Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Kedatangan Adam


__ADS_3

Pagi hari mentari begitu cerah, seakan semuanya berjalan lancar bagi siapapun yang memulai harinya. Meja makan telah dipenuhi piring kotor dan sisa masakan, Fira dan Leony sudah selesai sarapan.


"Leony, kamu jadi menemui suami kamu kan?" tanya Fira sambil membersihkan meja makan.


"Ya, aku akan naik motorku sendiri. Kamu nggak perlu mengantarku Fir," seakan Leony tahu maksud Fira. Mereka memang sepemahaman.


"Itu berbahaya untuk kesehatan kandungan kamu Leony, aku akan mengantarkan kamu. Itu lebih baik untuk bayimu," Fira berusaha membujuknya.


Leony terdiam sejenak, "insyaallah aku akan baik-baik saja. Lagian Jalannya sangat mulus dari sini ke kota, nggak ada perlu dikhawatirkan Fir."


Fira terdiam mendengar perkataan sahabatnya yang bersikeras tak ingin diantarnya. Namun pembicaraan mereka terhenti ketika ada suara pintu mobil di tutup. Mereka berdua segera pergi keluar. Dan Adam sudah berada di depan pintu.


Adam menatap istrinya sejenak, kemudian ia menunduk melepaskan sepatunya. Fira beranjak pergi meninggalkan mereka berdua ke dalam. Ia menunda kepergiannya ke kantor pemasaran karena khawatir Adam dan Leony terlibat cekcok.


Agak lama suasana hening, Adam dan Leony sudah duduk di teras rumah tanpa sepatah katapun.


"Aku buatkan kamu kopi dulu mas," ucap Leony berdiri dan masuk ke dalam rumah.


"Ya," Adam hanya mematung mendengarkan perkataan istrinya. Hatinya juga membeku seiring bekunya suasana diantara mereka. Ia tak tahu harus berkata apa.


Seminggu istrinya meninggalkannya, sejak itu ia tak nafsu makan. Bekerja juga tidak fokus, segalanya menjadi kelam. Tak dapat dipungkiri ia mencintai istrinya, namun jika ia ingat kembali sikap istrinya yang berubah, ia juga tak bisa menahan diri untuk tidak emosi.


Hanya Rizka yang menghiburnya disaat ia gundah gulana. Namun ia juga teringat apa yang sudah mereka lakukan. Ia memang bajingan yang tak pantas mendapatkan ma'af. Ia terus mengutuk dirinya di dalam hati.


Leony menyuguhkan kopi di sampingnya, kini mereka duduk berdekatan. Adam memberanikan diri memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Hani, ma'af kan segala kesalahan mas. Mas sudah berlaku kasar sama kamu." Adam berbicara dengan nada pelan, suaranya terdengar sedih.


"Ya mas, aku juga minta ma'af karena aku terbawa emosi. Aku nggak bisa mengontrol emosiku mas."


"Mas kesini mau menjemput kamu, kamu mau pulang kan bersama mas? pakaian dan barang-barang yang kamu bawa biarkan saja tetap di sini. Mulai sekarang kamu boleh pulang ke desa ini sesuka hati kamu. Asalkan kamu senang, mas juga senang," Adam mengatakan itu dengan berat hati. Sejujurnya ia tak ingin istrinya lebih sering pulang pergi ke desa.


"Terima kasih mas atas pengertian kamu mas. Tapi mas aku nggak bisa pulang ke rumah orang tua kamu lagi mas. Aku mau kita mengontrak rumah saja mas, seandainya kamu belum punya uang yang cukup untuk membeli rumah."


"Baiklah hani, mas akan turuti kemauan kamu. Mas bisa belikan kamu rumah sekarang. Tapi hanya ukuran kecil saja, itupun kalau kamu mau. Daripada mengontrak buang-buang uang saja, hani." Adam berusaha menjaga perasaan istrinya kali ini.


"Mas, aku nggak pernah menuntut rumah besar sama kamu mas, aku bukan istri yang gila harta," Leony menatap Adam dengan tajam.


"Ya, hani. Mas sadar semua itu, tapi mas sendiri ingin memberikan yang terbaik untuk kamu, apalagi kalau kita sudah punya anak nanti. Mas ingin punya rumah yang besar, hani. Tapi, karena keadaannya seperti ini ya sudah, mau bagaimana lagi."


