Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Suasana Baru


__ADS_3

Pagi yang cerah, namun tak begitu yang terpancar diwajah Leony. Dia pergi mandi dan berdandan. Dia memakai setelan dress berwarna biru kesukaannya.Lama dia bercermin memperhatikan bajunya itu. Entah apa yang kurang membuatnya terus berganti-ganti baju. Hingga sampai dress berwarna biru tua kombinasi hitam barulah dia merasa cocok. Setelah membeli makanan untuk sarapan dia bergegas menuju alamat yang diberikan oleh Ningsih.


Sesampainya di sana dia menanyakan pada seorang karyawan di mana manejernya. Karyawannya mengatakan kalau menejernya mungkin sedang sibuk. Jadi Leony menunggu sebentar. Setelah menunggu beberapa saat dia dipanggil oleh seorang karyawan dan membawanya keruang manejer.


"Permisi pak, saya Leony."


"Ya, masuk."


Leony kaget, tadi dia memanggil laki-laki tampan didepannya dengan sebutan pak.


"Silahkan duduk Leony, dan tolong jangan panggil saya pak." katanya dengan ekspressi datar. Leony sangat malu hanya bisa menunduk.


"Nah, sesuai yang dikatakan mbak Ningsih sebentar lagi kita akan jadi partner. Ngomong-ngomong kamu memang suka sekali pakai pakaian seperti itu ya?" tanyanya dengan heran.


"Iya mas, saya suka pakai dress seperti ini."


"Hmm oke, gak masalah. Pertama-tama kenalkan dulu nama saya Anjar, nanti kita akan bagi tugas di sini. Kamu tenang saja pekerjaan kamu nanti gak berat koq."


"Iya pak, eh mas." Leony salah fokus kali ini.


"Ngomong-ngomong kamu tinggal di mana? dekat dari sini ya?"


"Iya dekat koq mas, sekitar 3 km aja dari sini"


"Oke, jadi kamu gak keberatan kan kalau pulang malam, soalnya resto tutupnya jam 10. Karyawan bersih-bersih jadi pulangnya setengah sebelas malam."


Leony mengangguk saja apa yang dikatakan Anjar.


"Jadi Tugas kamu nanti tanganin karyawan di luar, sedangkan saya bantu koki di dalam. karyawan di sini gak banyak. Cuma ada 4 koki makanan, 2 koki minuman, 1 kasir dan 3 pelayan. Kamu harus pastikan mereka gak melakukan kesalahan."


"Iya mas." Leony hanya mengangguk saja.


"Oke, hari ini kita mulai training jadi siapkan diri kamu karena kita akan bekerja sampai larut malam. Kalau kamu belum sarapan kamu harus makan dulu. Karena saya gak mau kamu pingsan nanti."


Hari itu sangat sibuk untuk Leony, tapi dia bersyukur. Dengan kesibukannya bisa melupakan Nurin. Ningsih memang hebat, dia tahu bagaimana membaca situasi.


Setelah pulang dari resto dia langsung saja tidur, karena kelelahan. Tak ada waktu untuk memikirkan hatinya yang patah.


Keesokan pagi, dia pergi ke pasar sebentar untuk membeli pakaian baru. Karena kemarin dia memakai dress, ketika diperjalanan pulang terasa sangat dingin. Dia memutuskan untuk membeli beberapa celana jeans dan atasan hem. Tiba-tiba dia teringat Fira, Fira selalu memakai pakaian seperti itu. Dia langsung memakai celana dan atasan yang dibelinya. Kebetulan ditempat dia beli ada kamar ganti dan cermin. Memakai celana jeans ketat membuatnya terlihat montok, sebenarnya dia malu. Tapi dia memakainya demi pekerjaannya.


Anjar yang melihat Leony hari ini terkejut, "kemarin pakai dress, koq sekarang ganti pakai jeans?"


"Iya mas, soalnya pulang malam adem. Kalau pake dress makin adem."

__ADS_1


"Iya ya, bener juga. Saya pikir kamu pakai jeans karena pertanyaan saya kemarin."


"Enggak koq mas." Leony tersenyum.


Mereka kembali bekerja sampai larut malam. Namun Leony yang masih patah hati belum bisa fokus pada pekerjaannya. Untungnya dia hanya bertugas mengawasi.


Lain halnya dengan Anjar, dia langsung terjun membantu koki. Sesekali dia keluar dapur dan terlihat keringatnya yang membuatnya terlihat semakin gagah. Sudah tampan, rajin, pandai memasak pula. Dan juga sangat ramah.


