
Qhottuya Wajhas Shururi
Anta syamsun anta badrun
__ADS_1
Anta nurun fauqonuri
Anta syamsun anta badrun
Anta nurun fauqonuriAnta iksiru waghori
Anta misbahushshururi
Sholallahu 'Ala Muhammad
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
Sholallahu 'Ala Muhammad
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
Hasbi mendengar suara istrinya yang merdu, membuatnya merasakan damai si seluruh tubuhnya. Hasbi berusaha mengerti Fiha, mungkin dia belum sepaham dengannya.
Hasbi masuk ke dalam kamar, lalu duduk di samping Fiha. Ingin mengatakan maaf, tentang hal yang telah dilakukannya. Hasbi jadi merasa bersalah, karena mulai mengekang pribadinya.
"Iya, tidak apa-apa kok. Aku tahu alasan kamu melakukannya, karena kamu mencintai aku." jawab Fiha.
"Bukan begitu sayang, namun wanita adalah sebesar-besar fitnah." ucap Hasbi.
"Iya sayang, aku pernah mendengar kalimat tersebut." jawab Fiha.
Fiha hanya bersama Syansya di rumah, karena Hasbi dan Yunah kembali ke butik. Nenek Ulfa dan kakek Broto sudah kembali, ke pulau Ciredeng tempat tinggal asalnya.
Fiha membuat surat lamaran, yang akan ditujukan ke perusahaan lain. Yang pastinya, Fiha tidak ingin rekomendasi dari Ali. Dia menghargai keputusan suaminya, yang tidak menyukai pria manapun masuk ke kehidupannya. Lagipula sudah wisuda kuliah, butuh waktu sendiri-sendiri.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Sekarang Syansa sudah besar, menginjakkan kaki di SMA. Udara pagi itu terasa panas, bagaikan hidup di gurun pasir saja.
"Syansa, kita main basket yuk!" ajak Aliya.
"Gak ah, kamu saja." jawab Syansa.
"Hmmm gak seru, kalau gak ada kamu. Aku mau buat tim couple, dengan Umar." ucapnya.
__ADS_1
"Ajak yang lain saja." jawab Syansa datar.
Syansa diam-diam memendam perasaan dengan Umar, karena sudah lama bersahabat. Sejak kecil, mereka terbiasa menghabiskan waktu bersama.
"Syansa, ayolah kita main sesekali." Umar tiba-tiba muncul, berusaha membujuk sahabat karibnya.
"Bukankah, temanmu juga banyak. Apa harus aku, yang menjadi lawan tim couple kalian." jawab Syansa.
Aliya menggenggam tangan Syansa. "Sahabatku, aku ingin kamu menjadi saksi perjalanan hidup kami."
Syansa menepuk-nepuk telapak tangan Aliya, sambil tersenyum menyembunyikan rasa. "Iya sudah, ayo kita main sekarang."
Mereka bertiga melangkahkan kaki ke lapangan, dan terdengar suara riuh dari siswa dan siswi. Mereka sangat kagum, dengan Umar dan Aliya. Berbeda dengan dirinya, yang tidak terlihat sama sekali. Hanya dianggap pajangan, yang sering mengikuti langkah Umar.
Saat bermain basket, Aliya tidak sengaja terjatuh. Umar membantunya berdiri tegak, lalu membawanya ke ruang UKS. Syansa juga membantu memapah tubuhnya, sebagai rasa peduli antar teman. Meski ada rasa cemburu, namun rasa perikemanusiaan tetap tidak dihilangkannya.
"Syansa, tolong kamu panggil guru medis agar ke ruangan ini iya." pinta Umar.
Syansa mengangguk pelan. "Iya, aku akan mencarinya di kantor."
Syansa keluar dari ruangan UKS, menuju ke ruangan kantor. Biasanya para guru akan berkumpul di sana. Syansa memanggil ibu Ayfi, yang sedang duduk santai.
"Ada apa Syansa cantik?" tanyanya, sambil tersenyum.
"Aliya masuk UKS, tidak sengaja terjatuh saat bermain basket." jawab Syansa.
Ibu Ayfi segera ke ruangan UKS, karena mengkhawatirkan kondisi Aliya yang sebenarnya. Dia segera mengenakan alat medisnya, untuk memeriksa kondisi Aliya.
"Dia hanya sedikit luka, dan tulang bagian dalamnya baik-baik saja." ujar ibu Ayfi.
"Ibu ini terlalu khawatir, sampai harus menggunakan pengecekan tulang." jawab Aliya.
"Harus itu Nak, kalau bukan kamu siapa pengharum nama sekolah. Sebentar lagi, akan diadakan perlombaan." ucap ibu Ayfi.
"Ibu ini bisa saja, masih banyak siswa dan siswi lain." jawab Aliya.
”Aku sadar kok, hanya memiliki fisik biasa-biasa saja. Aku juga siswi dengan tingkat kecerdasan, yang sangat biasa-biasa saja. Jadi, aku tidak akan pernah bisa setara dengan Umar." batin Syansa bergumam.
__ADS_1