Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Kehidupan Setelah Menikah


__ADS_3

Hari pernikahan Leony sudah tiba, Adam dan Leony nampak sangat bahagia di pelaminan. Tamu undangan sangat banyak. Mulai dari teman, karyawan dan kerabat.


Bude Sum sebagai wakil orangtua Leony yang duduk di samping pengantin wanita. Sedangkan di samping Adam juga hanya ada ibunya. Ayahnya hanya di kursi roda duduk diantara para tamu ditemani menantu pertamanya, Narto dan perawatnya.


Nuansa warna gold menghiasi pelaminan yang luas. Leony nampak melihat Nurin, Arif dan Nita duduk bersama, mereka nampak harmonis dari kejauhan. Tingkah lucu Arif membuat banyak orang tersenyum. Arif kini berumur hampir 2 tahun.


Fira duduk bersama dengan ibunya, Zahra dan juga Ningsih. Mereka terlihat menikmati hidangan dan berbicara santai. Tak berapa lama kemudian mereka meminta untuk berfoto bersama dengan kedua pengantin.


Sedangkan Bian duduk berdua dengan Fitri. Mereka juga tengah asyik menikmati makanan dan jajanan yang tersedia. Mereka terlihat sangat romantis. Sesekali nampak dari kejauhan mereka berdua bercanda.


Tak berapa lama, Anjar muncul dengan pakaian rapi dan mengambil duduk diantara ibu Fira dan Zahra. Ia terlihat sopan dan ramah, namun Fira masih saja cuek seperti biasa.


Di sudut kursi lainnya ada Rizka, mantan kekasih Adam. Adam pernah sekali memperlihatkan foto Rizka, tak sulit untuk mengenalinya. Rambut panjang lurus smoothing dengan warna pirang, kulitnya putih pucat seperti keturunan bule. Badannya juga tinggi semampai dengan gaun panjang membelah samping memperlihatkan pahanya yang putih dan panjang. Sesekali Rizka memandang kearah pelaminan, dan tatapannya bertemu dengan Leony. Rizka segera memalingkan wajah.


Hari itu, Leony melepas masa lajangnya dan menyandang setatus baru. Mereka masih tinggal dirumah orangtua Adam atas kemauan mereka berdua. Setelah menikah, Leony hanya ingin menghabiskan lebih banyak waktu di rumah.


Ibunya juga mengurangi pembantu rumah tangga, yang awalnya ada 2 sekarang hanya ada 1 orang pembantu dan 1 orang tukang kebun. Setiap hari Leony mengerjakan pekerjaan rumah dibantu oleh bi Sri. Bi Sri mengajarkan masakan setiap hari yang dibuatnya untuk keluarga Adam.


Setiap hari, perawat mertuanya juga datang untuk merawat ayahnya. Memandikan kemudian menyuapi makan. Setelah itu mengajak ayahnya jalan-jalan. Sejak ada Leony, seringkali ia yang mengajak ayah mertuanya berjalan-jalan dengan kursi roda.


Setiap hari Jum'at, Leony akan kembali ke desa hingga hari Minggu. Meskipun proyek pembangunan berhenti sementara, ia tetap harus kembali ke desa mengingat kolam ikan yang jadi tanggung jawabnya. Rumah peninggalan orangtua Leony pun akhirnya kosong. Karena Fira juga telah pulang ke rumah ibunya.


Dari proyek terkahir, Leony berhasil melunasi semua hutang-hutangnya kepada Ningsih. Kemudian membeli lahan baru untuk memulai proyek pembangunan. Setelah melunasi hutangnya, membeli lahan baru dan membayar Fira dengan bayaran yang layak. Kini ia hanya memegang uang pribadinya kurang lebih 100 juta di kartu ATM. Dana pembangunan seluruhnya dia serahkan kepada Fira.


Sekarang hari-hari Leony menjadi semakin sibuk. Adam untuk pertama kalinya memberikan kartu ATM kepada Leony, setiap bulan ia mentransfer uang sebanyak 20 juta ke rekeningnya.


Pagi sekali, Leony sudah bangun dan memasak di dapur. Kemudian menyusunnya diatas meja. Tak terasa, sudah 2 bulan ia menjadi menjadi anggota keluarga dalam rumah itu. Ia mulai faham kebiasaan orang rumah. Terutama kak Anita, bangun pagi belum cuci muka sudah minta buatkan secangkir kopi susu pada bi Sri.

