
Setelah libur selama 2 bulan, kini perumahan Griya Makmur Residens resmi membuka bangunan kembali. Bangunan sebelumnya juga sudah terjual habis. Senyum merekah lebar dibibir Leony dan Fira.
Setiap blok jalan gang diberi nama sesuai urutan, Makmur 1,2,3 dan seterusnya. Gapura besar komplek perumahan juga sudah buat dengan kokoh dan megah. Setiap orang yang melawatinya berdecak kagum.
Jalan besar yang menghubungkan setiap blok-bloknya juga ditanami bibit buah yang bermanfaat seperti mangga cangkok, rambutan, petai dan lain-lain yang bibitnya dibeli dari petani lokal.
Nurin dan Bian bekerja seperti biasa, Nurin mengawasi para pekerja bangunan dan ikut membantu mereka apabila diperlukan. Sedangkan Bian bertugas menerima pengiriman barang dari kontainer atau membeli sendiri bahan bangunan yang diperlukan.
Kerja keras mereka semua mendapat bayaran yang setimpal, karena Leony orang yang dermawan. Terlebih lagi lebaran sudah dekat, di bulan ramadhan ia lebih sering mengadakan buka puasa di mushola terdekat. Dan juga membagikan sembako kepada para pekerja bangunan.
Hari yang cerah, hari pertama dibulan ramadhan. Banyak para pekerja yang masih melaksanakan puasa wajib. Terutama Nurin dan Bian. Walaupun sedang bekerja, mereka berdua selalu dipantau oleh bapak dan ibunya untuk selalu berpuasa.
Di desa, suasana beribadah sangat hangat. Agak berbeda dengan di kota. Di desa, apabila bulan ramadhan tak ada terlihat satupun penjual makanan yang berdagang. Semua orang saling menghormati meskipun beberapa orang tak menjalankan ibadah puasa.
Fira dan Leony juga berpuasa, mereka menyediakan menu sahur sederhana seperti ayam goreng kentucky dan sayur hijau dimasak bening, tak ketinggalan sambal yang menggugah selera makan. banyak minum air putih juga kunci untuk mereka menjalankan aktivitas yang padat esok hari.
Setelah sahur, mereka menonton televisi. Fira mengambil ponsel untuk mengirim pesan chat kepada anaknya, menanyakan tentang menu sahurnya. Fira terlihat sibuk dengan ponselnya.
Tak berapa lama kemudian, ponsel Leony menyusul dengan pesan chat Adam. Rupanya Adam juga tengah bersahur. Akhirnya mereka berdua saling memainkan ponselnya dan mengabaikan televisi didepan.
Tak berapa lama kemudian waktu imsak telah tiba, Leony dan Fira bersiap mengambil air wudhu bersiap untuk sholat subuh. Sementara masuk waktu sholat subuh, mereka hanya duduk nonton televisi sesekali membalas pesan chat.
__ADS_1
Fira semenjak mengenal Leony yang lebih taat beribadah daripada dirinya mulai terpengaruh sedikit demi sedikit. Meskipun Leony juga terkadang sholatnya masih saja ada bolong.
Meskipun matahari sangat terik, namun tak membakar habis semangat untuk berpuasa mereka semua. Ketika hampir tiba waktu berbuka, disitulah keceriaan terpancar. Memilih menu berbuka adalah sesuatu yang menyenangkan buatnya.
Ia membuat es buah sendiri menunjukkan keahliannya. Fira yang tak mau kalah juga membuat kue pie kesukaannya dengan isi keju. Menu buka kali ini adalah sop ayam kampung. Mereka membeli satu ekor ayam kampung yang sudah bersih dari tetangganya.
Lain halnya dengan Adam, dia yang masih tinggal di kota karena suatu urusan harus bersahur seorang diri. Hanya dia dan para pembantu rumah tangganya yang bangun untuk bersahur. Hari ini pembantu rumah tangganya memasak lumayan enak untuk menu bersahur. Adam berharap suatu hari nanti Leony yang akan memasak menu sahur untuknya, pikir Adam.
Setelah bersahur, Adam hanya duduk di ruang tamu main ponsel sembari menunggu waktu imsak. Di sampingnya sudah tersedia air putih, sesekali dia minum agar seharian dia tak mudah kehilangan cairan ketika mengerjakan aktivitasnya.
