Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Sendirian


__ADS_3

Leony yang sekarang sudah mengetahui semuanya dari Bian, ekspresinya berubah drastis. Tak menyangka hubungan mereka selama ini yang terlihat baik-baik saja kini harus berakhir seperti ini.


Leony mengambil uang 300 juta dan memberikannya kepada Bian. Tapi Bian menolaknya. Leony terus memaksa, dia mengatakan uang itu anggaplah hasil jerih payah pekerjaan mereka berdua. Dia juga mengatakan bahwa dia ikhlas Nurin dan Nita menikah. Dia hanya ingin Nurin bahagia, tak ada niat untuk menghentikan pernikahan mereka dengan melunasi hutang-hutang.


Bian akhirnya menerima uang itu dengan terpaksa. Leony pulang dengan wajah muram, seharian dia hanya di rumah meringkuk di kasur. Dia bisa mengingat sekarang, beberapa minggu yang lalu Nurin mengatakan ingin mengatakan sesuatu padanya. Mungkinkah hal ini yang dia maksud.


Fira yang yang tak melihat keberadaan Leony mengira bahwa dia pergi ke ladang. sesampainya di rumah dia heran Leony hanya berbaring di kasur. Matanya terpejam, tapi Fira tahu bahwa dia belum tidur. Fira tak ingin mengganggunya.


Esok pagi, Fira bingung melihat Leony mengumpulkan pakaian-pakaiannya dalam tas. Dia sangat heran mau pergi kemana temannya itu.


"Leony, kamu mau kemana?" Fira terheran-heran melihat Leony yang menyiapkan sebuah tas.


"Aku mau pergi sebentar Fir." kata Leony tanpa mengangkat wajahnya.


Fira akhirnya sadar bahwa temannya itu semalaman tak bisa tidur, wajahnya sembab dan matanya bengkak. Sesuatu yang tak baik pasti sudah terjadi.


"Kenapa? koq dadakan banget?" Fira mendekati Leony, "kamu ada masalah apa?"


Mendengar pertanyaan Fira membuat air mata Leony kembali mengalir, kali ini wajah dan matanya sangat merah.


"Cerita dong, biar aku tahu." kata Fira membujuk temannya itu, kemudian Fira merangkulnya.


Leony hanya sesenggukan di bahu temannya itu, lama sekali dia menangis. Setelah banyak air mata yang tumpah, Leony mulai berbicara dengan nada yang sangat serak.


"Ternyata selama ini Nurin dijodohkan Fir, dan sebentar lagi dia akan menikah." ucapnya sambil menangis.


"Apa?! yang bener kamu?" Fira sangat terkejut mendengarnya. Pantas saja dia menangis sampai matanya bengkak seperti itu.


"Mereka sebentar lagi mau menikah Fir, aku gak sanggup melihat dia lagi, aku mau pergi". Leony terus saja menangis.


"Iya.. aku ngerti, tapi kamu mau kemana?"


"Aku mau ke rumah mbak Ningsih" Fira menarik nafas panjang. Tak disangka hubungannya dengan Nurin yang selama terlihat baik-baik saja dan sangat harmonis kini telah berakhir

__ADS_1


"Yasudah, aku antar. Ayo siap-siap." ucap Fira pelan.


"Iya."


Tak lama kemudian Fira mengendarai mobilnya dengan dengan gesit. Mereka pergi menuju rumah Ningsih di kota. Dalam perjalanan, Leony hanya memandang keluar jendela. Sakit dan remuk rasanya mengalami hal seperti ini. Apakah ini yang namanya penghianatan?


Nurin yang biasanya tiap malam mengirim pesan chat, sampai siang itu tak ada kabar apapun.


Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, mereka disambut hangat oleh Ningsih. Layaknya sesama saudara perempuan.


Ningsih yang melihat wajah Leony yang amburadul hanya menyuruhnya masuk kamar dan istirahat. Fira lah yang menceritakan semuanya kepada Ningsih segala apa yang sudah terjadi selama mereka di desa dan tentang hubungan Leony dan Nurin.


Fira dan Ningsih yang faham betul perasaan itu hanya bisa diam. Sementara Leony tertidur di dalam kamar.


Malam hari, dia berharap Nurin memberikan penjelasan meskipun itu menyakitkan. Namun tak ada pesan apapun. Dia yakin sekarang dia benar-benar terbuang. Dia tidur dengan perasaan gelisah dan hatinya yang remuk.


