Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Kehadiran Baby Boy


__ADS_3

Sakit semakin hebat menyerangnya, Leony hanya bisa memeluk kakak iparnya Anita. Rasa sakit melahirkan yang ia rasakan tak kalah dengan sakit di hati nya oleh perselingkuhan suaminya.


Pembukaan satu persatu telah ia lewati hingga air ketubannya pecah. Tak butuh waktu lama, tepat pukul 11 siang sang bayi lahir dengan selamat dan segera ditangani para bidan.


"Ibu, selamat bayi nya laki-laki." Ucap seorang bidan dengan senyuman. Bidan lalu mengantar bayi ke ruangan sebelah dan memanggil Adam untuk mengumandangkan adzan di telinga si bayi.


Kebahagiaan terpancar di raut wajah Leony dan Adam. Mereka berdua melupakan sejenak permasalahan diantara mereka.


"Baby boy, main bola sama papah yuk! aduuhh lucu nya anak papah..." Adam terus menggendong bayinya di pangkuannya. Sesekali ia mencium pipinya dan mendekapnya dalam pelukan.


"Mah, lihat deh.. dia mirip banget sama mamahnya." Ucap Anita gemas sambil mengelus-elus pipi keponakannya yang baru lahir.


"Masa sih mirip mamahnya? bukannya Leony dulu pernah oplas yah?"


Leony terdiam sejenak. "Nggak banyak perubahan kok mah, cuman buat menghilangkan bekas-bekas luka bakar saja."


"Gitu yah, mamah belum pernah sih lihat foto kamu sebelum oplas. Jadi, mamah belum bisa bilang baby boy ini mirip kamu." Ucap ibu mertuanya tersenyum.

__ADS_1


Mereka semua asyik bermain dengan bayi seharian. Terkadang ia menangis dan segera disusui.


"ASI kamu kalau belum lancar di sambung pakai susu formula aja dulu, nggak papa kok. Takutnya nanti bayinya rewel." Ucap Anita.


"Ya kak, aku lihat situasinya. Kalau dia rewel mau nggak mau aku sambung aja pakai susu formula. Tapi kalau dia nggak rewel aku akan susui saja."


Tak terasa hari sudah mulai sore, Anita dan ibunya membantu mereka mengemasi barang dan pulang ke rumah.


"Mamah pulang dulu, nanti malam mamah mau nginep di rumah kamu, oke?"


"Iya mah, makasih ya mah!" Ucap Leony pada ibu mertuanya.


"Hani, kamu yakin mau pulang sekarang? kalau pulang besok kan nggak apa-apa. Tinggal kita tambahin aja biayanya besok lagi."


"Nggak mas, aku mau di rumah aja. Di rumah sendiri lebih nyaman. Lagipula, nanti bisa aja ada pasien baru datang. Kita bisa pulang duluan dan bergantian sama yang lain. Jarak dari rumah juga dekat, kenapa nggak pulang aja sekalian."


"Ya sudah, terserah kamu. Aku yang gendong baby boy ya Hani?"

__ADS_1


"Kalau mas yang gendong terus yang nyetir siapa??"


"Ya kamu lah Hani, siapa lagi."


"Sejak kapan aku bisa nyetir mas?!"


"Aku kan cuma bercanda Hani, kamu jangan galak-galak gitu dong." Adam tersenyum melihat istrinya yang mulai emosi, dan membiarkannya berjalan di depan terlebih dahulu.


Mereka masuk ke mobil dan pulang. Di rumah terasa berbeda dengan kehadiran bayi mereka. Menjadi lebih hangat dan bahagia. Adam juga selalu tersenyum mengajak bayinya berbicara, meskipun bayi nya sedang tidur pulas.


"Hani, baby boy kok nggak mirip aku sih?"


Tak ada jawaban dari mulut istrinya. Istrinya hanya sibuk bolak balik ke kamar mandi.


"Hani, anak kita ganteng banget ya!"


Masih tak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut istrinya. Ia masih sibuk dengan pekerjaannya sendiri.

__ADS_1


"Hani, habis melahirkan nggak usah mondar mandir terus. Nanti kalau kenapa-kenapa gimana?"


Leony masih tak menyahut apapun kalimat yang keluar dari mulut suaminya.


__ADS_2