
Pagi sekali Nita sudah memasak menyiapkan sarapan untuk keluarganya terutama untuk suaminya yang akan pergi bekerja. Semenjak mengambil cuti kuliah tak ada kegiatan yang begitu menarik perhatiannya di rumah. Dan juga dikarenakan perutnya yang semakin buncit, Nita juga menjadi jarang keluar rumah. Hanya jika temannya yang datang untuk sekedar main. Itupun teman sekelas sewaktu dia duduk di bangku SLTA dulu.
Setiap hari terasa membosankan baginya, terkadang dia menelpon teman-temannya yang sedang sibuk mengerjakan tugas kuliah. Lama-lama hanya dirumah saja membuatnya jenuh.
Tiba-tiba Nita terfikir untuk berjalan-jalan ke tempat pekerjaan Nurin, hanya untuk iseng. Kebetulan dia juga ingin membeli perlengkapan bayi di toko dekat dengan tempat kerja Nurin.
Nita berangkat membeli perlengkapan bayi, sebenarnya ibu sangat ingin sekali menemaninya. Tetapi Nita dari dulu hampir tak pernah jalan-jalan bersama ibunya. Dia lebih senang naik motor sendiri menikmati pemandangan. Setelah menempuh jarak yang agak jauh sampailah Nita di toko perlengkapan bayi.
Dengan sejumlah uang ditangannya dia membeli kasur bayi, bedong, dan beberapa setel baju bayi. Setelah membeli beberapa perlengkapan bayi dia pergi untuk mencari jajanan. Tak jauh dari sana dia melihat pedagang kaki lima menjual cilok dan pentol bakar. Dia membeli beserta minuman dingin. Setelah itu menikmati pemandangan dengan menaiki motor. Dia memperhatikan setiap gang dan bangunan yang dikerjakan Nurin.
Sangat cantik, gumam Nita dalam hati. Dengan cat rumah warna warni dan desainnya elegan dan modern. Apalagi harga cash yang ditawarkan sangat menggiurkan. Ingin rasanya dia membeli satu rumah andai dia punya uang sendiri. Namun selama ini dia hanya menadah tangan kepada orang tuanya. Untuk jajan saja dia terus meminta kepada orang tuanya. Hingga tersadar dia betapa selama ini Ibu dan Bapaknya sangat menyayanginya. Menuruti semua permintaannya tanpa banyak bertanya untuk apa uang yang dimintanya. Dia selalu berdalih uang jajannya kurang, untuk beli perlengkapan dll. Sebagai anak tunggal dia sangat manja, namun dia sudah melakukan kesalahan paling besar dalam hidupnya.
Membuat ibu dan bapaknya malu dengan perbuatannya, sering berbohong tentang uang. Padahal uang jajan yang selalu dimintanya hanya untuk mengenyangkan Sandi semata. Dia sekarang merasa sangat bodoh, pantas saja Bapaknya sangat marah terhadapnya.
Fuuuhhhh
Pantaslah dia mendapatkan kemarahan bapaknya. Untuk dirinya sendiri saja dia tidak berguna. Apalagi untuk membeli rumah seperti ini. Hanya di dalam mimpi saja dia bisa mendapatkannya. Lama dia termenung duduk di motornya.
Kali ini dia merasa minder untuk menemui Nurin di sana, apalagi jika ada Leony nantinya. Dia akan pesimis. Tadinya dia merasa biasa saja, lama kelamaan seakan tak punya muka rasanya untuk menemui Nurin di sana.
Nita kemudian cepat-cepat pulang. Dia takut wajahnya akan terlihat Nurin atau yang lainnya.
Sambil berjalan santai, dia melewati jalan pulang dan kali ini melihat Sandi juga sedang melewati jalan itu dengan mengendarai mobil. Kali ini Sandi sukses membuat Nita menoleh dan kepo dengan apa yang ingin dilakukannya. Mungkin dia lupa akan peristiwa memalukan tempo hari.
__ADS_1
Nita membuntuti dibelakang dan berusaha menjaga jarak agar tidak ketahuan oleh Sandi. Setelah sekian lama dia mengikuti Sandi kini dia sudah sampai tepat di depan penginapan Sandi. Ternyata dia sedang mengantarkan seseorang melihat-lihat bangunan dan mengelilinginya. Ternyata mereka tengah bernegosiasi untuk harga penginapannya tersebut.
Setelah mengetahui Sandi ingin menjual asetnya, Nita pun pulang dengan hati yang lesu.
