
Dua bulan sudah Leony dan Adam menjalin hubungan asmara, Adam berniat melamar Leony dan berniat menikahinya. Keseriusan Adam ditunjukkannya dengan mengajak Leony menemui orangtuanya di kota.
Setelah melakukan perjalanan lumayan jauh, mereka sampai di sebuah rumah mewah bertingkat. Adam masuk dengan menekan finger lock. Tak ada satupun orang terlihat di dalam rumah mewah itu. Mereka menuju sebuah kamar di dekat tangga. Disana terlihat seorang laki-laki paruh baya sedang sakit terbaring lemah.
"Leony, ini ayahku," katanya berlutut dan duduk di samping ayahnya. Ayahnya terkena stroke ringan sehingga kesulitan berbicara. Sedangkan untuk berjalan dia masih mampu. Ayah Adam berusaha duduk melihat kedatangan kami.
"Pak, kenalkan ini Leony teman Adam," ucap Adam sambil tersenyum. Ayahnya berusaha berbicara namun sama sekali tidak jelas sehingga ia hanya memberikan isyarat saja.
Agak kesulitan berkomunikasi dengan Ayahnya, jadi Leony hanya berbicara sepatah dua patah kata saja. Kemudian Adam membopong ayahnya untuk menaiki kursi roda yang ada di samping tempat tidurnya.
Mereka berdua membawa ayahnya berkeliling rumah dan taman. Untuk mengusir kebosanan. Di sana ada 2 pembantu rumah tangga dan 1 tukang kebun. Adam menanyakan dimana ibu dan kakaknya. Pembantu rumah tangga itu berkata kalau ibu dan kakaknya sedang pergi bekerja di perusahaan.
Jadi mereka menunggu saja hingga malam hari. Pembantu rumah tangga terlihat sedang mengurus ayah Adam untuk berpakaian dan makan. Setelah menunggu beberapa saat ibu dan kakak Adam datang. Mereka berdua terlihat lesu dan kelelahan dan langsung menuju meja makan. Di sana ibu dan kakaknya heran melihat Leony.
"Mah, kenalin ini Leony temen aku." kata Adam sambil mengambil piring.
"Oh, ya. silahkan makan Leony. Anggap saja ini rumahmu sendiri," kata ibunya Adam tanpa melihat Leony dan mengambil makanannya dengan cepat. Rupanya perutnya sangat lapar saat itu.
"Ayo makan," ucap kakak perempuan Adam kepada Leony.
"Iya kak," Leony juga mengambil nasi dan lauk pauknya.
__ADS_1
Di meja makan ada banyak sekali menu makanan disana sehingga Leony bingung harus mengambil yang mana, jadi dia hanya mengambil makanan yang terdekat dengannya. Di meja makan tersedia sop sea food, sambal, saos, tumis capcay, sayuran hijau dan ikan goreng dengan potongan yang besar-besar.
Selesai makan mereka semua duduk di ruang keluarga sambil memakan buah. Ibu nya memulai percakapan.
"Adam, bagaimana bisnis kamu di desa?" tanya ibunya ke Adam.
"Lumayan mah, meskipun di desa tapi di sana sangat strategis. Jadi hasilnya memuaskan." kata Adam dengan percaya diri.
"Hebat kamu ya Adam, baru beberapa bulan di desa sudah dapat cewek di sana." kata kakak perempuannya, Anita.
"Iya kak, aku rasa kami berdua cocok jadi, kenapa enggak?"
"Mamah berharap ini yang terakhir untuk kamu, kalau bisa segera saja kalian menikah." kata ibunya Adam.
Anita, kakak Adam sebenarnya sudah menikah. Tapi karena harus membantu ibunya di perusahaan dia meninggalkan anak dan suaminya di rumah. Meskipun jarak rumah mereka tak terlalu jauh, Anita merasa nyaman tidur di rumah ibunya yang kamarnya luas dan ber AC. Sedangkan dirumahnya hanya ada satu AC di ruang tengah. Membuatnya tak puas untuk tidur dirumah. Dia ingin melepas penatnya bekerja seharian, kalau di rumahnya kedua anaknya terlalu berisik mengganggu tidurnya. Kamarnya yang sempit membuatnya lebih betah di rumah orangtuanya.
