
Setelah ibu mertuanya dan Rizka keluar dari toilet, Leony memberanikan membuka pintu sambil menengok ke kanan dan kiri. Ia melihat Adam duduk di kursi depan ruangannya, sesekali menjawab pertanyaan karyawannya bagaimana susunan dekorasinya.
"Mas," Leony menyapa dan duduk di samping suaminya.
"Kamu lama banget sih, ini udah hampir selesai loh," Adam menatap istrinya dengan tatapan heran, "Bagaimana hasil pemeriksaan kamu tadi? kamu baik-baik saja kan?"
"Aku cuma kurang darah mas, sekarang sudah jauh lebih baik," katanya meyakinkan suaminya. Sekarang ia tak ingin seorangpun tahu berita kehamilannya. Ia tak ingin diri dan bayi nya celaka.
Hari itu Leony lebih banyak diam dan melamun, ia berusaha mengalihkan pikirannya namun perkataan ibu mertua yang tadi didengarnya selalu menghantui.
"Hani,hani?!" Adam sudah memanggilnya berulang kali, istrinya tak bergeming sedikitpun.
Adam menepuk bahu istrinya, sehingga ia terkejut.
"Hani, kamu dari tadi dipanggil diam saja?! mas tanya, kamu sudah makan apa belum? kalau belum ayo kita cari makan!"
"Ma'af mas, aku nggak konsen. Sepertinya perutku memang lapar mas," katanya berusaha mencari alasan.
"Ayo, kamu ikut nggak?"
"Iya mas."
Mereka berdua pergi ke warung makan tepat di sebelah perusahaan, disana nampak ramai. Dan di sana juga ada ibu mertuanya sedang makan siang bersama Anita dan Rizka. Leony kembali merasakan tubuhnya bergetar, tak sanggup rasanya jika ia harus melihat wajah ibu mertuanya saat ini.
"Kamu pesan apa hani?" Adam duduk di kursinya.
"Aku pesan rawon aja mas."
"Mbak, rawon 1 nasi padang 1. Minumnya teh es 2, es jeruk 1!" katanya kepada pelayan yang datang mendekat.
"Baik, mas!" sahut pelayan.
Setelah makan siang selesai mereka kembali ke kantor. Namun Leony melihat ibu mertuanya telah keluar menggunakan mobilnya, di iringi oleh Anita. Entah kenapa Leony seakan terus memperhatikan gerak gerik ibu mertuanya sedari tadi. Ia menghembuskan nafas kasar, dan berusaha berpikir positif. Karena sejak mendengarkan perbincangan ibu mertuanya dan Rizka, perasaannya jadi sangat paranoid.
Adam dan Leony menyelesaikan pekerjaan sampai sore hari. Sesekali mereka juga ikut membantu menata ruangan dan segala hiasan dinding. Disana terlihat Anita juga sedang sibuk, juga ada kedua putrinya yang menemani.
Leony bersyukur ibu mertuanya tak meminta uang padanya untuk keperluan dekorasi lagi, karena Adam sudah tak memberikannya uang lagi seperti pembicaraan kemarin.
__ADS_1
"Hani?!"
"Ya, mas?"
"Ditanya kok diam aja?"
"Ma'af, ada apa mas?"
"Ini bagus kan di sini?" Adam menunjukkan hiasan bunga dinding yang dipegangnya.
"Jangan disitu mas, kelihatan berantakan. Nggak sesuai sama hiasan disampingnya. Mendingan mas taruh di pojok saja, lebih kelihatan manis dan rapi."
"Masa sih?" Adam berulang kali mondar-mandir menyesuaikan hiasannya sebelum akhirnya dia menuruti perkataan istrinya.
"Hani, kamu kok nggak bantuin mas?"
"Aku takut mas, naik-naik ke kursi nanti kalau jatuh gimana?"
"Kamu kan nggak sedang hamil, ngapain khawatir?"
"Aku nggak hamil aja udah takut mas, apalagi hamil," Leony agak kesal dengan suaminya yang agak memaksa. Ia mengkhawatirkan anak dalam kandungannya.
Leony hanya menarik nafas panjang. Suaminya tak mengerti, seharian ia dan bi Sri bekerja keras membersihkan seluruh rumahnya yang besar. Belum lagi tukang kebun yang cuti lama, membuatnya bekerja lebih keras menjaga halaman rumah agar tetap bersih. Memasak makanan dengan susah payah, agar mendapatkan hasil masakan terbaik.
