Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Berkas Pernikahan


__ADS_3

Filda berjalan memasuki mall, untuk membeli baju sekolah. Dia memasuki pintu lift, namun tiba-tiba pintu lift berhenti.


"Tolong!" teriak Filda.


Filda tidak bisa keluar dari sana, karena lift itu tiba-tiba rusak. Qalam kebetulan lewat di sana, banyak orang-orang sibuk. Mereka membicarakan anak kecil, yang terkurung dalam pintu lift.


"Siapa yang berada di dalam?" tanya Qalam.


"Anak kecil sekitar umur delapan tahun." jawab pria paruh baya.


"Aku akan segera menolongnya." ujar Qalam.


"Iya cepatlah sedikit, sebelum dia kehabisan nafas." jawabnya.


Qalam segera membuka paksa pintu lift, namun tidak bisa terbuka. Dia segera berlari, untuk meminjam linggis. Para teknisi mengambilnya di gudang, lalu membukanya dengan perlahan. Pintu lift akhirnya terbuka, lalu Qalam masuk. Dia mengangkat tubuh Filda, yang sudah melemas di dalam lift.


Khalifah pergi ke rumah sakit, saat mengetahui keadaan Filda yang dirawat. Qalam menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Terimakasih, karena telah menolong Filda." ujar Khalifah.


"Iya, sama-sama." jawab Qalam.


Keesokan harinya, Hasbi menghampiri Aqila. Dia ingin menanyakan, seputar kegiatan kampus Universitas Bersinar.


"Aqila, kamu mau tidak melakukan perencanaan kegiatan mahasiswi baru?" tanya Hasbi.


"Kamu aja, aku sedang sibuk." jawabnya cuek.


"Kalau kamu ada tugas, biar aku bantuin." tawar Hasbi.


"Gak usah, aku bisa mengerjakan sendiri." Aqila segera berlalu dari hadapan Habsi.


Fiha berjalan mendekat ke arahnya, bersamaan dengan Ali juga.


"Hasbi, Aqila kok mendadak cuek iya." ungkap Ali.

__ADS_1


"Gak tau, mungkin aja ada masalah." jawab Hasbi.


"Tapi, ini tuh aneh banget tau gak. Biasanya dia gadis yang ceria." ujar Ali.


"Iya, aku jadi gak enak. Kalau ada salah 'kan bisa diperbaiki, tanpa perlu mendapat penghindaran." jawab Hasbi.


"Terkadang wanita perlu waktu menyendiri, saat hatinya gak baik-baik aja." sahut Fiha.


"Yang kamu katakan, ada benarnya juga." jawab Hasbi.


"Darimana kamu tahu Aqila gak baik-baik aja, sedangkan kamu juga baru kenal." ujar Ali.


"Aku gak tau, cuma menebak versi sifat wanita aja." jawab Fiha.


Jam pelajaran kelas Agama Islam telah dimulai. Hasbi membuka tasnya, ternyata tinta penanya tidak ada lagi.


"Aqila, kamu ada pena dua gak? Aku mau pinjam, karena penaku habis isinya." ujar Hasbi.


"Ada." Aqila mengeluarkan penanya, lalu memberikan pada Hasbi tanpa menoleh.


"Gak ada kok Hasbi, kamu gak salah." Aqila mencatat pelajaran yang ditulis, pada papan tulis.


”Aku merasa Aqila berbohong, dia tidak mungkin menghindar tanpa sebab. Pasti sifatnya ini ada kaitannya dengan diriku. Tapi apa iya, yang membuat dia menjauh.” batin Hasbi.


Pulang dari kampus, Aqila mengendarai motornya seorang diri. Tiba-tiba saja, ada yang menghadang jalannya.


"Hei, serahkan kunci motornya." ujarnya.


"Tidak bisa, ini motor saya." jawab Aqila.


Mereka segera turun dari motor, lalu mendorong Aqila. Hasbi dan Fiha kebetulan lewat, mereka segera menolong Aqila.


"Hei, jangan sok jadi pahlawan." teriaknya.


"Kalian ingin membegal temanku, tentu saja kami akan menghajar kamu." jawab Fiha.

__ADS_1


Dua orang pria itu menghajar Hasbi, dan berdiri lagi setelah terpental. Mereka melakukan penyerangan terhadap Hasbi lagi. Namun masih juga kalah, dan memilih kabur.


"Aqila, kamu gak apa-apa 'kan?" tanya Hasbi.


"Gak apa-apa." jawab Aqila.


Aqila meneruskan ucapannya. "Aku pulang dulu iya, terimakasih."


Aqila tidak melihat ke arah Fiha, dia segera menegakkan motornya. Lalu setelah itu, Aqila menghidupkan mesin motornya. Aqila melaju dengan kencang, hingga menghilang dari pandangan mata.


"Fiha, aku merasa Aqila gak mau berteman lagi." ujar Hasbi.


"Kelihatannya kamu merasa kehilangan dia." jawab Fiha.


"Hanya kehilangan sebatas teman, ayo ke kantor KUA." ajak Hasbi.


"Iya Hasbi." jawab Fiha.


”Alhamdulillah, aku dan Hasbi akan menjadi suami dan istri. Terimakasih Ibu calon mertua yang baik, telah mempermudah jalanku sampai ke tahap ini.” batin Fiha.


Mereka mengurus berkas, yang akan dipersiapkan untuk pernikahan. Setelah itu mereka pergi ke mall, untuk membeli surat undangan. Jadinya singkat saja, tidak perlu pesan lagi.


"Hasbi, aku merasa kok kayak buru-buru iya." ujar Fiha.


"Fiha, ini tuh gak buru-buru. Lebih cepat lebih baik, daripada tiada ikatan halal." jawab Hasbi.


Hasbi hanya melihat sekilas, lalu menunduk lagi. Fiha yang masih belum paham, hanya melihat heran ke arah Hasbi.


”Masyaa Allah, Fiha cantik banget. Sabar Hasbi, jangan sampai bertatapan lama.” batinnya.


Di dalam perjalanan, Hasbi diam saja. Masih menjaga jarak, tempat duduknya dengan Fiha.


"Hasbi, kamu kok kayak kaku gitu. Apa baru pertama berboncengan dengan gadis?" canda Fiha.


"Iya, baru kamu orangnya." jawab Hasbi canggung.

__ADS_1


__ADS_2