Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Suami Istri


__ADS_3

Dikarenakan pernikahan yang belum sah menurut agama, Nurin meminta izin untuk menempati kamar kosong lainnya di rumah Nita. Bapak menyetujui permintaan Nurin tersebut. Dalam hal ini sebenarnya bapak merasa malu. Namun mau bagaimana lagi?. Beruntunglah mereka mendapatkan menantu yang baik dan sopan seperti Nurin.


Nurin menempati kamar lainnya di sana, dia merasa nyaman tinggal sendirian sekarang. Ada lemari kecil yang bisa digunakan di sana cukup untuk pakaian dan benda-benda kecil lainnya. Satu buah springbed berukuran kecil. Tak ada yang lainnya lagi. Dia ingat dirumah ibunya dia hanya menggunakan kasur busa yang sudah kempes, itupun harus berbagi dengan Bian. Sekarang dia teringat keluarganya, dia berniat untuk berkunjung.


"Dek, kamu sibuk gak?" Nurin bertanya kepada Nita yang sedang asyik memasak.


"Nggak mas, ada apa?"


"Aku mau ajak kamu main ke rumah Bapak sama Ibuk, sejak menikah kita belum pernah main kesana."


"Iya mas, sebentar lagi ya aku masih masak. Kamu sudah mandi belum?"


"Aku juga belum mandi dek."


"Yasudah kamu mandi dulu mas, aku siap-siap habis ini ya."


Setelah mereka mandi dan makan merekapun berpamitan. Mereka juga mengatakan akan menginap untuk semalam. Nurin tak membawa pakaian atau apapun, sedangkan tas Nita penuh dengan barang pribadinya dan 2 lembar pakaian ganti.


Dalam perjalanan mereka tak mengobrol sepatah katapun, hingga melewati bangunan milik sandi. Nita ingat, di sini pertemuan terakhirnya dengan Sandi. Mereka berdua saling mengawasi bangunan tersebut. Hanya ada pekerja bangunan di sana, tak terlihat ada batang hidung Sandi.


"Mas, bangunan ini kayak kost-kostan?"


"Iya dek, ini memang kost-kostan."


"Di desa bangun kost-kostan emang siapa yang mau ngontrak mas? kan beda sama di kota."


"Ya, namanya juga usaha dek. Desa ini gak terlalu kecil juga koq. Tempatnya juga lumayan strategis, kan penghubung ke beberapa desa lainnya."


"Iya juga sih mas."


"Mas tahu gak, nanti ada pasar malam loh."


"Masa sih, koq mas gak tahu?"


"Aku gitu loh. Nanti malam jalan-jalan yuk"


"Boleh deh."


"Ajak bapak sama Ibuk sekalian mas."


"Bapak sama ibuk gak pernah ke pasar malam dek, gak bakalan mau juga."


"Kenapa mas?"


"Namanya juga sudah tua, sudah gak tertarik sama yang kayagituan."


Tak terasa sampai sudah mereka di rumah, Ibu dan Bapak menyambut mereka dengan senang.


"Ndookk, cepat masuk! sebentar lagi magrib!" teriak ibu.


"Iya buk!"

__ADS_1


Ibu sangat senang dengan kunjungan mereka berdua, setelah menikah ini adalah kunjungan pertama Nurin. Mereka tidak menelpon sebelumnya, sehingga Ibu belum menyiapkan apapun.


Mereka menikmati kebersamaan melepas rindu malam itu.


"Dek, ayo katanya mau pergi k pasar?"


Nita sedang sibuk mencuci piring sehingga tidak mendengarkan pertanyaan suaminya, Nurin mendatangi Nita dan melihat istrinya sedang konsentrasi mencuci piring. Nurinpun segera membantunya.


"Loh mas, ngapain di sini? ko malah ikutan cuci piring?"


"Kamu kan lagi hamil, sebaiknya jarang sering-sering pergi ke kamar mandi atau kebelakang. Kalau kepeleset gimana?"


Ibu menghampirinya mereka berdua "Masyaallah ndookk, kan Ibuk sudah bilang taruh saja piring kotornya d situ, malah di cuci."


"Gak papa Buk, piringnya cuma sedikit koq."


"Kamu itu kalau dibilangin banyak ngeyelnya." Nurin berkata sambil mengangkat piring-piring yang sudah bersih.