Terlebih jika pekerjaan salah di mata ibu mertuanya, semua pasti kena marah. Selama ini ia tak lebih seperti pembantu rumah tangga. Sejak ia mengalami mabuk hamilj atau morning sickness, ia terlihat seperti perempuan pemalas. Ia sudah berusaha menghilangkan kebiasaan buruk nya itu, tapi tetap saja. Namanya juga hamil muda, semua perempuan merasakannya.
Ia menghembuskan nafas kasar, "Mas, aku pulang duluan. Aku mau mampir ke swalayan."
"Hani, kamu ngambek? baru dibilangin seperti itu saja kamu sudah ngambek."
"Aku nggak ngambek mas, ada sesuatu yang harus aku beli. Aku takut pulang kesorean."
"Yasudah, jangan lama-lama keluarnya, mas juga akan pulang sebentar lagi."
"Ya, mas."
Leony menuju parkiran dan menyalakan motornya. Di sana ia berpapasan dengan Rizka, Rizka tersenyum kecut.
__ADS_1
"Mau kemana Leony?"
"Aku mau keluar Rizka, kamu ngapain ke sini? sekarang hampir jam pulang kan?"
"Iya, aku di sini juga partner kerja loh. Aku juga harus bantu kalau di sini lagi repot." katanya sambil membenahi baju dan rok span nya, ia terlihat sangat seksi hari ini.
"Oh, begitu. Yasudah, sampai ketemu lagi."
"Okey, bye." sahutnya singkat dan masuk menuju kantor.
Leony sedikit bergetar, sebelum hari ini ia merasa baik-baik saja. Namun sekarang, ia merasa tak bisa mempercayai siapapun. Ia kembali teringat, saat ia mengalami penganiayaan. Jika bukan karena mbak Ningsih, ia bukanlah siapa-siapa sekarang.
Ia menjadi sangat sedih, dan meneruskan laju motornya. Sepanjang jalan ia hanya memikirkan tentang anak yang dikandungnya, apakah ia harus terus diam dan menyimpan segalanya? sampai kapan?
Tiba di swalayan, ia masuk dan berbelanja. Ia mengambil beberapa merk parfume, sekarang ia sangat senang mencium bau wewangian. Ia mengambil 4 botol parfume yang berbeda, pengharum ruangan dan beberapa alat kecantikan.
Ia menggunakan ATM pribadinya dan membayar di kasir. Betapa terkejutnya ia melihat Amira yang menjadi kasir swalayan.
"Amira?"
"Le-Leony? kamu Leony?"
"Iya."
Amira menyelesaikan pembayaran Leony, kemudian setelah selesai ia mengajak Leony mengobrol berdua. Ia kesulitan berjalan, dengan perutnya yang sudah hamil tua.
"Leony, ma'afkan aku..." katanya menangis sesenggukan dihadapan Leony.
Leony bingung harus bagaimana, temannya yang dulu susah senang bersama telah tega menjebaknya sehingga ia mengalami penganiayaan. Di sisi lain, Leony berpikir mungkin Amira sudah mendapatkan ganjaran dari semua perbuatannya.
"Leony, tolong ma'afkan aku. Aku sudah mendapatkan balasan dari semua perbuatanku! kamu lihat sekarang aku sudah nggak punya siapa-siapa lagi. Aku berusaha menghidupi diriku sendiri dan bayi yang aku kandung," ucapnya sesenggukan.
"Apa itu anakmu dengan Sandi?"
Amira mengangguk, "Leony, maukah kamu jadi temanku lagi? pleeeaasse."
"Amira, kamu sudah menjebakku sampai aku mengalami penganiayaan dan terluka parah. Mema'afkan mu itu sulit, terlebih lagi Sandi juga sudah menghamili Nita, yang akhirnya membuat mas Nurin menikahinya. Dan itu membuatku hancur untuk kedua kali. Aku belum bisa mema'afkan kamu. Tapi kalau kamu nggak punya seseorang saat butuh pertolongan, panggil aja aku, aku akan menolong kamu. Ini nomor telpon ku," ucap Leony menyodorkan kartu nama.
__ADS_1
Amira menangis penuh haru, belum lagi ada 10 menit ia menangis matanya sudah bengkak tak karuan.