
Leony telah selesai bersih-bersih, ia sudah mencuci pakaian, menyapu dan mengepel seluruh rumah, hingga mencabut rumput di halaman rumahnya yang sudah sangat tinggi. Sesekali ia meringis karena perutnya mengalami kontraksi.
Namun Adam, tak ada sedikitpun niatnya untuk membantu pekerjaan istrinya, meskipun ia tahu rumahnya dipenuhi sarang laba-laba, di halaman penuh dengan rumput yang sudah tinggi.
Leony mengguncang bahu suaminya, "mas, bangun! sudah siang. Kamu lihat sudah jam berapa ini mas?!"
"Hani, bisa nggak kamu ngomongnya biasa aja?" ucapnya memalingkan wajahnya.
"Mas, aku ngomong ngegas kayagini juga belajar dari kamu! bukannya di keluarga kamu sudah biasa kalau ngomong pake ngegas?!"
"Aku masih ngantuk, jangan ganggu aku dulu kenapa sih?!"
Leony tak putus asa, ia terus mengguncang bahu suaminya, "mas, kalau kamu nggak bangun aku telpon mamah nih!"
Mendengar ucapan istrinya, Adam sontak terduduk, "Hani kamu apa-apaan sih?! dikit-dikit mau telpon mamah?!"
"Loh, kok jadi ngegas sih mas? emangnya kenapa kalau aku telpon mamah? itu kan mamah kamu sendiri, ibu kandung kamu??" Leony terheran dengan sikap Adam yang ketakutan dengan ibunya sendiri.
"Dengar ya Hani, aku nggak suka kamu ngadu apapun ke mamah, ingat!"
"Udahlah mas, aku jadi males sama kamu!" Leony pergi ke luar kamar. Ia menutup pintu sedikit membantingnya.
Adam tak kalah heran, sejak kapan istrinya jadi pembangkang dan kasar. Seingatnya dulu, istrinya adalah perempuan yang lemah lembut dan penurut, Adam tak habis pikir. Sesekali terpikir di benaknya ingin ia menanyakan kabar Rizka. Tapi, itu sama saja menyulut api yang baru saja padam. Abu nya saja masih sangat panas, Adam menghela nafas panjang.
Ia beranjak dari tempat tidurnya dan mandi. setelah mandi ia ke dapur untuk makan, di sana ia tak menemukan istrinya. Hingga ia selesai makan, ia tak melihat keberadaan istrinya.
__ADS_1
Ia mencoba menelpon namun tak diangkat. Ia pasti pergi ke kantor pemasaran, memang agak jauh dari sini tapi masih dijangkau dengan berjalan kaki oleh ibu hamil sekalipun.
Adam menjadi gemas dengan kelakuan istrinya yang berhasil menyulut sedikit emosinya pagi ini. Ia mengambil kunci mobil dan menuju ke kolam ikannya.
Di kolam pemancingan terlihat sepi karena masih pagi. Adam mencoba memancing sendiri ikan di kolamnya. Ia berusaha mencari hiburan untuk menghilangkan kebosanannya. Namun di dalam benaknya masih ada Rizka, lagi-lagi Rizka.
Hingga siang hari ia memancing sudah mendapatkan 5 ekor ikan. Ia membungkus ikan yang dipancingnya yang akan ia bawa pulang untuk ia makan malam bersama dengan istrinya.
Lain halnya dengan Leony yang sedang asyik mengobrol di kantor pemasaran bersama dengan Fira. Karena proyek telah selesai, komplek sangat sepi. Namun terlihat beberapa rumah sudah mulai terisi, senyum mengembang di bibir Fira. Ia berhasil menjalankan usaha yang besar seperti ini.
Berhubung Leony sudah datang, ia membagikan royalti padanya. Namun Leony tak ingin mengambil bnyak keuntungan dari hasil kerja keras Fira. Ia hanya mengambil 20% keuntungan yang di dapat. Baginya itu sudah lebih dari cukup.
Karena lahan sudah habis, untuk sementara pembangunan dihentikan. Mereka hanya menerima nasabah yang datang ke kantor untuk melakukan akad jual beli rumah di sana.
"Mana suami kamu?" tanya Fira yang semakin suntuk, dari tadi ia menguap terus menerus karena mengantuk.
"Nggak tau, paling ke kolam ikan."
"Kamu, lagi hamil jalan sendirian."
"Aku lagi bete sama mas Adam, dia jengkelin banget! kemarin mamah mertua aku yang jengkelin, sekarang mamah mertua udah tobat gantian sama anaknya," ucapnya lesu, dari wajahnya kelihatan sangat gemas dengan kelakuan suaminya yang tergambar jelas.
Fira terdiam mendengar curhatan temannya, nampak dari wajahnya Leony sedang malas membahas sikap suaminya. Jadi Fira tak melanjutkan pertanyaannya.
Siang yang begitu cerah, tak ada satupun makanan di ruangan itu maupun di dalam kulkas yang ada di pojok ruangan kantor. Kulkas itu terus menyala dan berbunyi namun tak ada satupun isinya yang bisa membuat perut kenyang. Hanya ada beberapa botol air mineral yang terpajang dan buah jeruk.
__ADS_1
"Kamu jaga di sini dulu, aku mau beli makanan. Laper nih!" Fira beranjak dari tempat duduknya mengambil tas.
"Oke, yang banyaak yaaa," Leony tersenyum lebar.
"Kamu mau makan apa bumil?"
"Terserah kamu aja."
Tanpa basa basi Fira keluar dari kantor karena perutnya sudah sangat keroncongan. Ia tak tahan jika harus menahan lapar lebih lama lagi.
Ia mengendarai mobilnya dan mencari warung makan terdekat. Di tengah jalan ia menemukan penjual pecel keliling. Biasanya rasanya lumayan enak, jadi ia memutuskan untuk membeli pecel saja. Ia membeli 4 bungkus sekaligus.
Setelah itu ia mampir ke toko sembako, ia membeli beberapa minuman dingin, susu kotak , beberapa roti dan biskuit. Setelah itu ia kembali ke kantor.
Dilihatnya Leony yang sudah tertidur sambil telungkup di mejanya. Ia membangunkan Leony untuk makan bersama.
Fira menepuk perlahan bahunya, "bangun, nih makanannya dah dapet!"
"Emm, cepet banget ..."
"Iihh! kamu ngiler!!" Fira mengejutkan Leony sehingga membuatnya meraba-raba sudut bibirnya.
"Bohong, ah kamu! ngagetin orang tidur aja.."
Fira tertawa terbahak karena berhasil membuat Leony terbangun dari tidurnya yang terlihat nyenyak tadi.
__ADS_1