
Hari yang cerah, Leony bersemangat bersih-bersih. Karena kaki dan badannya yang masih kaku dan memar. Sudah 5 hari dia tak pergi kemana-mana. Hanya berjalan-jalan di sekitaran rumah saja.
Hari itu dia membersihkan sarang laba-laba yang ada di plafon, dinding dan sudut rumah. masalah kebersihan, dia lumayan rajin. Seisi rumah menjadi bersih sejak Leony hanya tinggal di rumah.
Siang itu ponselnya berdering. Dilihatnya ada dua pesan chat dari Adam. Ia menanyakan Leony sedang apa dan dimana. Agak lama mereka berdua saling chat.
Setelah beberapa lama kemudian Adam sudah tak membalas chat lagi. Agaknya ia tengah sibuk dengan pekerjaannya.
Wajah Leony kali inj menjadi murung karena Adam sudah tak membalas pesannya lagi. Jadi ia pergi ke ruang tamu menonton televisi. Tak berapa lama seseorang mengetuk pintu, Nurin.
"Assalamu'alaikum." Nurin mengucapkan salam sambil mengetuk pintu.
"Waalaikum salam." Leony membukakan pintu dan terheran melihat Nurin yang datang siang bolong.
"Ini, ada berkas titipan dari mbak Fira. Kebetulan saya mau ke bank dulu," ucap Nurin sambil memberikan berkas yang tebal kepada Leony.
"Tumben mas koq berkasnya nggak sekalian sore saja dibawa pulangnya?" tanya Leony sambil menerima berkas yang tebal dari Nurin.
"Di kantor pemasaran banyak sekali nasabah, jadi mbak Fira menitipkannya kebetulan saya mau ke bank. Katanya takut tercecer dan hilang."
"Oh, Makasih banyak ya mas udah di anterin."
"Iya," kata Nurin sambil beranjak pergi dan menyalakan motornya.
Nurin sudah hilang dari pandangannya. Leony menyimpan berkas-berkas ditempat yang aman. Dia juga membuka berkas-berkas, ternyata sebagian besar data milik nasabah mereka dan lain sebagainya.
__ADS_1
Pembangunan kini sudah 100 persen selesai. Sehingga banyak nasabah yang tertarik untuk membeli rumah baik secara cash maupun kredit.
Leony sudah memasak dan menyediakan minuman dingin di meja. Dia sengaja menyediakannya untuk Zahra dan Fira. Hari ini mereka berdua sudah bekerja keras. Baru saja mereka ingin duduk makan bersama, seseorang mengetuk pintu, Adam.
Adam membawakan banyak makanan. Dia yang tinggal sendiri di rumah merasa sepi jika harus makan seorang diri. Jadi dia memutuskan untuk membeli banyak makanan untuk dinikmati bersama.
Sore itu mereka berempat makan bersama. Adam juga bertamu agak lama. Sejak dia tak sengaja menyerempet Leony, hampir setiap hari dia datang untuk menengok apakah Leony baik-baik saja. Adam merasa sangat bersalah.
********
Bian resmi bertunangan dengan Fitri. Malam ini adalah malam yang bahagia untuk semua anggota keluarga mereka. Meskipun acara pertunangan dilakukan sangat sederhana, Bian dan Fitri didandani dengan sangat layak.
Dengan balutan pakaian gamis couple berwarna hijau, mereka terlihat sangat serasi. Tubuh Fitri yang ideal menambah balutan pakaiannya terlihat sangat cocok dan anggun.
Banyak sekali makanan dan jajanan dihidangkan. Fitri adalah anak bungsu di keluarganya, jadi pihak keluarga memberikan yang terbaik semampu mereka malam itu.
"Bian, nanti kalau kamu sudah menikah jagalah Fitri, dan juga rumah tangga kalian dengan baik," ucap Nurin menasihati adiknya. Mungkin ini saat yang tepat untuk menasihati adiknya.
"Iya kak," sahut Bian.
"Jangan seperti kakak, kakak ini membahagiakan satu orang perempuan saja belum bisa," ucapnya dengan wajah sedih.
"Suatu saat, aku yakin kakak akan hidup bahagia bersama dengan orang yang kakak cintai," kata Bian tersenyum.
