
Malam yang tenang, Leony dan Fira bersantai di teras rumah. Angin sepoi-sepoi bertiup merdu mengibas rambut mereka berdua. Sesekali Fira mencuri pandangannya ke arah Leony. Sejak kedatangannya kemarin ia lebih banyak diam. Hanya akan menjawab apabila ditanya.
"Leony, kamu baik-baik saja kan?" tanya Fira yang sudah tidak betah melihat Leony yang terus diam.
"Ya, aku baik," sahutnya sambil mengambil ponselnya. Ia hanya melihat sekilas kemudian meletakkan ponselnya kembali.
"Apa aku harus mengantarmu pulang?"
"Nggak usah repot-repot.. kalau aku mau pulang aku akan pulang sendiri," ia menarik nafas panjang kemudian melanjutkan, "Lagian, aku memang sudah nggak seharusnya ada disana."
"Kenapa kamu berkata seperti itu?"
"Ada nyawa yang harus aku jaga Fir, kalau aku terus di sana aku membahayakan nyawanya?"
Fira berpikir sejenak, "apa kamu hamil?" tanya Fira dengan hati-hati. Ia tak ingin membuat Leony merasakan kesedihan lainnya.
"Ya, aku hamil. Dan ibu mertuaku tak menginginkan anak ini. Kalau aku terus disana sama saja aku membahayakan nyawa anak ini."
"Kalau Adam mengetahui kamu hamil, seharusnya dia sekarang ada bersamamu. Apa masalah kalian sangat serius?"
"Adam belum mengetahui tentang kehamilanku Fir, ini juga termasuk satu kesalahanku. Aku nggak punya keberanian mengatakannya meskipun itu pada suamiku sendiri."
"Kamu harus mengatakan semuanya Leony, sebelum semuanya semakin rumit. Apapun yang akan terjadi nanti, aku akan selalu ada untuk membantumu."
"Ya, aku akan menemui mas Adam besok, aku sudah memikirkannya matang-matang."
"Baguslah, kamu harus tegas dan tetap melindungi diri dan bayi kamu," ucap Fira sambil tersenyum.
*************
Adam masih bekerja hingga larut malam. Ia tak merasakan kesepian karena ada Rizka yang selalu menemani, sesekali mereka bercanda.
"Mas, aku bawakan anggur dikit. Kita minum bareng ya," ajak Rizka sambil meletakkan minuman anggur dan beberapa kantong plastik makanan.
"Kamu baik sekali Rizka, letakkan saja di situ. Aku harus menyelesaikan ini sedikit lagi," ucapnya sambil terus menginput data ke dalam laptopnya.
__ADS_1
"Cepet mas, udah malem. Aku takut pulang sendirian."
"Terus, kenapa kamu nggak pulang dari tadi? kamu bawa mobil kan?"
"Aku nggak bawa mobil mas, mobil aku masuk bengkel tadi sore."
"Ya ampun, yasudah aku lanjutkan besok saja," ucap Adam menutup laptopnya, "setelah makan dan minum aku antar kamu pulang."
"Iya mas, makasih."
Adam dan Rizka meminum anggur yang ada dihadapan mereka. Tak berapa lama kemudian mereka sudah nampak mabuk sempoyongan.
"Mas, ayo antar aku pulang," Rizka merengek seperti anak kecil, ia hampir tak bisa bangkit.
"Nanti dulu hani, kita kan belum asik-asik." ucap Adam yang tengah mabuk berat terlalu banyak minum.
"Hani? siapa itu mas?"
"Hani itu ya kamu sayang, aku minta jatah dulu baru kita pulang," ucap Adam mendekati Rizka dan mulai menciuminya.
Rizka yang masih sedikit sadar membiarkan saja Adam menjelajahi tubuhnya. Karena memang itulah keinginannya. Dan akhirnya Adam masuk kedalam perangkapnya. Ruangan itu menjadi saksi bisu perbuatan terlarang yang dilakukan mereka berdua.
pukul 7 pagi ibu Adam bersiap ke kantor, ia tak menyadari bahwa Adam mabuk berat dan masih berada di kamarnya. Ia pergi ke kantor lebih dulu.
