Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Ingin Pulang


__ADS_3

Keesokan pagi, seperti biasa hari-hari sibuk yang tiada akhir. Rumah besar yang mewah hanya memiliki 1 pembantu rumah tangga membuat Leony harus bekerja keras.


Adam bangun lebih awal, ia menggelitik istrinya yang masih tertidur. Karena gagal meluncurkan aksinya tadi malam ia berniat melakukannya pagi ini.


Istrinya hanya menggeliat kegelian dan berusaha bangun. Melihat istrinya yang terbangun, Adam langsung menubruk tubuh istrinya dan melancarkan serangan.


Masih pukul 06.00 pagi, Leony sudah membersihkan diri dan pergi ke dapur membantu bi Sri. Adam yang merasa segar ikut membantu istrinya di dapur. Sesekali mereka bermesraan, bi Sri yang melihat tingkah Adam menjadi tidak fokus pada pekerjaannya. Leony mengisyratkan suaminya untuk menunggu sarapan di meja, karena sebentar lagi ibu dan kakaknya akan datang.


Adam menunggu sarapan di meja makan sambil menikmati secangkir kopi. Ibu dan kakaknya juga sudah datang dan terlihat agak sibuk. Tak berapa lama kemudian, mereka sarapan bersama. Ayah Adam juga ikut sarapan bersama dibantu oleh anak-anaknya.


Seperti biasa, Adam berangkat lebih dulu, kemudian Anita menyusul menggunakan mobil mereka masing-masing. Di dapur, hanya ada Leony dan ibu mertuanya.


"Leony, ibu mau pinjam uang kamu. Kamu masih punya uang kan?" tanya ibu mertuanya sambil mengumpulkan piring bekas makan ke wastafle.


"Masih mah, sebentar saya kirimkan mah,"


Leony pergi mengambil ponselnya di kamarnya lantai atas dan kembali menemui ibu mertuanya yang sedang menunggu di bawah.


"5 juta ya, kirim ke rekening mamah," kata ibu mertuanya.


Kling! kling! nada ponsel berbunyi pertanda uang telah berhasil di transfer. Ibu mertuanya lalu pergi bekerja. Sambil membuka pintu mobil, ia terlihat sedang menerima telpon dari seseorang. Wajah ibu mertuanya kini berubah menjadi sangat senang. Ia mengendarai mobil dengan santai hingga hilang dari pandangan Leony.


Leony menutup pintu pagar dan kembali masuk ke dalam untuk mandi, bi Sri tiba-tiba muncul dan meminta uang belanja.


"Non, bibi mau belanja. Kira-kira uang belanjanya sekitar 500 ribu non," ucap bi Sri sambil menenteng keranjang belanjaan, ia berbicara dengan sangat sopan.


"Sebentar ya bi, saya ambilkan dulu." Leony menuju kamarnya dilantai atas mengambil uang dari dalam lemari. Untung saja semalam ia menarik uang lebih dari ATM nya.


Setelah memberikan uang belanja kepada bi Sri, Leony menghela nafas panjang. Ingin rasanya ia menitikkan air mata karena uang yang diberikan suaminya kini hampir habis. Ibu mertuanya yang baru saja pergi bahkan tak mengucapkan sepatah katapun kepadanya setelah menerima uangnya, apalagi mengucapkan terima kasih.


Leony merasa kepala sedikit pusing dan berjalan ke kamar. Di dalam kamar ia mencoba untuk menelpon Fira.


"Fir, gimana kabar kamu?"


"Aku baik, kamu?"

__ADS_1


"Biasa aja," Leony mengusap air matanya yang mulai mengalir, "Aku kangen kamu Fir, dan kangen rumah."


"Aku lagi di rumah ibuku, nanti sore kembali ke desa karena besok proyek sudah mulai. Kamu mau ikut?"


"Aku ikut ya, kamu bisa jemput?" bukan kepalang senang Leony mendengar perkataan Fira.


"Iya, nanti jam 3 aku jemput,"


Mereka menyudahi percakapan. Leony merasa sangat senang, dengan cepat ia mencari nomor telpon suaminya dan menelponnya.


"Hallo, Leony?" ibu mengangkat telpon Adam.


"Mah, mas Adam mana?"


"Dia sedang sibuk, memangnya ada apa kamu menelpon pagi-pagi begini?"


"Mah, tolong bilangin mas Adam hari ini aku ke desa sama Fira. Tolong ya mah?"