Adam menunjukkan kamar kosong untuk tidur Leony di lantai bawah, kamarnya sangat indah dan cantik. Sedangkan Adam akan tidur di kamarnya sendiri di lantai atas. Adam menunjukkan kamarnya dilantai atas. Butuh waktu hampir 3menit untuk sampai ke kamar Adam.
Rumah yang sangat luas sekali, siapapun akan terkagum dengan kemewahannya. Namun sayang, ibunya Adam tak ingin tidur satu kamar dengan suaminya. Dia selalu mengeluh bau keringat suaminya yang tak sedap. Ia memilih tidur di kamar yang terpisah, lebih nyaman, wangi dan bebas.
Malam itu, Leony dan Adam berjalan-jalan di taman rumah. Di sana banyak lampu taman yang indah menggunakan surya panel sehingga lebih hemat energi.
__ADS_1
Mereka menyusuri kolam ikan di sepanjang samping rumahnya, ikan koi yang sangat cantik. Bunga-bunga yang mekar di malam hari, wangi semerbak menambah kemewahan. Ada banyak bunga di sana bermacam-macam jenis dan warna. Ada juga tanaman pagar yang dirawat setiap hari membuatnya terlihat sangat rapi.
Setelah mengintari rumahnya, merekapun beranjak ke kamar masing-masing untuk tidur. Leony terus memandangi kamarnya yang luas dan mewah. Dia ingat rumah tempat tinggalnya di desa dulu bersama ibunya. Hanya bilik bambu, kemudian di rehab perlahan menjadi rumah kayu. Namun masih berlantaikan tanah. Setelah dia membangun perumahan, perlahan rumahnya direnovasi menjadi bagus dan cantik. Ada plafon berukir dan lantai keramik. Itu saja membuatnya sudah sangat bersyukur. Satu kamar ini jika dibandingkan dengan rumahnya tak ada bandingannya karena mewahnya.
Agak susah malam ini dia memejamkan matanya. Tak terbiasa dia tidur dirumah mewah apalagi bukan rumahnya. Sedang di tempat tinggal Ningsih saja, meskipun rumahnya besar dan mewah. Namun tak semewah rumah ini. Setelah beberapa lama dia bisa memejamkan matanya.
Dia bangun pagi sekali dan pergi mandi. Setelah selesai mandi dia ke dapur dan membantu memasak. Dia berusaha memperhatikan kebiasaan orang rumah. Dan juga membantu ayah Adam sarapan, setelah sarapan Leony mengajak ayahnya berjalan-jalan menghirup udara pagi. Ibu yang melihat aktivitas Leony terus berjalan santai bersiap untuk pergi bekerja.
Tak lama kemudian Anita menyusul keluar dari kamarnya dengan masih mengenakan pakaian tidur. Dia langsung menuju dapur dan sarapan. Terlihat dia sedang mengangkat telpon, suaminya.
"Ya mas, aku baru saja bangun." katanya lesu sambil mengambil jus dari dalam kulkas.
"Kapan kamu pulang? sudah dua hari dua malam kamu tinggalkan anak-anak kamu," kata suaminya di telpon.
"Nanti sore ya mas, aku kerja dulu."
"Tiap hari kamu kerja, anak-anak kamu jadi terlantar. Setiap hari aku memasak, mengurus mereka, antar jemput sekolah. Itukan sebenarnya tugas kamu," ucap suaminya mengomel.
"Mau bagaimana lagi mas, aku harus bantu ibu di perusahaan. Kamu sendiri kan tahu, aku kan sudah bilang mas lebih baik kamu bayar pembantu untuk urusan rumah."
Setelah Anita mengeluarkan kalimat itu, telpon terputus. Sepertinya suaminya marah kali ini kepadanya. Anita bingung harus bagaimana. Dengan wajah cemberut dia mengambil sarapan paginya dan makan sendirian di meja.
__ADS_1
Tak lama kemudian Adam keluar kamar, dan yang paling pertama dia cari adalah Leony. Leony sedang asyik di taman mengajak ayahnya jalan-jalan pagi. Adam sangat senang melihatnya.