
Hasil pemeriksaan dalam kesehatan Adam sudah diterima oleh keluarga, dan hasilnya baik-baik saja. Ibu nya dan Anita merasa lega. Lain hal nya dengan Leony yang harus pulang karena bayi nya tak mungkin di bawa terus menerus di rumah sakit.
Untung saja Adam di perboleh kan pulang ke rumah, namun ia tetap harus istirahat total. Mereka bersiap untuk pulang ke rumah. Dengan tertatih namun Adam masih bisa berjalan sendiri. Ia masih meringis kesakitan meskipun telah diberikan obat anti nyeri. Wajah nya penuh lebam hampir tak dapat dikenali.
Narto mengurungkan niat membuat laporannya ke kantor polisi, berharap semua bisa di atasi dengan musyawarah meskipun kedengarannya sangat mustahil.
"Kamu bisa jalan nggak Adam??" tanya ibu nya khawatir melihat Adam yang berjalan tertatih sambil meringis. Meskipun ia berjalan menggunakan tongkat.
"Bisa mah."
"Pelan-pelan aja jalan nya, nanti kepeleset!"
Narto menyahut. "Nggak apa-apa mah jangan khawatir." Narto berjalan di belakang Adam takut kalau sewaktu-waktu ia ambruk.
Mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan perlahan hingga sampai di parkiran.
"Kalian yakin nggak melupakan lainnya? administrasi dan lainnya benar-benar sudah selesai?" tanya ibu nya lagi.
"Sudah mah, tenang saja mah." Sahut Narto.
Mereka semua masuk ke dalam mobil dan mengantar kan Adam pulang ke rumah. Di sepanjang jalan, Adam hanya terdiam membisu. Nampaknya ia baru menyadari akibat perbuatannya yang tanpa pikir panjang.
Sekarang bukan cuma dirinya yang babak belur. Istri dan anaknya di rumah pun akan terancam keselamatannya. Ia harus membicarakan semua ini pada Rizka.
Sesampai nya di rumah, ia di sambut dengan istrinya yang nampak khawatir. Rumah terlihat sangat bersih, begitu pun dengan bayi nya. Leony, meskipun ia sangat sibuk ia lebih mementingkan pekerjaan rumah dan keluarganya. Ia bahkan melupakan dirinya sendiri.
Pukul 10 siang ia belum juga mandi, rambutnya acak acakan meskipun sudah di ikat. Ia nampak sibuk dengan bayi nya yang rewel.
"Assalamu'alaikum." Adam mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
"Wa'alaikum salam."
__ADS_1
Adam dan yang lainnya masuk. Adam tak tahan menahan kesedihan di dalam hati nya melihat istrinya.
"Hani, kamu belum mandi?" Tanya Adam padanya.
"Belum mas, anaknya rewel dari tadi malam."
Anita mengambil baby boy dari pelukan Leony.
"Sini, biar aku yang gendong. Kamu mandi dulu sana."
"Iya kak."
Leony hendak berpaling untuk mandi, namun Adam menarik tangannya dengan kuat dan berlutut.
"Hani, ma'af kan mas... Mas ini memang bajingan, tolong ma'af kan mas Hani..." Adam menangis tersedu mencium telapak tangan istrinya.
Sikap dan perkataan Adam membuat semua orang merasakan kesedihannya. Terlebih lagi istrinya. Suasana menjadi haru, seorang pun tak bergeming dari tempatnya. Leony tak kuasa menahan air matanya. Meskipun setiap hari ia manangis, kali ini air matanya pun kembali membanjiri pipinya.
Adam tak berdaya mendapat penolakan dari istrinya. Pasti sakit sekali rasanya jika berada di posisinya. Adam hanya bisa menunggu pintu hati istrinya terbuka untuknya lagi.
Setelah beberapa saat, semua berkumpul di ruang keluarga. Leony menyuruh mereka semua untuk makan di dapur. 2 hari di rumah sakit pasti membuat tubuh mereka lelah dan lapar. Makan di rumah sakit tak membuat mereka menikmatinya.
