Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Tamu Tak di Undang


__ADS_3

Leony sedang mengajak bayinya pergi jalan-jalan. Kemudian mampir ke rumah Bude Sum.


"Assalamu'alaikum." Leony mengucapkan salam.


"Wa'alaikum salam," bude Sum menjawab salamnya. Ia menengok ke arah suara, "eehh... si tole(panggilan kepada anak laki-laki suku jawa) jalan-jalan ya Nang(anak laki-laki) sini sama embah."


Bude Sum menggendong si bayi dan menimangnya. Sejak kedatangan Leony dan bayi nya, bude Sum membiarkan rumahnya kosong. Kali ini ia pulang untuk menyapu rumahnya. Bude Sum sangat senang dengan kedatangan mereka berdua.


"Ndok, kamu kalau jalan-jalan atau main nggak usah ke rumah nya si Inah, nanti kamu di tanyain yang macam-macam sama dia. Kamu tahu sendiri kan mulut nya seperti apa??"


"Iya bude, aku udah tahu kok."


"Bagus lah... bude nggak mau kamu semakin sedih, sudah cukup penderitaan kamu sekarang, jangan sampai dengar si Inah ngomong yang bukan-bukan..."


"Iya bude."


"Nanti kalau dia ngomong yang aneh-aneh kamu bilang sama bude, biar bude sampluk itu mulutnya dia!"


Leony tertawa kecil mendengarnya. Ia senang bude Sum selalu berada sisi nya. Setelah bercengkerama cukup lama, Leony kembali ke rumah nya.


"Bude melu(ikut) to ndook, sek(sebentar) tak ambil gembok sek." Ia berjalan menuju ruang tengah untuk mengambil gembok yang selalu ia letakkan di atas meja televisi.


Mereka lalu pergi ke rumah Leony yang hanya berjarak beberapa meter saja. Akan tetapi, pemandangan yang tak biasa mengejutkan mereka. Rumah Leony ramai oleh beberapa orang yang bertampang sangar. Tak lain lagi mereka adalah body guard si Rizka. Di sana juga sudah ada Rizka dan Anita dan Narto.


Tapi, nampaknya Rizka dan Narto juga membawa beberapa body guard untuk melindungi mereka.


Rumah itu kini sangat penuh. Beberapa warga yang kebetulan lewat selalu mengarahkan pandangan ke rumah Leony.


Adam yang melihat Leony langsung memeluknya. Ia juga mengambil sang bayi dari pelukan pelukan istrinya. Leony memandang wajah Adam yang babak belur. Dia pasti di hajar lagi oleh para body guard Rizka. Leony tak tahan melihatnya, air matanya mengalir.


"Mas, ada apa ini? kenapa ramai sekali? kamu sudah seperti tawanan saja." Tanya Leony sangat heran. "Mas, apakah situasi sekarang menjadi lebih buruk??" tanya nya setengah berbisik.


"Iya Hani, kita bicara di dalam saja."

__ADS_1


Adam, Leony dan bude Sum masuk ke dalam rumah. Di ikuti oleh Anita dan Narto. Sedangkan Rizka nampak kesal namun masih memperlihatkan gaya cool nya. Ia masuk ke dalam mobilnya menunggu di sana.


"Ada apa ini, kenapa Rizka dan body guard nya sampai datang kesini mas? tanya Leony lagi. Mereka kini duduk lesehan di depan televisi.


"Hani, mas nggak tahu harus cerita dari mana. Keadaan kini semakin tak terkendali."


Suasana menjadi hening, kesedihan terpancar di wajah mereka semua. Bude Sum juga tak dapat berkata apa-apa. Ia di sana hanya untuk melindungi Leony dan bayi nya apabila ia diperlakukan semena-mena.


"Hani... mas dipaksa untuk menikah dengan Rizka hari ini juga." Ucap Adam menunduk.


Reaksi Leony biasa saja, ia tak marah dan juga tak terkejut.


"Aku tahu hari ini akan datang mas, karena itulah aku pergi meninggalkan kamu lebih dulu sebelum aku melihat kejadian ini di depan mataku."


Semua orang semakin sedih mendengar ucapan Leony.


Adam menarik nafas perlahan, "Semua sekarang sudah hancur Hani.. bahkan mamah sekarang ada di penjara karena perbuatan cerobohnya."


