Tafakur Cinta Mualaf

Tafakur Cinta Mualaf
Manajer Somplak


__ADS_3

Malam hari pukul 20.00. Fiha dan Hasbi masih di kantor. Fiha sedang diberi tugas begitu banyak, disuruh print ini dan itu.


"Fiha, coba kau perhatikan ruangan sebelah." ujar manajer.


"Memangnya ada apa, hanya ruangan gelap." jawab Fiha.


"Tadi, aku lupa mematikan laptop. Padahal, aku baru saja memutar anime hantu." ungkap manajer.


"Lalu, apa hubungannya denganku." jawab Fiha.


"Tolong kau matikan, aku sangat takut." pintanya.


"Harusnya Bapak lebih berani dari aku. Apalagi Bapak adalah pria, mana mungkin aku yang memeriksa sendiri." jawab Fiha.


"Kita periksa bersama saja, kau yang ada di depan." ujarnya.


"Baiklah." Fiha beranjak dari duduknya.


Manajer tersebut berjalan bersama Fiha, seraya membungkukkan sedikit badannya. Fiha akhirnya berhasil meraih laptop, meski sempat dikejutkan oleh suara pria muda tersebut.


"Aaaa!" Pria muda tersebut berteriak.


"Kenapa Bapak berteriak dadakan?" tanya Fiha.


"Tidak apa-apa, reaksimu benar-benar menakjubkan. Kamu sungguh berani, dalam bertindak." jawab manajer.


"Bapak ini berlebihan, hal semacam ini bisa dilakukan oleh orang lain juga." ujar Fiha.


"Ah, kau selalu saja merendah." jawabnya.


”Ternyata, tidak sia-sia aku mengetesinya.” batin pria tersebut.


Keesokan harinya, Fiha dan Hasbi melihat rumah masih sepi. Sepertinya, banyak dari mereka belum terbangun.


"Fiha, dia sedang memasak untuk kita." ungkap Hasbi.


"Dia siapa?" tanya Fiha.

__ADS_1


"Hih siapa lagi, bila bukan Syansa." jawab Hasbi.


Fiha mengeluarkan giginya. "Wah, pasti tulang ayam."


"Kau tidak harus bereaksi seperti itu. Bagaikan macan kelaparan, yang sudah tidak sabar menerkam mangsanya." jawab Hasbi.


Fiha segera berlari sambil melompat-lompat, lalu berdiri di samping Syansa.


"Pasti ada 'kan Syansa tulangnya?" tanya Fiha.


"Iya Bun, ada kok." jawab Syansa.


"Hore, aku senang mendengarnya." ujar Fiha.


"Bunda apa baik-baik saja, mengapa berubah selera kumpulan tulang." jawab Syansa, yang dari awal sudah penasaran.


Fiha menepuk jidatnya. "Heheh... aku juga bingung, ada apa denganku?"


"Itu karena kamu, semalam diberi tugas lembur. Biasanya, orang lembur tidak karuan." jawab Hasbi.


"Ah masa si begitu, biasanya aku baik-baik saja." ujar Fiha.


"Ayah harus bawa Bunda periksa ke dokter. Aku takut, dia punya hobi makan tulang." ujar Syansa.


"Nah benar, ayo kita ke rumah sakit sekarang." ajak Hasbi dengan bersemangat.


Di rumah sakit.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Hasbi.


"Selamat iya, istri anda hamil sebulan." jawab dokter.


"Terima kasih Dok." Hasbi memperlihatkan deretan giginya.


"Iya sama-sama." jawab dokter.


Mereka berdua keluar, dengan perasaan bahagia. Hampir saja Fiha lompat-lompat saat itu juga. Bagaimana tidak, sudah sekian lama menanti kehadiran anak kedua.

__ADS_1


"Sayang, ternyata kamu mengidap penyakit tulang." ujar Hasbi.


"Bukan mengidap sayang, lebih tepatnya mengidam makan tulang." jawab Fiha.


"Hahah... iya, iya, itu maksudku." canda Hasbi.


Fiha mencubit pinggangnya. "Tidak lucu sama sekali."


Bilang tidak lucu, tapi masih tertawa. Apapun hal yang dilalui bersama Hasbi, pasti Fiha merasa bahagia. Fiha terus tersenyum, sepanjang mengerjakan tugas kantor. Sampai Tris menepuk pundaknya, membuyarkan segala lamunannya.


"Fiha, manajer cerewet menyuruh kamu datang ke ruangannya." ujar Tris.


"Dia punya nama Tris, kamu tega banget sama dia." jawab Fiha.


"Iya, namanya aku gak tau si. Jadi, aku bilang manajer cerewet saja." ucap Tris.


"Namanya adalah Pak Gus." jawab Fiha.


Fiha segera masuk ke dalam ruangan Gus, setelah dipersilakan olehnya. Gus menyuruh Fiha duduk, lalu memperhatikan laptopnya.


"Fiha, kau lihat laptop ini. Bahkan sudah aku cas dari tadi, tapi masih saja tidak hidup." keluh Gus.


"Apa sudah dihidupkan tombol power nya." Fiha memeriksa sendiri, untuk memastikannya.


"Tentu sudah, dasarnya tidak mau hidup." Gus menepuk layar laptop.


Fiha melirik cas yang hanya asal coblos. "Pak, kelihatannya Bapak lupa menyalakan saklar."


"Oh iya, kau memang cerdas." puji Gus.


"Itu hanyalah masalah sepele." Fiha merasa heran, karena Gus memanggilnya hanya untuk menunjukkan hal konyol.


Fiha keluar dari ruangan itu, dan Gus masih tertawa melihat jejak Fiha. Ekspresi lucu wajahnya, membuat dia suka mengerjai.


"Aku mendapat mainan baru. Memang benar kata si bos, kalau Fiha ini pemberani. Bahkan dia cukup cerdas, jadi penasaran dengan masa lalunya. Dia tidak mungkin 'kan, langsung menjadi shalihah tanpa proses." Gus bergumam-gumam sendiri.


Waktu makan siang telah tiba, setelah setengah hari Fiha berkutat dengan laptop. Hasbi menggandeng tangan Fiha, hingga sampai ke sebuah kedai.

__ADS_1


"Kamu suka sekali memamerkan kemesraan." ungkap Fiha.


"Ini bukan memamerkan, tapi pemberitahuan pada semua orang. Fiha yang cantik, hanya milik Hasbi." jawabnya.


__ADS_2