
Hari yang mendung, hari baru semakin dekat dengan pernikahan Nurin dan Nita.
Hari itu Bapak Nita mengumpulkan dua kedua keluarga untuk membicarakan sesuatu.
Nurin dan keluarganya segera mendatangi kediaman Nita.
"Assalamu'alaikum." keluarga Nurin sudah tiba.
"Wa'alaikumsalaam," balas Ibu Nita, kemudian mempersilahkan keluarga Nurin untuk duduk.
"Silahkan duduk pak, buk." Nita menyusul untuk duduk di sofa.
"Begini Pak, Buk, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan," bapak Nita membuka percakapan,
"anak kita inikan sudah mau menikah, tapi saya sadar pernikahan mereka ini tidak didasari oleh suka sama suka," bapak mengambil nafas pelan kemudian melanjutkan, "Nurin bersedia menikahi Nita karena tekanan dari saya akibat hutang piutang bapak dan ibuk." bapak menjeda kalimatnya kemudian meneruskan, "yang ingin saya tanyakan adalah apakah maksud bapak dan ibuk melunasi hutang kalian? apakah itu artinya kalian menolak perjodohan ini? saya mohon maaf sebelumnya apabila ada salah kata."
Keluarga Nurin terkejut mendengar perkataan bapaknya Nita.
"Melunasi hutang pak? kami tidak pernah melunasi apapun dan dari mana kami bisa membayar uang 300 juta itu pak." kata Nurin terheran-heran.
"Jadi, bagaimana maksudnya ini? kemarin anak bungsu bapak datang kemari membawa uang 300 juta dan melunasinya." Bapak Nita tak kalah herannya, "yang saya ingin tanyakan adalah Nurin, apakah kamu menolak perjodohan ini atau masih menerimanya? keputusan semuanya ada di tanganmu. Dan sekarang bapak sudah tidak berhak menekan atau memaksamu lagi."
"iya pak, masalah itu nanti saya rembuk lagi bersama keluarga saya. Dan masalah adik saya yang melunasi hutang, saya dan keluarga merasa tidak enak soal itu. Dan sama sekali tidak tahu apa-apa pak." ucap Nurin sambil masih merasa terheran-heran.
Dalam hatinya pastilah Leony sudah mengatahui tentang perjodohan ini. Nurin menjadi sangat sedih dan bingung.
Keluarga Nurin berpamitan pulang, sesampainya di rumah mereka semua hanya terdiam. Ibu Bapak Nurin juga sudah bisa menebak bahwa yang melunasi hutang pastilah Leony. Mereka hanya menunggu Bian pulang kerja untuk mendapat penjelasan atas semuanya.
Sore hari, Bian pulang. Bian juga sudah menduga kalau semua orang rumah akan bertanya tentang itu.
Setelah makan dan mandi, semua berkumpul di ruang keluarga tanpa satu perintah pun.
"Bian, apa Leony yang sudah memberimu uang untuk melunasi hutang?" tanya Bapak.
"Iya pak." Bian menjawab sambil menonton tv.
"Dimana Leony sekarang? Bapak ingin bertemu, bisakah kamu atau Nurin meminta dia untuk datang?"
"Sepertinya gak bisa pak, sudah dua hari Kak Leony ke luar kota."
"Apa saja yang Leony katakan sama kamu Bian?" lanjut Bapak.
"Kak Leony bilang, dia melunasi hutang Bapak sama Ibuk karena kerja keras Bian dan Kak Nurin. Gak ada sangkut pautnya sama urusan pribadi. Dia bilang juga ikhlas kalau kak Nurin harus menikah dengan Kak Nita. Jadi soal uang tidak ada masalah yang harus dikhawatirkan. Dia pergi untuk membuka bisnis lainnya di kota."
__ADS_1
Penjelasan Bian membuat semua orang menjadi sangat sedih.
"Tapi pak,buk, apa kakak akan benar-benar menikah sama kak Nita?"
Nurin tertunduk mendengar perkataan Bian.
"Semua itu tergantung Nurin, apapun keputusannya Bapak sama Ibuk akan menghargai."
Nurin meninggalkan mereka semua ke dalam kamar. Nurin mencoba menghungi Leony dengan pesan chat.
("Dek... kamu dimana?")
("Bisa kita ketemu?")
Tak lama kemudian Nurin melihat chatnya bercentang biru tanda sudah dibaca.
Nurin menelpon, tapi tak ada jawaban.
Dia kembali mengirim pesan,
("Dek,angkat telponnya.")
Nurin kembali menelpon, namun tetap tidak ada jawaban.
Dia pergi menonton tv, sampai Bian datang. Bian langsung masuk kamar dan tidur. Sementara Nurin bergadang hingga hampir subuh.