"Kenapa mas? memangnya apa yang sudah dilakukan mamah mas? apa mamah melakukan kesalahan?"


Kesedihan terpancar jelas di wajah Adam, mata nya kini berkaca-kaca. "Aku nggak tahu persis kejadiannya, karena aku juga di bawa paksa sama body guard dan di pukuli."


Anita angkat bicara, "mamah berusaha menggugurkan kandungan Rizka, diam-diam mamah memasukkan obat ke dalam minuman Rizka. Sayang sekali, Rizka menyadari perbuatan mamah sebelum memasukkan obatnya ke dalam minumannya. Rizka marah dan melaporkan kejadian itu ke kantor polisi."


Semua semakin hening sekarang, tak ada seorang pun yang berbicara. Agak lama mereka terdiam.


"Mas, carilah cara untuk mengeluarkan mamah dari penjara."


Anita menyahut, "itu pasti Leony, jangan khawatirkan mamah. Aku malah mengkhawatirkan keadaan kamu di sini, kamu merawat bayi kamu sendirian itu membuat aku hatiku merasa sangat sakit."


"Jangan pikirkan aku di sini kak, kehidupan ku di sini sangat baik. Ada bude Sum yang selalu membantuku."


"Leony, pulang lah kerumah. Kamu harus perjuangkan rumah tangga kamu." Ucap Anita.

__ADS_1


"Ini rumah ku kak, aku rasa sudah benar aku pulang ke sini. Aku nggak masalah mas Adam kalau harus menikah dengan Rizka. Kalau meminta cerai juga mas Adam nggak akan mungkin mau menceraikan aku. Jadi, biarkan semua berjalan dulu, biarkan aku tinggal di sini. Ku mohon, ini juga demi kebaikan kita semua."


Semua terdiam.


"Hani... aku nggak akan menceraikan kamu."


"Ya, mas. Aku tahu."


Tak berapa lama, si body guard masuk dan berbicara kasar.


"Adam, waktu sudah habis! Segera keluar sekarang!" Ucap body guard itu membentak Adam.


"Sekarang aku seperti hewan peliharaan mereka." Ucap Adam tak bergeming dari tempatnya.


Ia terus memeluk anak nya. "Sudah benar aku memilih kamu sebagai istriku Hani, tapi karena perbuatanmu sendiri aku menghancurkan segalanya. Dan kalian berdua juga terkena imbas nya, bukan kalian saja. Tetapi semua keluarga ku, ma'afkan aku! ma'afkan aku... ma'afkan aku...."


Adam menangis dan memberikan bayinya pada istrinya dan berdiri sambil menyeka air matanya. Sekarang Adam sangat menyedihkan, ia nampak seperti budak Rizka yang diperlakukan semena-mena.


Anita memeluk si bayi dan juga Leony. Ia juga menangis dengan sedih. Begitu juga dengan Narto. Mereka semua masuk ke dalam mobil. Adam tak mampu memandang wajah istri dan bayi nya lagi, ia hanya menunduk.


Leony memandangi kepergian mereka semua hingga mereka hilang dari pandangannya. Pemandangan ini lebih menyedihkan bagi nya dari pada kepergian ibunya untuk selamanya.


Hari itu dunia seakan hampa, hari-hari nya semakin tak berarti. Ia semakin banyak melamun. Hanya bayi nya lah yang mampu menyejukkan hatinya, ketika ia memandang bayi nya, ia melihat ada secercah semangat. Bayi nya bagaikan air hujan yang menyirami tanaman yang hampir mati kekeringan.


Ia memeluk bayi nya yang lucu dan mengajaknya bermain. Bude Sum senang melihatnya, di sana ia membantu agar Leony segera melupakan kesedihannya.


Tak berapa lama, sebuah mobil meluncur tepat di halaman rumah. Fira membuka pintu mobil nya dan masuk ke dalam rumah.


Fira masuk dan langsung memeluk Leony. Ia sudah mengetahui semuanya dari bude Sum. Hanya saja bude Sum belum sempat mengatakan perihal kedatangan Fira.


"Ma'af ndok, bude lupa kasih tahu kalau nak Fira akan datang hari ini."


Mereka semua bagaikan keluarga kecil untuk Leony. Mereka semua adalah semangat hidupnya sekarang.

__ADS_1


__ADS_2