
"Hani, kemari sebentar," Adam bolak balik menghitung uangnya di berankas kecil dalam lemari pakaiannya.
"Sebentar mas, aku belum selesai mandi," teriak Leony dari dalam kamar mandi.
Adam menunggu istrinya agak lama keluar dari kamar mandi. Kini istrinya telah selesai mandi dan mulai mengganti pakaian.
"Hani, uang di dalam berankas hilang 3 juta. Apa kamu memakai uangnya?" Adam bertanya sambil menunjukkan sisa uang ditangannya, "Uangnya hanya tersisa 8 juta saja, kamu mengambil 3 jutanya kan?"
"Iya mas, maafkan aku," kata Leony hanya menunduk dan duduk di samping suaminya.
"Kenapa kamu mengambil uangnya tanpa memberitahu terlebih dahulu? dan untuk apa uangnya? apakah uang yang aku kasih ke kamu sudah habis?" Adam mulai terheran dengan istrinya.
"Mas, biar aku jelasnya semuanya biar nggak ada salah faham," Leony mengambil nafas berusaha tenang.
"Ya, dan mas harap alasan kamu masuk akal."
"Mas, uang belanja 20 juta sudah habis untuk keperluan di rumah ini," Leony mengambil semua nota belanja yang selama ini diberikan bi Sri kepadanya, "total uang belanja di nota ini 13 juta rupiah lebih sedikit. Dan mamah juga meminjam uangnya 5 juta, uang yang kamu berikan sekarang sudah tak tersisa sedikitpun." Leony menarik nafas panjang setelah mengatakan itu.
"Lalu, uang 3 juta dalam lemari ini digunakan untuk apa?" Adam berusaha menahan emosi, wajahnya mulai memerah.
"Mamah meminjamnya mas, aku merasa nggak enak. Jadi aku penuhi saja permintaannya."
"Oh, begitu," Adam berdiri keluar kamar.
"Mas, kamu mau kemana?" Leony menarik tangan suaminya.
"Nggak kemana-mana,"
"Mas, aku tahu kamu akan memarahi mamah kan? aku sudah berkata jujur mas, jadi bisakah kamu menghargai kejujuran ku mas? aku berkata jujur bukan supaya kamu memarahi mamah," ucapnya dengan tatapan sedih.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Adam yang kini terduduk di samping ranjangnya.
"Kamu harus ikhlaskan, dan lebih baik uang belanja langsung kamu berikan kepada bi Sri. Biar dia yang urus segalanya, karena kalau uang itu ditanganku, aku rasa juga percuma mas,"
"Padahal mamah sudah kuberikan 20 juta, untuk keperluan di dapur. Itu semua diluar gajinya dari perusahaan. Mamah memang keterlaluan," ucap Adam mengusap wajahnya.
__ADS_1
"Kamu ingat ayah mas, kalau kamu marah-marah ayah pasti akan sangat sedih,"
"Iya. Hani, mulai sekarang aku yang pegang uang dan seluruh ATM. Kalau kamu perlu uang kamu tinggal bilang saja," ucap Adam.
"Baik, mas."
Akhirnya emosi Adam bisa diredam, ia bangkit dan berangkat kerja. Sebelum berangkat, ia memberikan bi Sri uang belanja. Adam bersikap acuh tak acuh kepada ibunya, dan melewatinya begitu saja.
"Leony, kamu sudah minta uang sama Adam?" tanya ibu mertuanya.
"Maaf mah, mas Adam nggak memberiku uang lagi. Ia sangat marah karena uang dalam lemari aku ambil 3 juta."
"Kamu nggak bohong kan sama mamah? karena kalau kamu bohong, mama nggak akan anggap kamu menantu mamah lagi!" kata ibu mertuanya melototkan matanya besar-besar.
"Nggak mah, aku nggak bohong."
Ibunya berlalu dengan kesal, karena Gagal mendapatkan uang pagi ini. Ia terus saja mengomel tak karuan sampai ke depan pintu rumahnya.
"Non, sebenarnya apa yang terjadi non? kenapa nyonya besar selalu meminta uang sama non, dan kenapa saya di kasih uang belanja 3 juta pagi ini sama den Adam?"
