Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Bagian


__ADS_3

Ponsel Leony terus berdering, namun ia enggan untuk menerima telpon dari suaminya. Selimutnya kini telah basah dengan air mata, matanya sembab tak berhenti menangis. Jam menunjukkan pukul 7 malam, namun ia sudah terlelap hingga pagi.


Pagi yang cerah setelah hujan semalaman membuat halaman rumah nampak sangat kotor oleh daun-daun yang berserakan. Leony bangun pagi dan segera membersihkan pekarangan rumah yang kotor. Sedangkan bi Sri sibuk memasak di dapur.


Setelah selesai memasak, bi Sri meminta uang belanja lagi. Leony menuju ke kamarnya, ia mengambil semua sisa uang di ATM yang diberikan suaminya. Seluruhnya hanya tersisa 1,5 juta. Ia menarik nafas panjang, uang 1,5 juta itu hanya cukup untuk belanja 1 minggu. Setelah ini ia pasti akan memakai uang pribadinya untuk belanja sehari-hari.


"Bi, ini uang 1,5 juta. Bisa untuk 3 kali belanja kan bi?" tanya Leony menyodorkan uang.


"Bisa non, cukup," kata bi Sri menyimpan uang di dalam sakunya, "saya pergi belanja dulu non."


Leony hanya bisa terpaku melihat bi Sri yang menerima uang belanja terakhir yang diberikan suaminya. Sebenarnya belanja untuk di dapur tak seberapa mahal, hanya saja harus membeli jamu herbal untuk ayahnya 200 ribu untuk satu minggu. bi Sri berusaha menghemat belanja dan mengatur keuangan, jika tidak dia pasti akan kena marah.


Pagi-pagi sekali Anita datang dengan membawa kedua anaknya. Mereka tampak sumringah, Anita juga mengganti warna cat rambutnya yang semula cokelat menjadi pirang ke emasan, dengan pakaian rapi seperti biasa.


"Tumben sekali kak, anak-anak ikut?"


"Iya, mereka bosan terus di rumah sama papahnya. Sesekali ku bawa aja kesini," katanya mengibaskan rambut pirangnya. Ia hanya tersenyum tipis kemudian masuk menyusul anak-anaknya.


Leony sudah selesai menyapu pekarangan, hari yang cerah membuat sampah dedaunan cepat kering dan siap di bakar. Ia membakar sampah daun yang sudah ia kumpulkan di dalam tong besar.


Setelah pekerjaannya selesai, ia masuk untuk mandi. Semua orang berkumpul di ruang tengah menonton televisi menikmati camilan, Leony hanya tersenyum tipis melewati mereka.


"Leony?" ibu mertuanya memanggil.


"Ya, mah?"


"Mamah heran sama kamu, kamu di rumah ini udah kayak babu aja. Pakaian lusuh, bau badan kamu nggak karuan! sesekali kamu perawatan yang bener! kasian suami kamu bekerja siang malam menafkahi kamu tapi kamu simpan saja uangnya. Mau sampai uangnya beranak pinak?"


Degh! lagi, sekali lagi petir seperti kemarin menyambar. Tangan dan kaki Leony mulai gemetar. Uang banyak?

__ADS_1


"Iya mah," hanya kalimat itu yang dapat iya lontar dari mulutnya.


Ia naik ke kamarnya di lantai atas dan pergi mandi. Selesai mandi ia melihat ponselnya, ada beberapa panggilan tak terjawab lagi dari suaminya dan beberapa pesan chat. Leony kembali menelpon Adam.


"Mas?"


"Hani, ma'afkan mas. Kamu pasti marah mendengar ucapan mas tadi malam?" katanya penuh sesal.


"Ya mas, nggak apa-apa," Air mata mulai mengalir lagi di pipinya.


"Hani, apa kamu sudah makan?"


"Belum mas, mas sendiri sudah makan? bagaimana di sana?"


"Mas juga belum makan, tumben sekali kamu belum sarapan jam segini?"


"Aku baru selesai mandi mas, setelah ini aku akan sarapan."


Bi Sri datang tergopoh-gopoh membawa baskom, rupanya bi Sri baru saja selesai membersihkan ikan lagi.


"Non, tunggu sebentar ya bibi masak dulu, non pasti laper ya?" katanya tersenyum kecut dan menyiapkan bumbu dengan tergesa-gesa.


"Nggak terlalu lapar juga bi, masakan tadi pagi udah habis semua bi?"