__ADS_1


Di meja makan, sambil menunggu kopi susu ia menelpon Narto suaminya. Suaminya selalu mengangkat telpon istrinya akan tetapi selalu berakhir dengan cekcok.


"Mas, anak-anak sudah bangun?"


"Sudah, ini lagi mau berangkat sekolah."


"Sudah sarapan?"


"Belum,"


"Kenapa belum?"


"Nanti, makannya di warung mbak Jum, si janda kembang."


"Di mana tuh? genit banget sih mas."


"Enak ya masakannya?" Anita mulai risih dengan cara bicara Narto.


"Ya enak bangetlah. Sudah masakannya enak, penjualnya asyik diajak ngobrol, cantik, perhati..." belum sempat Narto menyelesaikan kalimatnya Anita kesal dan marah.


"Ya mas, sana kamu urusin anak-anak sama janda kembang kamu yang perfect itu!"


Tut Tut. Anita mengakhiri panggilan telponnya. Bi Sri telah selesai membuat kopi dan meletakkannya di depan Anita. Anita berdiri mengambil piring dan langsung sarapan ringan. Setelah sarapan, barulah ia pergi mandi.


Leony membersihkan lantai dengan pel setengah basah. Ibu mertuanya lewat dan hampir terpeleset.


"Aduh!"

__ADS_1


"Mah, mamah baik-baik aja?" Leony terkejut dan membantu ibunya berdiri.


"Kamu bisa ngepel nggak sih? kenapa pelnya basah sekali?"


"Nanti Leony pel lagi sama pel kering ya."


"Telat Leony, mamah udah jatuh. Mungkin nanti suami kamu mungkin juga akan jatuh di sini. Apalagi kalau sampai ayah kamu yang lewat, kalau ada apa-apa sama ayah kamu yang tanggung jawab!" kata ibu mertuanya agak kesal dan berlalu. Tak lama kemudian, ibu mertuanya memutar balik dan menyerahkan kertas nota. "Oya Leony, ini tagihan PDAM bulan lalu, bulan ini kamu yang bayar."


"Iya mah,"


"Oya satu lagi, kamu ngepelnya nanti saja tunggu semua orang berangkat kerja."


Leony hanya mengangguk dan membawa pel ke kamar mandi, di sana ia membuka nota PDAM, ia terperanjat melihat tagihannya, 2 juta rupiah!


Seumur hidupnya baru kali ia melihat tagihan PDAM sebanyak ini, tapi ia masih bisa tersenyum karena tagihan itu tak seberapa besar dibandingkan pemberian suaminya. Masih ada 18 juta tersisa, lebih dari cukup untuk kebutuhannya.


Pukul 6 sore, Adam pulang. Ia menyambut kedatangan suaminya dengan senyuman manis. Tak lama kemudian ibu mertuanya menyusul, namun Anita tak nampak sore itu. Sepertinya ia kembali kerumahnya.


Anita yang pulang kerumah tak mendapat sambutan apapun dari suami dan anak-anaknya. Anita pulang ke rumahnya sendiri seakan sedang bertamu ke rumah orang yang tak dikenal.


Anak-anaknya asyik bermain handphone, begitupun dengan suaminya. Rumah nampak berantakan, pakaian ada di setiap sudut rumah. Bekas kotak nasi masih ada di depan televisi. Anita yang melihat semua berantakan semakin kesal. Namun ia tak berani memarahi suaminya karena iya juga bersalah.


Anita membersihkan seluruh rumahnya meskipun ia lelah bekerja. Pukul 9 malam, ia tertidur di depan televisi karena sangat mengantuk dan kelelahan. Narto yang melihat istrinya tak tega, kemudian membangunkannya untuk pindah ke kamar.


Dalam hati Narto sangat mencintai istrinya, ia ingin rumah tangga yang normal bersama dengan anak dan istrinya. Namun, karena tuntutan ekonomi dan ibu mertuanya, rumah tangga mereka menjadi berantakan. Sebisa mungkin, Narto berusaha mempertahankan akal sehatnya. Namun kadang, ia juga kehabisan kesabarannya menghadapi keras kepala istrinya.


Narto menuju kamar anak-anaknya, dilihatnya anak-anaknya yang semakin besar, mereka tiap hari mengurus dirinya sendiri. Narto sangat sedih, tak terasa air matanya sudah terbendung dan hampir tumpah. Dengan segera ia mengusap air matanya.

__ADS_1


__ADS_2