"Kenapa kamu Nak, koq lesu gitu?" Ibu bertanya setelah melihat kedatangan Nita yang membawa raut muka lesu, "sudah jalan-jalannya?"
"Sudah buk, buk bapak kemana?"
"Bapak tadi pergi katanya mau lihat lokasi tanahnya yang di dekat perempatan." ucap ibu mengambil kain lap di meja dan membersihkan meja yang agak berdebu.
Nita merebahkan diri di sofa sambil memakan jajanan yang tadi dibelinya. "Mau ngapain bapak kesana buk? di sanakan cuma lokasi kosong?"
"Justru itu Nita, bapak sama ibuk pengen nanti kamu sama Nurin tinggal disana sambil berjualan sembako. Lokasinya di sana memang kecil, tapi sangat strategis untuk membuka usaha."
"Kenapa gak setuju? bapak sama ibuk sudah menanyakan itu sama Nurin dan dia menyetujui."
"Tapi buk, rasanya Nita masih belum siap Maksudnya Nita dan mas Nurin belum siap tinggal satu atap begitu buk, dan kalau Nita sudah mulai masuk kuliah lagi bagaimana nasib bayi ini?" Nita mulai kesal dengan keputusan sepihak dari orang tuanya, "buk, apakah Nita ini emang pembangkang? tapi semua yang Nita fikirkan menurut Nita sudah yang paling benar."
"Bapak sama ibuk cuma ingin kalian memiliki rumah tangga yang benar-benar berlandaskan cinta. Bapak sama ibuk menyuruh kalian membuka usaha sembako itu nantinya untuk usaha Nurin juga. Gak mungkin Nurin terus menerus mengharapkan kerja di perumahan terus, lahan itu kalau digarap terus menerus suatu saat juga akan habis. Kalau masalah anak, Ibuk yang akan mengurusnya nanti, dan kamu lanjutkan saja kuliahmu." Ibu duduk di sofa dan menarik nafas dalam. "Kamu bukan pembangkang Nak, kamu hanya mengatakan pemikiran kamu terhadap orang lain. Kalau kamu merasa pemikiran kamu itu benar, coba kamu fikirkan lagi kemauan Ibuk dan Bapakmu ini. Segala yang bapak ibuk lakukan semata-mata untuk kehidupanmu yang lebih baik, agar kamu hidup bahagia." Ibu menyudahi perkataannya dan berjalan membawa kain kotor menuju dapur.
Nita menyadari semua yang dikatakan Ibunya tadi memang benar. Dia mulai merenung, Nurin ternyata menyetujui keinginan orangtuanya. Apakah Nurin melakukan itu atas keinginannya sendiri? apakah Nurin mulai membuka hatinya untuknya? ataukah Nurin melakukan semua itu dengan terpaksa?
Aaakkhhhhh
__ADS_1
Otak nya hampir saja meledak memikirkan semua itu, Nita membuang sampah sisa jajannya dan pergi ke kamar untuk tidur.
Sudah pukul 4 sore, Nurin tiba di rumah. Dia memanggil Nita untuk mengobrol berdua.
Nita deg degan, apakah Nurin ingin membahas yang dikatakan ibunya tadi siang.
"Ada apa mas?"
"Sini, di kamar mas aja. Gak enak dilihat Bapak atau Ibuk." Mereka berdua masuk ke kamar Nurin.
Nita yang sudah pusing menjadi semakin pusing Nurin mengajaknya ngobrol berdua. Apakah pernikahan memang serumit ini?? Timpalnya dalam hati.
Nurin menyodorkan amplop, "ini,uang 4 juta. Simpanlah untuk biaya persalinan," wajahnya sumringah menyodorkan amplop berisi uang itu, tanda kalau dia ikhlas memberikannya.
"Mas.... darimana uang sebanyak ini?"
"Alhamdulillah, 5 komplek perumahan sudah terjual habis. Ini adalah bonusnya."Nurin berkata dengan senyumnya yang sangat lebar.
"Mas, maaf aku gak bisa terima uang ini."
"kenapa dek?"
"Mas, kamu sadar gak sih? kamu bukan ayah dari anak ini, aku gak akan membiarkan kamu terus menyiksa diri kamu. Lebih baik uang itu kamu berikan untuk orang tuamu, mereka jauh lebih membutuhkan."
__ADS_1
Nita mengembalikan amplop ditangannya dan pergi meninggalkan Nurin begitu saja.