
Mereka telah tiba di rumah, Leony mengemasi barang-barangnya ke dalam kamar. Ia tak habis pikir mengapa akhir-akhir ini ia lebih sering tidur. Ia mungkin harus segera memeriksakan diri ke dokter. Jika ia memang mengidap penyakit tertentu akan lebih mudah mengobati secepatnya.
Adam berangkat kerja tanpa berpamitan, membuat Leony lebih kesal lagi pada suaminya. Ia turun ke lantai bawah, perawat sedang mengurus ayah mertuanya. Ia juga melihat bi Sri menyapu halaman. Ia pergi ke dapur, dilihatnya kakak iparnya sedang duduk santai minum jus. Ia sedang tak ingin menyapa siapapun hari ini, jadi ia memutuskan untuk pergi ke dokter.
Ia pergi ke sebuah klinik terdekat menggunakan sepeda motornya. Untung saja, ia mengambil kembali kartu ATM miliknya yang dipegang Fira. Jadi, ia masih bisa menggunakan untuk keperluannya.
Di klinik, ia mendaftar di bagian pendaftaran. Di sana tensi darahnya juga diukur, "Ibu, pantas saja ibu selalu merasa pusing, tekanan darah ibu sangat rendah hanya 90/50," ucap perawat yang mengukur tensi darahnya.
Setelah mengantri kurang lebih 20 menit, ia dipanggil oleh dokter. Ia juga masih berjalan dengan sempoyongan. Sesampainya di ruangan dokter, ia menyampaikan keluhannya.
Dokter perempuan dihadapannya melakukan sejumlah tes dan pertanyaan, "Ibu, dari hasil tes ibu baik-baik saja. Hanya tekanan darahnya saja yang sangat rendah. Ibu sebaiknya menuju ke ruangan sebelah ke dokter kandungan," ucap dokter di hadapannya.
Leony terperanjat mendengar kata 'dokter kandungan', "Apakah saya hamil dok?"
"Kapan terakhir ibu haid?" tanya dokter dihadapannya.
"Saya nggak begitu ingat tanggalnya Bu dokter, yang saya ingat terakhir haid awal bulan kemarin," kata Leony sambil berusaha mengingat-ingat kembali.
"Kalau memang terakhir haid awal bulan kemarin, sedangkan ini sudah akhir bulan. Jadi, ibu sudah telat 1 bulan. Kemungkinan ibu hamil dan usia kandungannya sekarang 2 bulan, untuk lebih pastinya sebaiknya ibu ke ruangan dokter kandungan," kata dokter di hadapannya. Ia juga memanggil seorang perawat untuk memberikan kertas hasil pemeriksaannya kepada dokter kandungan. Dan Leony pergi mengikuti perawat itu.
Di dokter kandungan, antrian malah lebih panjang lagi. Dengan sabar ia menunggu gilirannya. Perasaannya kini bercampur aduk, ada senang dan juga sedih. Ia merasa bersalah akhir-akhir ini ia makan sembarangan, bahkan ia lupa makan.
Drrrttt drrrttt drrrrtttt. Ponselnya berbunyi, Adam menelponnya.
"Hani, bisakah kamu kesini sekarang?"
__ADS_1
"A-ada apa mas? sekarang?" Leony bingung harus menjawab apa.
"Iya, sekarang. Pakailah pakaian yang rapi dan cantik. Sekarang kamu ke sini kita mulai mendekorasi setiap ruang diperusahaan, besok kan pabrik kita buka cabang baru dan ada banyak produk baru juga, kamu lupa kita akan rayain awal bulan depan?"
"Aku, ikut mendekor juga mas?"
"Ya enggak lah hani, kita kan cuma melihat para karyawan yang mendekor saja. Apa kamu nggak mau ikut? mas yakin, kamu pasti senang di sini," ajak suaminya, sebenarnya itu hanya alasannya saja agar istrinya tidak tidur terus di dalam kamar.
"Tapi, tapi mas, sekarang aku lagi periksa ke dokter."
"Periksa?" Adam berpikir sejenak, "Jadi, bagaimana hasil pemeriksaannya? kamu baik-baik saja kan?"
"Aku masih mengantri mas, nanti kita bicara di kantor saja."
"Ya, mas."
Tak berapa lama Leony dipanggil untuk masuk, sebelumnya ia diminta untuk tes urin. Ia menampung sedikit air kencingnya di dalam wadah dan memasukan tes pack ke dalam cairan urinnya. Dan benar saja, 2 garis merah terpajang di strip tes pack.