Nita jadi teringat kata-kata bapaknya yang selalu mengatakan kalau dia anak pembangkang, anak tidak tahu diri dan lain-lain. Nita berfikir mungkin dia harus membuang sedikit demi sedikit sifat pembangkangnya itu. Dan sebentar lagi dia akan punya anak, kalau dia terus-terusan membangkang sama orang tua dan suami, mungkin sifatnya itu akan menurun nantinya.


Fuuuhhhh


Nita membuang nafas memikirkannya.


"Capek dek?"


"Enggak koq."


"Ekspresinya kyagtu amat, baru nyuci piring sedikit."


"Kesal kenapa? sama siapa?"


"Aku kesal mas, di rumahku sendiri dimarahi. Sekarang di sini juga kena marah".


"Makanya, kalau gak mau kena marah ya nurut aja kalau dibilangin. Semua itu kan demi kesehatan kandunganmu juga. Kalau ada apa-apa nanti siapa yang repot coba"


"Kamu sama bapak aku tu sama aja mas, pinter ngomel." kata Nita pelan, takut terdengar bapak dan ibu.


Setelah menyelesaikan piring-piring mereka bersiap untuk ke pasar malam. Nita memakai dres longgar selutut dengan memakai atasan jaket karena hari sudah mulai dingin.


Sesampainya di pasar malam, mereka makan cemilan dan duduk nongkrong. Nurin melihat badut tempo hari sewaktu berjalan-jalan dengan Leony. Badut masih membawa anak-anaknya.


"Kamu kangen Kekasih kamu yang dulu ya mas?"


Degh! Nurin kaget dengan pertanyaan Nita.


"Kayak tahu aja kamu?"


"Ya tahu lah."


"Kamu dengar ya, sekarang kita sudah jadi suami istri. Jadi, gak usah bahas masa lalu lagi."

__ADS_1


Nita tersenyum kecut mendengarnya, "Aku jadi tersindir mas."


"Tersindir kenapa?"


"Kamu bilang, gak usah bahas masa lalu. Kita sudah jadi suami istri. Sementara aku beberapa minggu yang lalu ketemu ayah dari anakku aja dia bilang kita sudah lama putus, mana mungkin anak ini anaknya? Ceh!"


Nurin terdiam sejenak, dan menarik nafas panjang, "jadi, dia bilang seperti itu?"


"Iya mas, sakit sekali rasanya diperlakukan seperti benda buangan!"


Nurin tertegun mendengar perkataan 'seperti benda buangan' yang dilontarkan Nita.


"Kamu lihat gak badut disana?" Nurin menunjuk badut yang membawa anak-anaknya.


"Iya mas, kenapa?"


"Coba kamu tebak yang jadi badut itu kira-kira ayah atau Ibu dari anak-anak itu?


"Biasanya badut laki-laki deh mas, soalnya kostumnya kan berat. kayaknya sulit kalau perempuan yang pake."


"Kamu keliru, badut itu ibunya."


"Yang bener mas?!"


"Iya, dia temen aku sekolah dulunya. Tapi dia putus sekolah kemudian menikah. setelah punya beberapa anak, suaminya pergi ke kota sama selingkuhannya dan udah gak pernah muncul lagi sampai sekarang."


"Kasian banget mas, tapi kenapa dia gak cari pekerjaan lain?"


"Dia jualan kalau siang, jualan sayur keliling. Semua orang di sini sudah faham sama dia."


"Terus anak-anaknya dibawa juga kalau dia keliling?"


"Enggak lah, anak-anaknya semua tinggal di rumah kalau ibunya jualan."


Nita hanya manggut-manggut mendengarkan cerita Nurin, mungkin nasibnya sekarang jauh lebih baik daripada nasib badut itu.


"Ayo mas, kita foto sama badutnya yuk!"


"Males ah, kamu aja."


"Kamu pasti masih ingat mantanmu kan?"


"Kamu kayak tahu aja, emang kamu lihat?"


"Ya lihat lah, aku kan ngumpet."


"Masa sih?"


"Iya, aku lihat semua yang kamu lakuin sama mantan kamu, makanya kamu gak mau foto sama badutnya kan?"


"Kamu cemburu ya?"

__ADS_1


"hahahaha aku, cemburu? emang tampang ya mas aku cemburuin kamu. udahlah mas, ayo kita foto bareng badutnya. Terus kita kasih uang buat anak-anaknya jajan."


Nurin dengan terpaksa berdiri dan mengikuti kemauan istrinya itu.


__ADS_2