******


Mendengar itu, Ningsih pasrah. Dia pun mengantar Leony mencarikan kontrakan, kemudian membelikan sepeda motor matic baru.


Leony hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada Ningsih. Hutang-hutangnya kepada Ningsih sangat banyak, dia berharap bisa cepat mengembalikan uangnya.


Malam hari, dia merasa kesepian. Tak ada kegiatan, tak ada teman. Fira pun tak mengirim pesan chat apapun, dia pasti memahami kalau Leony tak ingin diganggu sementara waktu. Sudah pukul 8 malam.


Biasanya di rumah dia sedang main handphone dengan Fira, mengobrol sambil makan camilan. Kemudian juga ada Nur.....


Plek!


dia menepuk wajahnya dan mengusapnya. Dia ingat akan melupakan Nurin selamanya. Nurin bukanlah siapa-siapa lagi baginya sekarang.


Malam itu dia berkeliling dengan motor, menikmati kesendiriannya. Angin malam membuatnya segar dan dingin, sedingin hatinya.


Di pinggir jalan ada pedagang kaki lima penjual sate. Dia sadar seharian ini perutnya belum diisi sama sekali, namun juga tak merasakan lapar sema sekali. Dia memesan sate dan mengambil 2 minuman dingin dalam box. Setelah makan, barulah dia bisa berfikir jernih sekarang. Dia harus kuat. Leony ingat pesan Ningsih. Dia harus menyayangi dirinya sendiri.

__ADS_1


Leony menarik nafas panjang, dia merasa agak baikan sekarang. Namun hatinya sangat sakit, mengingat kenangan-kenangan manisnya bersama Nurin, membuatnya sangat patah hati.


Malam ini dilewatinya sendiri lagi. Tanpa satu pesanpun dari Nurin. Malam ini dia tak bisa memejamkan matanya.


******


Besoknya Leony terbangun sudah pukul 09.00. Cepat-cepat dia bangun dan mandi, Tapi kepalanya terasa cenut-cenut tak karuan akibat sudah beberapa hari begadang. Perutnya juga terasa sangat lapar. Dia membeli nasi untuk sarapan dan makan dengan lahap.


Tak lama setelah itu, Ningsih menelpon. Dia menawarkan Leony untuk menjalankan usaha rumah makan miliknya tak jauh dari kontrakannya. Dia juga mengatakan kalau sebenarnya rumah makan itu sudah dijalankan oleh orang kepercayaan Ningsih, namun tak ada salahnya jika mereka menjalankannya berdua. Partnernya nanti adalah seorang laki-laki.


Leony mengiyakan tawaran Ningsih dan mengatakan besok dia akan datang, untuk sekarang matanya masih bengkak dan kepalanya sangat pusing.


Untuk menghindarinya begadang malam ini, dia mencari kesibukan. Berjalan-jalan mengintari pasar membuatnya senang. Dia sudah sangat hafal jalan di pasar besar itu. Dia membeli kasur kecil dan perlengkapan mandi. Dia tidak membeli perlengkapan memasak.


Hari sudah sore, dia pulang membawa banyak belanjaan. Tetangga kontrakannya menyapa dengan ramah. Sesampainya di dalam dia membuka pesan chat. Betapa terkejut dia mendapat pesan chat dari Nurin dan beberapa panggilan tak terjawab.


Dalam hatinya sangat senang, tapi dia tahu. Nurin menelpon hanya menanyakan soal uang 300 juta itu saja. Dia tak menggubris pesan dan panggilan dari Nurin.


Tak ingin lagi dia membuka lembaran yang sudah hampir tertutup.


Tak lama kemudian Fira juga mengirim pesan.


("Gimana kabar kamu?")


("Aku baik, kamu gimana disana?") Balas Leony.


"Baik aja, cuma tadi malam ada maling masuk.")


Leony terkejut membaca pesan Fira kemudian menelponnya. Fira mengatakan kalau dia baik-baik saja dan tak ada yang hilang. untuk sementara dia tinggal di rumah Bude Sum. Sementara Nurin memasang teralis.


Leony lega mendengarnya. Dia takut akan terjadi sesuatu pada Fira, dia memutuskan akan kembali secepatnya.


Malam hari dia berusaha tidur, namun bayangan pesan dari Nurin dan Fira nyaris hampir saja celaka membuatnya tak tenang. Dia mengirim Fira pesan chat untuk memastikan kalau dia tidur bersama dengan Bude Sum.

__ADS_1


__ADS_2