Sejenak ia merasa deg-degan, ia senang bercampur haru. Hampir saja ia berjingkrak, ia mulai memikirkan akan memberitahukan segera atau akan membuat kejutan untuk suaminya.
"Ibu Leony, silahkan berbaring. Kita USG untuk melihat keadaan bayi di dalam," ucap dokter kandungan dihadapannya.
Leony berbaring, dan dokter memberikan cairan dingin dan lengket di area bawah pusarnya. Kemudian menempelkan alat USG nya. Dari layar semua nampak jelas, meskipun bentuk si jabang bayi masih seperti jentik nyamuk, namun ia hidup. Leony hampir meneteskan air matanya.
"Nah, itu dia calon dede kecilnya. Sekarang kelihatan kan? kemarin mamah belum tahu ya ada dede di dalam ya...?" dokter itu tersenyum lebar, "Nah, ibu ini vitaminnya diminum 1x sehari ada 3 keping. Nanti kalau habis vitaminnya kembali lagi kesini ya, dan nggak boleh kerja berat dulu karena kandungannya masih muda. Ini perkiraan masih 9 Minggu ya ibu, sehat terus ya ibu dan calon dede bayi....,"
__ADS_1
"Terima kasih Bu dokter," Leony tersenyum lebar keluar dari ruangan dokter. Ia merasa jadi perempuan paling bahagia di dunia hari ini.
Ia segera bergegas menuju kantor perusahaan suaminya. Dia memarkir sepeda motor kemudian masuk ke dalam. Ia pernah 2x kesini namun hanya sebentar saja. Hari ini adalah hari yang sangat sibuk, mungkin ia akan seharian disini. Sebenarnya ia minder, untung saja ia memakai pakaian yang pantas. Bukan pakaian yang selalu dihina ibu mertuanya. Ia menghembuskan nafas kasar, sekarang tak perlu lagi ia memikirkan hal-hal yang tak berguna. Kehadiran anaknya nanti akan merubah kehidupannya, pikirnya.
Ia masuk menuju ruangan suaminya. Semua karyawan disana menghormatinya. Ia jadi merasa canggung, seperti berada di panggung yang semua mata menuju kepadanya.
Ia menuju ruangan yang agak sempit, kemudian masuk kesebuah lift. Ia menuju lantai 3 tempat ruangan suaminya. Keluar dari lift ada banyak orang di sekitaran ruangan Adam, ia jadi merasa sangat canggung. Sangat canggung membuatnya gugup dan ingin buang kecil, jadi ia memutuskan untuk ke toilet sebelum ia benar-benar sibuk nanti.
Ia berjalan memutar arah menuju toilet, setelah selesai buang air kecil ia mendengar suara ibu mertuanya. Ia terdengar marah-marah dan seperti berbicara dengan seseorang. Leony yang tadinya ingin membuka pintu toilet mengurungkan niatnya. Ia tak ingin bertemu dengan ibu mertuanya jika ibunya dalam keadaan marah.
"Mamah capek Rizka, masa semua Adam yang ambil alih. Dan mamah sekarang sudah nggak bisa memakai uang sesuka hati mamah. Dia bilang mamah keterlaluan lah, boros lah, dia bilang mau beli rumah untuk istrinya lah! mamah kan juga kerja tiap hari! mamah berhak dong dapat uangnya!" ibu Adam nampak kesal sekali. Ia membasuh wajahnya agar merasa lebih nyaman.
"Sabar mah, mas Adam kan memang dari dulu seperti itu," kata Rizka berusaha menenangkan.
"Mamah ini setiap hari kerja Rizka, beda sama si Leony itu yang tiap hari kerjanya cuma tidur aja di rumah! dia punya bisnis, tapi sedikitpun bisnisnya itu nggak berguna! mamah belum pernah merasakan uang hasil kerjanya!"
"Jangan seperti itu dong mah,"
"Belum hamil si Leony itu sudah bikin Adam jadi seperti ini! bagaimana kalau dia punya anak nanti?! bisa-bisa mamah ditendang keluar rumah!"
"Kalau begitu ya, jangan sampai Leony hamil dong mah!"
"Iya Rizka, kalau sampai Leony hamil, mamah sendiri yang akan menggugurkan kandungannya!"
Degh! Seluruh tubuh dan bibir Leony bergetar. Ia seperti disambar petir. Andaikan ia tak pergi ke sini, tak mungkin ia akan mengetahui pembicaraan ibu mertuanya saat ini. Ia semakin gemetar, lututnya lemas. Hampir saja ia pingsan jika ia tak berpegangan.
__ADS_1