Nurin hanya bisa menghela nafas panjang mendengar ucapan Bian. Hari sudah mulai larut malam, Bian dan keluarga berpamitan. Sepanjang perjalanan pulang hati Bian berbunga-bunga, kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya. Lain halnya dengan Nurin, pernikahannya yang kini diambang perpisahan membuatnya murung. Meskipun tak mencintai Nita, tapi perpisahan tetap saja membuatnya bersedih. Terlebih lagi jika dia ingat Arif, meskipun bukan darah dagingnya berpisah dengan Arif akan membuatnya merasakan kesedihan yang mendalam. Memikirkannya saja membuat Nurin sangat murung.
__ADS_1
*******
Kedekatan Leony dan Adam semakin terlihat. Adam seakan-akan sedang mendekatinya secara pribadi dan intens. Bukan lagi soal tanggung jawab dan kasihan karena tak sengaja telah mencelakainya.
Setiap hari Adam selalu menemui Leony, seakan ada kutub magnet yang terus menariknya. Leony yang juga telah siap membuka hati memberikan Adam tanda lampu hijau.
Suatu waktu mereka hanya pergi berduaan menikmati keindahan desa, ke kolam ikan milik Adam atau pergi hanya untuk sekedar menikmati makan siang. Mereka kini telah dilanda kasmaran.
Terkadang mereka memancing ikan mujair di kolam milik Adam, dan pulang membawa banyak ikan dan mereka masak bersama-sama.
Fira dan bude Sum yang melihat kedekatan mereka berdua merasa lega. Setelah akhirnya ditinggalkan Nurin, baru kali ini mereka melihatnya tersenyum ceria lagi seperti sebelumnya.
Lain halnya dengan Nurin, kini dia resmi bercerai dengan Nita. Namun karena permintaan orangtua Nita membuatnya tetap tinggal di rumah mertuanya itu. Lagipula, dia masih tak tega meninggalkan Arif yang sudah terlanjur lengket dengannya.
Kini usia Arif sudah 4 bulan, semakin hari semakin besar saja ia. Sedangkan Nita kembali ke kota untuk melanjutkan kuliah. Perpisahannya dengan Arif dan Nurin membuat lubang di hatinya semakin besar saja. Berpisah dengan orang dicintai bukanlah hal mudah. Butuh kekuatan yang besar.
Nita tak kuasa harus berpisah dengan keluarga tercintanya. Nita tak ingin diantar ke kota, karena hanya akan menambah kesedihannya. Tak kuasa ia menahan air mata. Tak dapat terbendung lagi dan tumpah. Nita pergi dengan mobil taxi yang sudah dipanggil. Lambaian tangan dan air mata mengiringi kepergiannya.
Arif yang terbiasa minum ASI dan susu formula secara bergantian tak perlu dikhawatirkan. Namun kepergian Nita membuat semua anggota keluarga menjadi sangat sedih. Semakin tak tega Nurin meninggalkan Arif.
Setiap waktu dia selalu menjaga Arif. Untung saja proyek pekerjaan perumahan belum dimulai untuk sementara. Jadi dia bisa mencurahkan kasih sayangnya kepada bayi malang yang baru saja ditinggal ibunya.
Nenek dan kakek Arif bergantian menjaganya apabila Nurin sedang sibuk, atau sebaliknya.
Arif yang selalu menempel dengan Nurin membuatnya tidur sekamar berdua dengan Nurin. Namun lama kelamaan Kakek dan neneknya khawatir jika Arif terus menempel pada Nurin, dia akan kesulitan suatu saat nanti. Jadi neneknya memutuskan untuk menyusui Arif, meskipun air susunya tak seberapa banyak. Demi kebaikan bersama akhirnya Arif menerima ASI dari sang nenek.
__ADS_1
Nurin sedikit lega, sejak Arif intens menyusu ASI neneknya dia menjadi lebih menempel pada neneknya ketimbang pada Nurin sekarang. Hanya sesekali Arif meminta dimanja oleh Nurin.
Nita pun hampir setiap saat selalu menelpon anaknya, setiap kali menelpon Arif ia tak dapat membendung air matanya. Selalu saja menangisi anaknya yang jauh dari jangkauannya. Untuk mengobati rindunya pada Arif, kakek dan neneknya rutin membawa Arif setiap hari Minggu ke kota menemui Nita. Barulah Nita merasa lebih baik ketika melihat wajah Arif yang setiap saat dirindukannya.