Sebenarnya dia sangat merindukan Leony, namun pekerjaannya diperusahaan membuatnya dia harus fokus sementara waktu. Inflasi yang setiap tahun pasti terjadi di bulan-bulan mendekati lebaran membuatnya harus bekerja keras.
Perusahaannya bekerja dibidang kuliner, dia juga memiliki pabrik makanan sendiri. Produk makanan yang telah diolah dan dikemas sebagian besar di ekspor ke negara tetangga. Hanya sedikit produknya yang dipasarkan dalam negeri. Permintaan lokal yang tinggi membuatnya harus bekerja keras dalam memenuhi kebutuhan pokok bahan utama produknya di tengah inflasi.
******
Di komplek griya makmur, semua para pekerja sedang istirahat siang. Karena banyak yang sedang berpuasa, mereka istirahat agak lama dari hari biasa.
Di kantor pemasaran Leony dan Fira mengumpulkan bingkisan sembako untuk para pekerja, memang tak seberapa banyak. Namun pasti bermanfaat untuk mereka semua. Bingkisan itu berisi beras 5 kg, gula 1 kg, teh, kopi, susu kental manis, minyak goreng dan beberapa bungkus mie instan.
Fira telah memerintahkan Nurin agar sebelum pulang para pekerja mengambil bingkisannya masing-masing ke kantor. Semenjak dibangun komplek perumahan, desa menjadi lebih maju. Hasil bumi yang bagus juga menjadi salah satu sumber utamanya. Desa itu kini semakin maju dan berkembang.
__ADS_1
Malam hari, Leony dan Fira pergi ke pasar malam menggunakan motor maticnya. Di sana mereka menemui badut yang selalu ada disana setiap pasar malam. Mereka memberikan santunan uang untuk digunakan sebagai modal usaha.
Betapa terkejut Leony melihat wajah badut yang membuka penutup kepalanya, ternyata ia seorang perempuan. Mereka duduk mengobrol agak lama di sana. Badut yang membawa 3 orang anaknya setiap pasar malam adalah seorang wanita janda. Meskipun dia janda beranak 3, namun usianya masih sangat muda yakni 26 tahun. Dia juga mengatakan tempat tinggalnya dan keseharian dia adalah berjualan sayur.
Miris rasanya melihat kehidupan perempuan di depannya, Leony tak menyangka bahwa dia harus bersyukur setiap harinya diberikan kenikmatan yang lebih, keuangan yang lebih dan lain sebagainya.
Dia teringat Nita, kemudian Fira. Mereka berdua adalah contoh korban laki-laki yang tak bertanggung jawab. Ada banyak kasus serupa disekitar yang menjadi cerminan bagi dirinya. Bertahan hidup membiayai anak seorang diri bukanlah hal mudah.
Sejak saat itu, Leony menjadi terus berhemat. Dengan cara itulah dia bisa menghargai usahanya, menghargai kehidupan. Terlebih sebentar lagi ia dan Adam berniat untuk menikah, perlu biaya dan setelahnya akan ada tanggung jawab baru.
Setiap hari dia dan Adam saling menelpon, di telpon mereka hanya terus membayangkan keinginan mereka untuk segera menikah. Komitmen bersama yang harus selalu mereka tepati dan hargai.
Drrrttt drrrttt drrrttt.
Ponsel Leony berdering, mereka baru saja tiba dirumah dan duduk di depan televisi. Adam menelpon, "Kamu lagi ngapain?" tanya Adam di telpon.
"Aku baru sampai rumah mas, dari pasar malam," sahutnya.
"Beli apa tadi?"
"Beli sayur mas, buat sahur nanti malam. Mas lagi ngapain?"
__ADS_1
"Mas lagi nonton televisi aja," kata Adam berbohong. Sebenarnya dia sedang sibuk bekerja, ia hanya berusaha menyempatkan waktu menelpon kekasihnya. Karena siang hari sama sekali tak sempat meskipun hanya untuk mengirim pesan singkat.
Lama mereka mengobrol, dalam hati yang sedang kasmaran itu adalah obat manjur sementara mengobati rindu masing-masing.