"Iya, non. Maklum, kalo anak-anak non Anita yang datang mesti makanan selalu ludes non, sssttt," bi Sri memberikan isyarat dengan menutup mulutnya menggunakan jari telunjuk, "anak-anaknyakan nggak pernah diurusin sama mamahnya, non lihat sendiri badan mereka berdua kurus kering. Jadi, dimaklumi saja ya non," kata bi Sri sambil mengupas beberapa bumbu.


"Iya bi, saya bisa tahan lapar kok," Leony membantu bi Sri mencuci piring-piring kotor dan sisa-sisa makanan di meja.


Setelah beberapa saat, makanan pun sudah matang. Leony dan bi Sri makan bersama di dapur. Hari ini perawat ayah mertuanya datang agak kesiangan, ia kena marah habis-habisan oleh ibunya Adam. Sampai siang jam 10 suaminya belum dimandikan. Untung saja bi Sri sudah menyuapinya sarapan. Perawat yang baru datang itu hampir saja menangis menerima bentakan demi bentakan.

__ADS_1


Dengan hati-hati perawat itu menggiring ayah mertua Leony untuk mandi. Leony tak habis pikir, Ibu mertuanya hanya bisa marah dan marah. Tak sekalipun ia melihat membantu suaminya untuk sekedar melakukan hal-hal kecil. Dia benar-benar sudah angkat tangan.


Dan Anita, hanya sesekali saja ia membantu ayahnya, sekedar untuk duduk di kursi roda atau membantunya berbaring. Itupun jika perawat sudah pulang. Tak terlihat ada perlakuan lebih kepada ayah mertuanya, ia hanya dianggap seperti barang yang tak bernyawa dan tak ada harganya.


Lebih parah lagi, semenjak Adam pergi kunjungan kerja sejak itu pula ibu mertua dan kakaknya Anita tak pernah terlihat pergi bekerja. Rupa-rupanya, kepergian Adam berarti hari libur untuk mereka berdua.


"Heh, kamu ngapain melamun di dapur?" perkataan ibu mertuanya menyadarkan Leony dari lamunannya.


"A-ada apa, mah?"


"Kamu transfer mamah uang lagi 5 juta, mamah perlu banget!"


"Em, begini mah.. sebenarnya uang yang dikasih mas Adam sudah habis mah," ucap Leony agak terbata-bata.


"Apa? habis? kamu beli apa saja kok bisa uang sebanyak itu habis?" tanya ibu mertuanya sangat heran.


"Mah, mas Adam cuma ngasih 20 juta mah dan itu sudah habis untuk keperluan di rumah ini," dengan berat hati ia mengatakan kalimat yang sebenarnya tak ingin ia katakan.


"Oh, sudah habis uangnya? kalau habis kamu minta lagi sana! dia kan suami kamu, masa nggak boleh minta lagi? kalau minta sekalian 20 juta lagi!" kata ibunya ketus, sebenarnya ia merasa heran kenapa Adam hanya memberikan 20 juta untuk istrinya. Uang segitu jelas saja sudah habis, "Leony, kamu kan divloper perumahan, masa kamu nggak punya uang sama sekali?"


"Ma'af mah, uang itu buat aku bayar hutang. Masih ada tersisa sedikit, tapi aku nggak berani menggunakannya. Aku bahkan sudah memberikan ATM pribadiku sama Fira, karena dia yang tangani semua. Kalau uangnya kurang untuk pembangunan, uang di ATM itu lah nanti untuk cadangannya mah," ucap Leony berusaha memberikan pengertian kepada ibu mertuanya.


"Lalu kemana uang dari hasil tambak dan kolam ikan?" tanya ibu mertuanya berusaha ingin tahu segalanya.


"Ada mah di lemari, tapi mas Adam bilang uang itu nggak boleh dipakai terlebih dahulu," kata Leony sangat canggung.


"Mamah perlu uang, masa kamu nggak mau pinjemin mamah uang sih? mamah perlu uang cash sekarang. Sekarang kamu ambilin uangnya, mamah mau pakai!"


"Ta-tapi mah,"

__ADS_1


"Nggak ada tapi-tapian, cepat bawa sini uangnya, 3 juta saja!"


Degh! satu masalah akan muncul lagi, dengan berat hati ia melangkah menuju kamar mengambil uangnya. Ia memberikan uang ditangannya kepada ibu mertuanya. Entah apa yang akan Adam katakan nanti. Kesedihan mulai terpancar lagi diwajahnya hari ini.


__ADS_2