
Fiha hanya sekadar lewat, ingin membeli telur di toko. Hari ini dia tidak masuk kuliah, lagipula dosen tidak datang. Beberapa jam kemudian, Hasbi sudah kembali ke rumah. Tentunya, Fiha sudah ada dalam rumah.
"Bagaimana kuliahnya hari ini?" tanya Fiha.
"Alhamdulillah lancar." jawab Hasbi.
"Ali kok aneh banget, jadi murung dan diam. Waktu itu, bukankah dia masih baik-baik saja?" tanya Fiha.
"Waktu bisa merubah manusia jadi apapun. Bisa saja saat itu, merupakan sikap Ali yang terakhir kali. Biarkan dia menenangkan hati, aku paham dia sedang terpukul." jawab Hasbi.
"Hmmm... aku tidak tega melihat temanku seperti itu." ujar Fiha.
"Setidaknya, dia tetap pergi ke butik untuk membantu Ibu. Jadi, bonusnya telah diberikan padanya." jawab Hasbi.
"Hari ini aku sengaja tidak datang ke kampus, tidak enak menitipkan Syansa pada Ibu terus." ungkap Fiha.
"Iya sayang, aku pun merasakan hal serupa. Tapi Ibu tetap ngotot, ingin menjaganya dengan baik." jawab Hasbi.
"Aku bersyukur, punya Ibu mertua yang menyayangi cucunya." ungkap Fiha.
Hasbi tersenyum mengembang. "Aku juga bersyukur, punya istri yang mencintaiku."
Fiha menyodorkan botol empeng, pada mulut bayi Syansa. Lalu air di dalamnya mulai menyurut, karena masuk penuh ke dalam perut. Fiha menikmati suasana, yang membuatnya bahagia. Tidak semua bayi, bisa mendapatkan ASI dari ibunya.
Filda berjalan bersama Qalam, memegang erat kedua pundaknya. Rasanya dia nyaman, dan ingin tertidur pulas.
"Filda, kamu mau kemana?" tanya Qalam.
"Aku mau ke rumah Kak Fiha." jawab Filda.
"Oh, kamu mau ke rumah ponakan iparnya Ayah?" tanya Qalam.
__ADS_1
"Iya Ayah. Aku ingin melihat dedek Syansa" jawab Filda bersemangat.
Beberapa menit dalam perjalanan, mereka bertiga sudah sampai. Fiha dan Hasbi menyuruh mereka masuk.
"Hasbi, Ibu kamu mana?" tanya Qalam.
"Seperti biasanya Paman, dia pergi ke butik." jawab Hasbi.
"Apa kabar kalian?" tanya Qalam.
"Alhamdulillah baik, kalau Paman sendiri?" Hasbi balik bertanya.
"Alhamdulillah baik juga, seperti yang terlihat sekarang ini." jawab Qalam.
Tok! Tok! Tok!
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, ternyata itu kedatangan nenek dan kakek Hasbi. Fiha merasa senang, karena mereka datang jauh-jauh. Padahal usia sudah tua renta, namun memiliki pikiran untuk menemui cicitnya.
"Tentu saja Kakek akan duduk, pinggang ini terasa pegal. Pulau Ciredeng jauh, namun demi menemui Syansa kecil. Kakek ingin menggendongnya, tidak puas melihat dari ponsel tetangga." jawab si kakek.
Fiha melangkahkan kakinya ke dapur, membuatkan minuman untuk nenek dan kakek. Cukup lama melarutkan gula, dalam gerakan sendok besi.
"Nek, Kek, ini diminum dulu." ucap Fiha.
"Iya, terima kasih." jawabnya.
Keluarga itu kini tengah berkumpul bahagia, lengkap sudah keluarga mereka. Tidak butuh waktu lama, Yunah juga telah datang.
"Ibu, Ayah, apa kalian sudah lama datang?" Yunah bertanya, dengan nafas masih terengah-engah.
"Sudah sedikit lama. Kalau sibuk, tidak perlu memaksakan diri pulang. Nanti malam juga bisa bertemu." jawab Broto.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Ayah, bertemu lebih cepat juga menyenangkan." ujar Yunah.
"Iya, baguslah kalau merasa begitu." jawab Broto.
Yunah memberikan uang pada Filda, membuatnya melompat gembira. Padahal ibunya merupakan orang lumayan terpandang, tidak begitu susah dalam hal materi. Namun, menerima pemberian merupakan cara menghargai.
"Bisa buat beli es nih, terima kasih iya Bude." ucap Filda.
"Iya sayang." jawab Yunah.
"Kalau Nenek dan Kakek bilang mau ke sini, pasti kami mempersiapkan masakan yang enak." ucap Hasbi.
"Tujuan kami ke sini, hanya untuk melihat Syansa kecil. Sekaligus ingin melihat Ibu kamu juga, jadi tidak perlu banyak persiapan." jawab Ulfa.
Tidak butuh waktu lama, ada seseorang mengetuk pintu. Ternyata dia seorang perempuan, yang mengantar makanan pesanan Halifah.
"Kamu pesan makanan sebanyak itu?" tanya Qalam.
"Iya, iyalah, 'kan Ibu dan Ayah mertua datang. Aku ingin, kita makan bersama-sama. Sangat jarang bukan, bisa kumpul keluarga besar." jawab Halifah.
Mereka melangkahkan kaki, menuju ke ruangan lain. Dari ruang tamu menuju ruang makan, yang tidak begitu besar. Namun terlihat rapi, dan juga nyaman.
"Fiha, Hasbi, kalian kenal sejak kecil 'kan?" tanya Ulfa.
"Iya Nek, waktu itu aku suka bermain di sekitaran masjid." jawab Fiha.
Daging lembut yang digiling, telah bersatu dengan tepung. Ketika gigi menggigit terasa kenyal, dan orang lanjut usia tidak bisa memakannya. Maka dari itu, Halifah memesankan makanan lain. Suwiran daging tipis-tipis, bersamaan dengan sayur lembut. Itu makanan khusus, untuk nenek Ulfa dan kakek Broto.
"Halifah, kamu ini paling cepat dalam melakukan sesuatu." puji Qalam.
Halifah memasukkan makanan ke mulut suaminya. "Mulut dipakai untuk makan, jangan untuk menggombal."
__ADS_1