"Mamah, kakak, ayo kita makan dulu. Kalian semua pasti lapar." Ucap Leony yang sudah selesai mandi dan berdandan tipis, mengurangi sembab di wajahnya.
"Mamah memang lapar sekali, Leony." Ibunya berjalan ke dapur.
"Aku harus jemput anak-anak dulu, sebentar lagi pelajaran mereka selesai." Ucap Narto berdiri dan mengambil kunci mobil.
Baru saja Narto melangkah keluar, dari luar pintu rumah di dobrak dengan keras.
Braakkkkk !!!
__ADS_1
Beberapa orang body guard dengan tubuh kekar berotot masuk tanpa permisi. Dan di balakang mereka ada Rizka, ibu dan ayah nya.
"Kalian suka kekerasan??" tanya ibu nya Rizka dengan anggun.
Semua orang di rumah terkejut melihat pemandangan itu, Rizka dan para body guard.
"Saya nggak suka kekerasan, sebenarnya.... kalau saja kalian nggak buat saya marah." Ucap ayah nya Rizka, ia berjalan dan duduk di sofa.
Rizka menatap semua orang dengan sinis. Ia pasti merasa menang sekarang bisa membalikkan keadaan.
"Kalian mau bikin keributan lagi di sini??!" tanya ibu Adam dengan hati-hati.
"No no no no, tidak tidak tidak. Saya nggak mencari keributan di sini. Saya kesini cuma mau bernegosiasi." Ibu Rizka menyahut masih dengan nada anggun.
"Seperti yang pernah kalian tawarkan pada putri saya, saya juga punya penawaran yang bagus untuk kalian, mamah... jelasin ke mereka ini supaya mereka paham." Ucap ayah Rizka masih duduk santai dan menyalakan rokoknya.
"Anak saya sudah hamil, itu karena perbuatan anak kamu." Ucapnya menunjuk ke arah ibu nya Adam. "Saya nggak suka kekerasan, sebenarnya... tapi, kalau diperlukan... yah, apa boleh buat."
Ia menjeda kalimatnya lalu meneruskan.
"Adam, kamu punya dua pilihan. Pertama, Kamu menikahi Rizka anak saya, tentu saja... kamu yang berbuat, kamu juga yang bertanggung jawab. Pilihan kedua, kalau kamu nggak mau menikahi anak saya, saya akan laporkan kasus ini ke polisi. Itu mudah sekali bagi saya, semudah ini (membalikkan telapak tangan)."
Ayah nya Rizka meneruskan perkataan istrinya. "Dan tentu saja, setelah melaporkan ke polisi, saya akan buat kalian semua hancur berkeping-keping. Kejadian kemarin cuma sedikit sentilan untuk kalian."
Semua tertegun mendengar perkataan ayahnya Rizka. Siapa sangka mereka akan melakukan semua ini. Dan Rizka, ia hanya berpangku tangan menyaksikan semua itu.
"Jujur saja, saya tidak suka anak saya menikah dengan suami orang. Tapi Rizka harus menikah dengan Adam, dan saya nggak bilang kalau ia harus bercerai dengan istrinya. Siapa yang berbuat dia lah yang akan menanggung akibatnya. Satu orang berbuat, kalian semua terkena imbas nya. Ingat, mudah bagi saya menjatuhkan perusaan kalian karena saham kalian juga berasal dari kami. Dan mitra bisnis kalian juga berasal dari mitra bisnis kami. Mudah buat kami untuk membuat kalian jatuh miskin dan hancur lebur." Ancam ayah Rizka.
Ibu nya Adam tak berkutik mendengar perkataan mereka semua. Jangan sampai mereka salah dalam berkata dan membuat keributan dan korban lagi. Anita yang biasanya percaya diri, kali ini juga hanya terpaku bisu.
"Sekian dulu yang saya sampaikan, besok saya akan datang lagi ke sini kalau di perlu kan."
__ADS_1
Setelah kepergian mereka, menyisakan kesedihan dan kecemasan yang sangat dalam di dalam batin mereka. Siapa pun sudah tak tega menyalahkan Adam lagi. Keadaan yang sekarang saja masih membuat semua orang bergidik.