Di kantor, ibunya pergi ke ruangan Adam. Ia terheran-heran melihat ruangan Adam yang sangat berantakan. Ruangannya juga dipenuhi bau anggur, makanan berserakan di bawah meja. Begitu juga dengan keadaan meja dan kursi yang kesana kemari tak beraturan.
Ibunya mencari seorang petugas kebersihan. Rupanya petugas kebersihan datang terlambat. Ibunya memarahi 2 orang petugas kebersihan di sana.
"Meta, Doni! kalian tahu ini jam berapa?! kalian lihat jam sekarang!" ibu Adam sangat geram kepada mereka berdua yang datang terlambat.
"Ma'af kan saya buk, saya terlambat," ucap Meta ketakutan.
"Ma'af kan saya juga buk," Doni ketakutan melihat bos nya yang marah.
Biasanya karyawan yang melakukan kesalahan pasti akan langsung dipecat, Meta dan Doni dibuat ketakutan olehnya. Mereka berdua hanya bisa menunduk.
__ADS_1
"Kalian berdua kemarin sebelum pulang bersih-bersih nggak sih?! kenapa ruangan Adam sangat kotor?!!"
"Saya bersih-bersih buk sebelum pulang," timpal Meta.
"Saya yang membersihkan ruangan pak Adam buk, sebelum pulang sudah saya bersihkan," ucap Doni membela diri.
"Sekarang kalian berdua bersihkan ruangan Adam, cepat!"
Meta dan Doni membersihkan ruangan Adam, sedangkan ibunya Adam duduk di kursi melihat pekerjaan mereka berdua.
"Kalian ingat ya, kalau kalian nggak becus kerja saya akan pecat satu diantara kalian atau dua-duanya!" ucap ibu Adam sambil memainkan ponselnya.
Tak berapa lama kemudian Adam muncul, ia terheran melihat Meta dan Doni yang membersihkan ruangannya. Di sana juga ibunya duduk sambil mengawasi, sambil sesekali mengomeli merek berdua.
"Ada apa ini? kenapa kalian bertiga sibuk di ruangan ini?" tanya Adam kebingungan.
"Harusnya mamah yang bertanya, tadi malam memangnya ada angin ****** beliung di sini??!" tanya ibunya keheranan.
"****** beliung apa mah? tadi malam baik-baik aja," Adam tak kalah heran dengan perkataan ibunya.
"Ruangan ini sangat berantakan, penuh minuman anggur, makanan berserakan dimana-mana, meja dan kursi terbang kesana sini!" kata ibunya sambil menunjuk-nunjuk meja dan kursi, "kamu ngapain aja lembur tadi malam? kamu berkelahi??"
Adam terdiam sejenak, ia ingat apa yang dilakukannya bersama Rizka. 'Matilah aku!' timpal Adam dalam hati.
"Aku minum dan mabuk berat mah, aku terjatuh berkali-kali," Adam berusaha menjelaskan.
"Jadi, sama siapa kamu minum tadi malam? teman?? mamah pikir kamu nggak punya teman," ibunya terus bertanya menginterogasi anaknya.
"Aku minum sendirian mah, nggak ada siapapun di sini selain aku," ucapnya berusaha tenang dan duduk di kursinya.
"Makanan yang mamah liat tadi terlalu banyak untuk kamu makan sendirian, jelas saja mamah penasaran. Lain kali kalau mau minum-minuman usahakan jangan berantakan seperti tadi Adam! masih untung yang lihat cuma mamah, bagaimana kalau partner kerja kamu yang lihat??!"
"I-iya mah."
Ibunya dan petugas kebersihan sudah pergi meninggalkan ruangannya. Adam merasa bersalah karena kekhilafannya tadi malam. Ia mengingat-ingat kembali kejadian tadi malam. Akhh! betapa bodohnya dirinya.
__ADS_1
Seharian itu, Rizka pun menghilang tak muncul lagi batang hidungnya. Apakah Rizka juga merasakan perasan bersalah? apakah ini yang namanya perselingkuhan?
Hari itu Adam tak bisa fokus pada pekerjaannya. Hari ini ia berharap bisa bertemu dengan istrinya. Ia mulai merasa cemas akan banyak hal.