Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Liburan Adam


__ADS_3

Fira dan Leony menghabiskan makan siang mereka, kemudian bersantai duduk menikmati waktu santai.


Ponsel Leony berdering buru-buru ia mengangkatnya, ia pikir mungkin itu Adam yang menelpon. Ternyata Ibu mertuanya.


"Leony kamu kemana? rumh kalian sepi sekali?" tanya ibu dengan nada heran.


"Aku di desa mah, ma'af nggak sempat ngasih kabar ke mamah."


"Oh, yasudah kalau begitu. Dimana Adam?"


"Ada mah, mungkin di kolam. Aku lagi di kantor pemasaran nih, mah."


"Oh, yasudah. Lama-lama saja kalian di sana, nikmati liburan kalian,"


Leony terheran dengan perkataan ibu mertuanya, "apa? i-iya mah."


Tut tut, panggilan telpon berakhir.


"Ibu mertua mu?

__ADS_1


"ya, mamah mertuaku Fir. Sekarang ia lebih perhatian padaku, entah kenapa," ucapnya memasukkan ponselnya ke dalam tas selempangnya.


Ia berjalan menuju sofa kecil panjang di pojok ruangan dan berbaring menyamping. Perut besarnya lelah duduk hampir setengah hari.


"Syukurlah, itu suatu anugerah untuk mu."


"Ya, aku sangat bersyukur. Karena sebelumnya mamah mertua ku pernah mengatakan kalau dia sendiri yang akan menggugurkan kandunganku kalau aku hamil."


Fira terkejut dengan ucapan Leony, "benarkah? jadi.. apa yang membuat mamah mertua mu begitu baik sekarang?"


"Entahlah Fir, banyak pertanyaan yang sebenarnya belum terjawab. Seakan ada sebuah rahasia yang aku nggak mengetahui kebenarannya."


"Ya, semoga saja."


"Jadi, kapan tanggal perkiraan lahir bayi mu?"


"Sekitar satu bulan setengah dari sekarang, Fir."


"Syukurlah, itu akan jadi awal yang bagus untuk kehidupanmu. Ngomong-ngomong kamu nggak buru-buru pulang kan?"

__ADS_1


"Aku sih santai aja, kalau mas Adam aku masih belum tahu. Mamah mertuaku bahkan menyuruh kami untuk berlama-lama di sini."


"Baguslah, paling enggak aku nggak kesepian. Kamu tahu, di sini temenku cuma Fitri dan Bude Sum."


Siang itu mereka menghabiskan waktu mengobrol yang panjang. Leony sesekali mengusap perutnya yang terasa berkontraksi. Berulang kali ia mengubah posisi nya, dari berbaring miring ke kanan, kiri, telentang, duduk dan berselonjor. Nampaknya ia sudah merasa tak nyaman membawa perut yang semakin berat. Namun ia tetap mengelus-elus perutnya dengan tatapan kasih sayang.


Hingga sore hari, nampak Adam menjemputnya pulang. Kali ini wajah Adam terlihat lebih segar dan sumringah. Ia juga nampak membawakan sebuah bungkusan dan memberikannya pada Fira. bungkusan itu berisi ikan yang sudah panggang.


Malam pun tiba dengan hujan yang lumayan deras disertai petir yang menyambar kuat. Sepertinya musim hujan belum ingin beranjak. Tiupan angin yang kencang membuat siapa saja akan ngeri merasakannya.


Keesokan pagi, menyisakan embun yang tertinggal di dedaunan. Ranting dan pepohonan masih nampak sangat basah. Namun matahari yang terang sudah menyambut dengan cahaya nya yang menyilaukan.


Leony berjalan-jalan pagi, kata orang ibu hamil baik berjalan diwaktu pagi. Jadi ia tak pernah melewatkan momen pagi harinya bersama bayi di dalam perutnya.


Ia juga singgah ke sebuah warung terdekat yang sudah buka. Ia membeli telur, mie instan dan beberapa makanan kecil untuk di rumah.


Sesampainya di rumah, ia hanya memasak nasi goreng dan telur ceplok saja. Tak ada makanan istimewa di sana. Sebenarnya ia ingin membeli sayuran dan lauk, sayang jaraknya agak jauh. Andaikan saja sepeda motornya ada di sini. Membangunkan Adam di jam sekarang bukanlah hal yang mudah.


Sarapan sudah siap, namun ia hanya makan sendirian. Adam masih memeluk guling dengan mimpinya yang indah. Leony hanya makan nasi gorengnya sambil menonton televisi. Ia lebih memilih menonton kartun anak-anak. Sesekali ia tersenyum melihat tokoh lucu di dalam kartun itu.

__ADS_1


__ADS_2