Paginya, Ibu mendapati Nurin masih tidur di sofa dengan tv yang masih menyala. Ibu mematikan tv dan pergi ke dapur untuk memasak.
Pukul 7 Nurin dan Bian selesai sarapan kemudian pergi bekerja di perumahan. Di sana mereka masih tak melihat Leony.
Semakin merasa bersalah Nurin kepada kekasihnya itu, namun tak mudah untuk menjilat ludah kembali.
"Pagi mbak," sapa Bian ke Fira.
"Pagi juga," Fira membalas, "Kakakmu masih gak kerja?"
"Ada mbak, tuh di luar."
"Oh..."
Fira memanggil Nurin untuk pergi ke Bank mengambil gajih para kariawan sekaligus membagikannya.
Nurin pergi ke Bank yang jaraknya agak jauh dari Desa sekitar 30 km. Setelah menarik uang kemudian dia membagikannya kepada karyawan.
__ADS_1
Sejak kepergian Leony, Fira mengambil alih semuanya. Melakukan segalanya sendirian dan tidur sendirian. Fira yang terbiasa hidup sendiri, sejak ada Leony merasa tenang dan nyaman mendapat teman senasib seperjuangan. Tapi kali ini, Fira harus sabar menghadapi kesendiriannya itu, dia juga sadar Bahwa Leony juga merasakan apa yang dia rasakan, terlebih jika malam hari. Hanya suara jangkrik yang menemani.
Karena tak mau sendiri, terkadang Fira menginap di rumah Bude Sum. Atau sebaliknya Bude Sum yang menginap menemani Fira. Bude Sum juga sudah lama menjanda, anak-anaknya semua merantau ke kota. Jarang pulang, setahun hanya pulang 2 kali.
Sudah seminggu lamanya tak melihat Leony, rasa kesepian mulai menghantui Nurin kembali. Dia selalu berusaha menghubungi Leony namun tak pernah bisa. Sementara dia tak nyaman jika harus memutuskan perjodohan. Hari pernikahan semakin dekat. Semakin berdebar pula Nurin, berdebar menunggu kabar dari Leony.
Setiap malam yang dia lalui sekarang terasa hampa dan sepi. Sesekali dia menengok Fira membawakannya camilan. Sambil berharap bisa menemukan Leony di sana.
"Mbak... Belum ada kabar apa-apa dari Leony?"
tanya Nurin.
"Belum Rin, sebaiknya kamu gak usah banyak berharap."
"Iya mbak, dari awal aku yang salah."
"Kamu gak sepenuhnya salah, aku salut sama kamu, kamu gak mudah menarik kata-kata kamu."
"Saya khawatir sama Leony mbak."
"Sama Rin, aku juga khawatir. Tapi mendingan kamu fokus aja sama pernikahan kamu. semakin kamu mendekati Leony semakin menyakiti diri kalian masing-masing."
"Iya mbak."
Bude Sum datang membawakan camilan singkong rebus, masih panas. Bude Sum tersenyum melihat kedatangan Nurin. Mereka mengobrol lama malam itu sampai larut malam. Fira membuatkan kopi hitam untuk Nurin dan kopi susu untuknya dan Bude Sum.
Larut malam, Nurin pulang ke rumah. Dia berjalan dengan gontai. Ketika mengobrol bersama Fira dan Bude Sum, dia merasa hangat. Tapi ketika dia pulang ke rumah, hatinya kembali menjadi dingin.
Dia terus memeriksa ponselnya, dia berharap Leony akan mengirim pesan atau menjawab telponnya. Tapi sama sekali tak pernah ada balasan apapun.
Tengah malam, Nurin tertidur lelap. Tiba-tiba ponselnya berdering. Dia mengira itu Leony, secepat kilat mengambil ponselnya. Ternyata Fira yang menelpon. Dia mengatakan kalau baru saja hampir ada maling masuk.
Nurin dan Bian cepat menemui Fira, ketika mereka di sana, sudah banyak tetangga yang berhamburan keluar, menyaksikan jendela rumah Leony tercongkel hampir jatuh ketanah.
"Mbak, mbak gak kenapa-kenapa?" tanya Nurin sangat khawatir.
"Gak papa Rin, aku tadi teriak malingnya masih dijendela. Terus sarung malingnya sempat nyangkut di paku. Malingnya juga panik terus langsung kabur." kata Fira dengan nada ketakutan.
"Malam ini mbak tidur di rumah bude Sum aja, besok kita pasang teralis aja semua jendelanya."
"Iya Rin."
Malam itu mereka semua tidur dengan perasaan tegang.
__ADS_1