Larut malam, Leony bersiap untuk pulang. Anjar memanggil Leony, "Leony, besok jadwal libur kita. Saya mau ajak kamu jalan-jalan boleh?"


"Boleh mas, kemana?"


"Ke tempat wisata alam aja, cari suasana tenang."


"Oke mas." Leony tersenyum.


"Besok saya jemput kamu di kontrakan kamu, sini nomor ponsel kamu."


Setelah membuat janji mereka pulang ke rumah masing-masing. Leony berfikir kenapa orang seperti Anjar yang baru kenal dengannya tiba-tiba sok akrab dan sangat ramah. Leony tak berfikiran aneh-aneh karena Anjar adalah orang kepercayaan Ningsih. Kembali teringat dia ketika bertemu Sandi, pertama bertemu laki-laki hidung belang itu sudah mencari kesempatan. Semoga saja Anjar tak melakukan hal senonoh padanya nanti, Fikir Leony.


Keesokan hari Anjar benar-benar menjemputnya. Leony takut Anjar macam-macam nanti, sehingga dia menyelipkan pisau kecil kedalam tasnya untuk berjaga-jaga.


"Jadi, kamu pilih wisata alamnya kemana nih?" Tanya Anjar.


"Terserah kamu aja mas."


"Iya, boleh deh. Bagus juga."


Setelah memarkir mobil mereka masuk dan menikmati pemandangan buah-buah lokal yang sudah matang. Leony terheran-heran dengan buah-buahan di sana. Satu pohon menghasilkan banyak buah dan matang hampir bersamaan.


Setelah mereka mengambil beberapa buah dan membelinya, mereka duduk di pondok yang sudah disiapkan. Di sana ramai pengunjung jadi mereka hampir saja tak kebagian pondok.


Di pondok sudah tersedia keran untuk mencuci buah. Ada juga mangkok dan piring bersih yang sudah disediakan dan satu pisau.


"Gimana, kamu senang gak?"


"Iya senang." Leony terheran dengan pertanyaan Anjar.


"Aku tahu koq kamu lagi patah hati, mbak Ningsih yang suruh aku untuk menghibur kamu."


"Oya, masa sih?" Leony baru sadar, ternyata Ningsih adalah orang yang sangat baik dan peka kepadanya.


"Kamu gak percaya ya?"

__ADS_1


"Percaya koq mas, makasih ya udah ajak aku jalan-jalan. kamu gak perlu repot-repot melakukan semua ini."


"Aku cuma diperintah." kata Anjar datar.


"Aku takut nanti calon istri kamu marah sama aku."


"Calon istri?"


"Iya, siapa tahu?"


"Emang aku mantan pacarmu, sudah punya calon istri masih jalan sama ceweknya."


degh!


Leony hampir saja tersedak.


"Eh, minum-minum dulu cepat! ini nih minum!" Anjar memberikan air mineral yang tadi mereka beli.


"Mas, kamu kepo ya sama aku?"


"kepo? kenapa aku harus sama kamu, kenal juga baru. ngomong-ngomong ge er kamu gede juga ya." kata Anjar sambil menggigit jambu kristal di tangannya.


Kali ini Leony yang malu, "Jadi, koq kamu bisa tahu mantan aku masih jalan sama aku." belum selesai Leony bicara Anjar menyahut.


"Aku gitu Loh, masa kayagitu aja gak tahu."


"Kamu lama-lama nyebelin Lo mas." ucap Leony sekarang mulai geregetan.


"Eh, jangan marah dulu! aku takut."


"Takut?"


"Aku takut kalau kamu marah nanti kamu jadi naksir sama aku gimana? kan aku jadi repot nanti."


"Apa?!"


Leony sangat geregetan dengan laki-laki di sampingnya ini. Kalau saja itu Nurin atau Bian mungkin sudah dia jewer telinganya. Tapi laki-laki menyebalkan ini baru saja dikenalnya.


"Ayo mas kita pulang."


"Koq buru-buru? santai dulu sebentar."


"Sebentar lagi ya."

__ADS_1


"Koq kamu yang ngatur sih? yang nyetir aku loh."


Leony tak bisa membalas perkataanya itu. Satu-satunya gambaran di kepalanya adalah melayangkan satu dua tiga empat tinju ke hidung laki-laki menyebalkan di hadapannya.


__ADS_2