"Apa, kamu mau ke desa? kamu baru ke desa minggu lalu sekarang mau ke sana lagi? kamu sudah bosan tinggal di rumah suami kamu?!"


"Mah, aku kesana karena pekerjaan proyek akan dimulai. Lagipula aku kesana sudah 3 Minggu yang lalu mah, bukan seminggu yang lalu."


Tut tut, telpon terputus. Leony mulai jengkel mendengar perkataan ibu mertuanya. Dia tak menyangka ibu mertuanya akan berkata sekasar itu padanya.


Ia kembali turun ke lantai bawah, dilihatnya ayah mertuanya berjalan tertatih hendak menuju kamar mandi, ia kemudian menuntunnya. Ayahnya mengungkapkan rasa senangnya kepada menantunya. Meskipun dengan ekspresi dan perkataan yang sama sekali tidak jelas, Leony faham ayahnya sedang berterima kasih padanya.


Tak berapa lama, bi Sri muncul dengan banyak belanjaan. Ia memberikan nota belanja seperti biasanya. Kemudian mereka memasak bersama. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 3 Fira membunyikan bel. Leony terkejut, ia lupa menelpon Adam kembali.


"Fir, apa kamu sudah makan?"


"Aku belum makan, karena tadi sangat sibuk."


"Kamu makan dulu ya," Leony menarik tangan Fira seperti anak kecil, ia menyiapkan makanan untuk Fira, "sebenarnya aku belum sempat minta izin sama mas Adam, jadi kamu makan dulu di sini sementara aku bersiap-siap." Leony memberikan senyum kecut kepada Fira.


"Ya, oke," Fira menjawab singkat. Dilihatnya temannya itu naik ke lantai atas. Sebenarnya Fira prihatin melihatnya. Sejak menikah dengan Adam, badannya menjadi agak kurus. Pakaiannya pun seadanya saja, tak ada perubahan sajak dulu. Kini penampilannya malah semakin lusuh dengan keringat yang berbau masakan. Dia pasti bekerja keras tinggal di rumah mertuanya. Fira menghela nafas panjang.

__ADS_1


Leony yang sudah berada di kamarnya menelpon Adam sambil mengambil tas selempang kecil miliknya menyiapkan sedikit perlengkapan make up nya.


"Mas,"


"Ya, Hani?"


"Aku mau ke desa sama Fira ya mas, karena besok pekerjaan proyek sudah dimulai."


"Emm hani, kita ke desanya hari sabtu aja ya. Mas nggak mau kamu pergi tanpa mas, ya?"


"Tapi mas, Fira sudah di sini."


"Oya?"


"Iya mas, boleh ya mas?"


"Em, yasudah. Hani, ngomong-ngomong kamu kalau ada apa-apa bilang aja sama mamah nggak usah sungkan ya, tadi mamah bilang kamu mau ngomong sesuatu sama mamah tapi nggak jadi."


"I-iya mas,"


"Yasudah, hati-hati di jalan ya hani," kata Adam menyudahi percakapannya di telpon.


Leony kemudian turun menuju ruang makan, ia menyusul Fira untuk makan. Setelah makan, mereka berpamitan kepada ayah mertuanya dan pergi menuju desa.


Leony sangat senang bisa kembali ke desa. Sepanjang jalan, raut wajahnya sumringah. Ia dan Fira bercerita panjang lebar tentang keseharian mereka masing-masing.


"Leony, kalau kamu nggak ada antar atau jemput kamu kan bisa pergi ke desa pakai sepeda motor kamu? kamu gak takut kan?"


"Aku nggak takut koq, aku cuma nggak di izinkan sama mas Adam kalau naik motor sendirian, tapi aku malah sering naik motor sendirian ke ATM," Leony tertawa kecil.


"Mentang-mentang jadi istrinya presdir, sekarang sering bolak balik ke ATM," Fira mulai mengejek Leony.


"Uang belanja aja masih ku...," Leony menghentikan kalimatnya, seketika ia sadar apa yang ingin diucapkannya namun dia tak melanjutkan.


"Kurang?" Fira bertanya dengan sangat heran. Ia memandang sekilas wajah temannya, kini ia mengerti Leony sedang bersedih, "Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk cerita sama aku, aku kan teman kamu."

__ADS_1


"Iya Fir," Leony menjawab singkat.


Agak lama mereka terdiam, hingga tak terasa sudah melewati perbatasan menuju desa. Pemandangan hamparan padi mulai terbentang luas di depan mata.


__ADS_2