Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Musyawarah Hati


__ADS_3

Pulang dari kampus, Fiha pulang bersama Hasbi. Lalu dia melihat manusia, yang mengendarai motornya di belakang mereka.


”Apa jangan-jangan, Hasbi punya hubungan dengan Aqila. Tapi gak mungkin juga, dia menjadikannya simpanan. Sudahlah Fiha, jangan terlalu banyak berpikir. Kenapa dia menikahi kamu, kalau dia suka sama Aqila. Sudahlah, jangan terlalu bawa perasaan.” batin Fiha.


Mereka sudah sampai, dan Yunah menyuruh Aqila masuk. Bahkan dia merangkul pundak Aqila, dan mengabaikan Fiha di belakangnya.


"Gak usah cemberut gitu, nanti cantiknya hilang Fiha. Aku dan dia hanya berteman, sangat terlihat jelas di depanmu. Kami juga tidak diam-diam bertemu, di belakang kamu." ucap Hasbi.


"Hasbi, aku tahu kamu gak suka aku membantah. Aku tahu kamu kecewa, karena aku selalu bersama Ali. Tapi, ada hal yang jauh lebih penting dari perasaan." jawab Fiha.


"Jadi rumahtangga kita hanyut terbawa arus, kamu juga gak akan peduli. Kamu cuma peduli, dengan keadaan kamu saja. Apa kamu pernah berpikir Fiha, anak dalam perut kamu adalah anak kita. Dia membutuhkan orangtua lengkap, membesarkan dan mendidiknya bersama." jelas Hasbi, panjang dan lebar.


"Aku tahu, maka dari itu aku berjuang. Aku ingin menjadi seorang Ibu, bahkan kamu tidak pernah mengerti. Aku ingin menemani kamu Hasbi, meski untuk menyelesaikan urusan pribadi ku akan membuat salah paham." jawab Fiha.


"Katakan secara jelas Fiha, kalau secara samar akan banyak yang tersakiti." Hasbi memegang kedua pundaknya.


Tiba-tiba saja, kepala Fiha terasa pusing. Dia segera menghempaskan tangan Hasbi, sambil menahan sakit di dalam rongga dadanya. Fiha sudah berhasil masuk kamar, lalu menguncinya dengan rapat. Hasbi mengetuk pintu berkali-kali, namun Fiha tidak menjawabnya.


"Aduh, sakit sekali!" keluh Fiha.


"Fiha sayang, kamu kenapa?" Hasbi mengetuk pintu.


"Tolong aku sayang, anting aku nyangkut pada dalaman jilbab." Fiha hanya beralasan.


"Cepat buka pintunya, biar aku tolongin." ucap Hasbi.


"Nanti dulu sayang, aku sulit bergerak." jawab Fiha.


"Atau, kamu mau pintunya didobrak saja." ujar Hasbi.

__ADS_1


"Jangan Hasbi, biar aku yang bukain." jawab Fiha.


Beberapa menit kemudian, Yunah menepuk pundak Hasbi. Dia mengajak untuk makan bersama, karena mengerti Hasbi sedang lelah belajar di kampus.


"Ayo, makan siang dulu." ajak Yunah.


"Iya Bu, aku tunggu Fiha dulu." jawab Hasbi.


"Biarkan saja, kenapa si kamu harus peduli sama dia." ucap Yunah.


"Dia sedang melepaskan antingnya yang tersangkut." jawab Hasbi.


Yunah mendorong pintu, namun masih saja tidak terbuka. Dia mulai tahu, bahwa pintu terkunci dari dalam.


"Kenapa pintunya harus dikunci." Yunah protes.


"Mungkin Fiha mau ganti baju Bu, takut ada sembarang orang masuk." jawab Hasbi.


"Ibu suruh juga, Ali untuk menjauhi Fiha." jawab Hasbi.


"Ibu sudah mengatakannya agar dia menjauhi Fiha, namun Ali sama seperti Fiha. Dia juga bersikeras menolak, dan ingin terus berteman dengan Fiha." ucap Yunah.


"Mau apa lagi Bu, kita tidak bisa memaksa kehendak seseorang." jawab Hasbi.


"Terserah mereka saja, Ibu sudah pusing. Sekarang, Ibu mau temani Aqila di ruang makan." ujar Yunah.


"Iya Bu, aku tetap menunggu Fiha di sini." jawab Hasbi.


Yunah berlalu dari hadapannya, dan Hasbi masih setia menunggu di depan pintu. Aqila melihat Yunah, yang menyendok lauk pauk untuknya.

__ADS_1


"Bu, kita gak tunggu mereka dulu?" tanya Aqila.


"Gak usah, Kita makan berdua saja." jawab Yunah.


"Sebaiknya tunggu saja Bu, aku tidak enak." ucap Aqila.


"Kenapa harus tidak enak, Ibu yang menyuruh kamu makan." jawab Yunah.


Yunah menuang lebih banyak sayur, dan juga menuang air minum. Aqila memakan sayur tersebut, lalu meminum air putihnya. Beberapa menit kemudian, Hasbi muncul bersama Fiha.


"Fiha, ayo makan bersama di sini." tawar Aqila.


"Iya Aqila, aku tadi melepaskan anting tersangkut." jawab Fiha.


”Aku sebenarnya menunggu sakit reda, selepas minum obat penghilang nyeri. Maafkan aku, karena telah membohongi kalian.” batin Fiha.


Keesokan harinya, Hasbi pergi ke kampus bersama Fiha. Dia membawakan dodol kesukaan Aqila, yang dimasak oleh Yunah. Fiha melambaikan tangannya pada Ali, lalu pergi ke kelas.


"Sepertinya, aku sudah tidak dianggap menantu lagi." ujar Fiha.


"Kamu kok bicara seperti itu." jawab Ali.


"Karena Ibu mertuaku semakin mendekati Aqila, mungkin juga ada niat yang lain." ucap Fiha.


"Coba berpikir positif saja." jawab Ali.


"Aku si bisa berpikir positif, cuma hati aku gak bisa dibohongi." ucap Fiha.


"Baiklah, tidak perlu dipaksakan." jawab Ali.

__ADS_1


Ali dan Fiha membaca buku bersama, sampai banyak teman sekelasnya masuk ke dalam ruangan. Mereka menatap Fiha dengan sinis, sambil berbisik-bisik lirih.


__ADS_2