"Saya merasa nggak enak non, seumur-umur saya disini baru kali ini disuruh pegang uang belanja sebanyak ini."
"Iya bi, saya juga merasa nggak enak. Sekarang saya mengalah saja tak memegang uang sepeserpun agar ibu tidak terus-terusan cari masalah."
Bi Sri nampak sedih mendengar curhatan Leony, tak disangka keluarga kaya raya punya segalanya masih saja cekcok soal uang, uang dan uang.
Pagi itu mereka hanya sarapan berdua, karena ayahnya ingin sarapan di taman. Sedangkan kakak iparnya akhir-akhir ini sudah jarang tidur di rumah orang tuanya. Ia mulai belajar mengurus rumah tangganya meskipun tetap bekerja.
Tak berapa lama, Leony merasakan pusing kembali seperti kemarin. Ia naik ke kamarnya diatas dan bersiap tidur. Ia merasa heran akhir-akhir ini sering mengantuk dipagi hari dan tidur sangat pulas.
Dor dor dor dor!
"Leony! Leony!" ibu mertua memanggilnya.
Dor dor dor dor dor! Lagi, suara pintu digedor.
__ADS_1
"Iya, mah..." Leony berusaha bangkit dan membukakan pintu.
"Amit, amit kamu ya! mamah sama suami kamu kerja seharian dan kamu enak-enakan tidur jam segini?! kamu lihat sekarang masih jam berapa?!"
Leony menengok jam di dinding, baru pukul setengah sepuluh pagi. Entah mengapa sudah beberapa hari matanya terasa sangat lengket.
"Maaf mah, aku ketiduran."
"Enak banget kamu bilang ketiduran?! sekarang bangun, kalau kamu nggak ada kerjaan mending kamu ngurus ayah kamu sana!"
"I-iya mah," Leony menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
"Leony, mana baju baru yang mamah belikan kemarin? mamah mau pinjem sebentar. Mamah ada pertemuan sama temen-temen mamah. Sepertinya baju kemarin cocok juga kalau mamah yang pakai."
Leony mengambilkan dress yang kemarin dibelikan ibu mertuanya, "ini mah," ia memberikannya kepada ibu mertuanya.
"Nah, ini baru cakep," ucap ibunya memuji-muji dresss yang dipegangnya, "Ibu mau keluar dulu, kamu jangan tidur lagi. Pamali, kamu ngerti kan?!" ibunya keluar kamar dengan senyuman yang sumringah.
Dengan terpaksa Leony turun ke lantai bawah, padahal matanya masih tetap saja lengket sangat mengantuk. Ia berusaha menahan kantuknya dan menuruni tangga.
Leony menemani ayahnya duduk di sofa depan televisi, tak berapa lama kemudian ibu mertuanya muncul dengan dress berwarna pink fanta.
"Gimana? mamah cocok kan memakai dress ini? yah.. mamah masih cantik kan?"
"Haaa huuuu... huuuu huuu !!" Suaminya tak dapat berbicara dengan jelas, ia hanya bersuara keras dan menunjuk-nunjuk istrinya dengan ekspresi marah. Siapapun bisa menebak ia sedang jengkel melihat tingkah istrinya, "Huaa! haaa huuuuu!!" ia hanya bisa memerintahkan istrinya untuk pergi dengan isyarat.
Istrinya yang melihat suaminya marah langsung berlari keluar rumah menuju mobilnya.
"Ayah,ayah. Sabar ayah." Leony berusaha menenangkan ayah mertuanya.
Ayahnya berusaha duduk dan masih mengeluarkan suara jengkelnya. Ia pun kembali tenang setelah beberapa saat. Keributan kecil kecil membuat bi Sri ikut berlari-lari kecil.
"Ada apa non?" tanya bi Sri penuh penasaran.
"Nggak bi, nggak apa-apa kok," Leony memberikan isyarat kepada bi Sri dengan menujukkan arah ibu mertuanya yang baru saja keluar rumah dengan mobilnya. Bi Sri mengerti dengan isyarat Leony dan hanya mengangguk-ngangguk.
__ADS_1