"Mas, rumah yang besar bukan tolak ukur kebahagiaan. Aku lebih senang kita punya rumah kecil namun di dalamnya keluarga yang harmonis, saling menyayangi, saling pengertian mas. Itu sudah jauh lebih dari cukup."


Leony terdiam sejenak, ini waktu yang tepat untuk memberitahukan kehamilannya. Tapi, ia tak mungkin memberitahu bahwa ibunya pernah mengatakan akan menggugurkan kandungannya. Sekarang ia menjadi bimbang.


"Mas, aku betah tinggal di rumah ayah dan mamah. Hanya saja, aku lagi mengidam. Aku nggak enak sama mamah dan orang rumah, kerjaan ku hanya tidur saja setiap hari. Dan itu karena bawaan kehamilan mas, bawaan bayi," Leony berpikir ini adalah alasan yang tepat.


"Jadi kamu hamil Hani??" ekspresi Adam terkejut, ia kelihatan senang mendengar perkataan istrinya bahwa ia tengah hamil, "Kenapa kamu nggak pernah bilang hani??"


"Ma'af mas, aku terlambat mengetahuinya. Aku juga baru menyadarinya. Jadi, bisakah kamu mengabulkan permintaanku mas? lagipula kamar kita di lantai atas, terlalu berbahaya bagiku untuk naik dan turun tangga."


"Ya, hani, tentu saja. Apa pun untuk kamu dan bayi kita," ucap Adam tersenyum lebar. Kali ini ekspresinya berubah drastis, ia nampak sangat gembira.

__ADS_1


"Mas, aku akan tetap di sini sementara kamu cari rumah buat kita, bolehkan?"


"Ya, hani. Kamu boleh di sini dulu. Ini juga masih pagi, mas harus kerja dulu. Nanti siang mas akan survey beberapa informasi tentang rumah, oke?"


"Ya mas."


"Kamu baik-baik ya di sini," Adam mengecup kening istrinya.


Adam beranjak dari duduknya dan berpamitan. Ia masuk ke mobilnya dan kembali ke kota. Leony merasa lega, akhirnya Adam mendengarkannya. Ia hanya berharap semoga rumah tangganya baik-baik saja, terutama bayi yang di kandungnya.


Setelah Adam pergi, Fira keluar menyusul Leony. Ia berharap permasalahan rumah tangga temannya itu bisa diselesaikan baik-baik. Namun melihat raut wajah Leony sepertinya semuanya baik-baik saja.


"Jadi, semuanya baik-baik saja kan?" tanya Fira dengan hati-hati. Ia takut menyinggung perasaan temannya itu.


"Alhamdulillah, semua baik. Mas Adam sudah mengetahui tentang kehamilan ku dan ia menuruti apa yang aku mau," Leony berkata dengan senyum tipis di bibirnya.


"Syukurlah kalau begitu, rumah tangga kalian masih seumur jagung. Jangan sampai kandas begitu saja, kamu harus jaga keutuhan rumah tangga kamu," ucap Fira melihat arloji di pergelangan tangannya, "sudah siang, aku harus ke kantor pemasaran. Kamu di sini saja atau mau ikut?"


"Aku ikut, aku bingung kalau di rumah sendirian."


"Kami nggak kelelahan? kalau kamu lelah lebih baik kamu di rumah saja," bujuk Fira.


"Aku baik, kamu tenang saja."


Mereka berdua pergi ke kantor pemasaran. Matahari sudah lebih tinggi, embun pagi pun sudah menguap. Para pekerja sedang sibuk-sibuknya di lapangan.

__ADS_1


Terlebih lagi Bian, material berdatangan silih berganti. Keringat sudah bercucuran di kening dan lehernya. Lain halnya dengan Nurin yang terlihat lebih santai menunjukkan pekerjaan kepada kuli bangunan yang lain.


Siang hari seperti biasa mereka duduk di warung bude Sum membeli makanan dan minuman. Yang paling semua orang sukai adalah gorengan yang dijual bude Sum rasanya sangat enak, ditambah lagi petis dan saos pedas yang menggugah selera makan siang.


__ADS_2