Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Di Selamatkan


__ADS_3

Mas ma'afkan aku, aku harus pergi meninggalkan kamu. Aku harus pergi sebelum kamu benar-benar repot membayar pembantu di rumah untukku, dan juga security. Aku nggak memerlukan mereka semua mas. Menikah lah dengan Rizka dan berbahagialah dengannya mas, aku sudah ikhlas. Ma'afkan aku yang nggak bisa lagi bersama mu, karena tak ada perempuan yang tulus mencintai di dunia ini yang rela berbagi suami. Sekali lagi ma'afkan aku mas, aku berjanji akan menjaga anak kita. Kamu nggak perlu mencari kami, aku bisa menjaga diri dan anak kita.


Leony meletakkan surat yang di tulis nya untuk Adam di atas meja riasnya. Supaya tak menimbulkan pertanyaan, ia hanya membawa tas Selempang ya dan menggendong bayi nya. Sebuah taxi telah tiba di depan rumah nya.


Dengan segera ia masuk ke dalam taxi. Ia sudah memesan taxi ini sehari sebelumnya untuk pulang ke desa nya.


Namun, di tengah jalan ia melupakan sesuatu. Ia meminta sopir taxi untuk pergi ke swalayan kecil terdekat. Ia lupa membawa tas kecil perlengkapan bayinya. Dengan segera ia masuk ke dalam swalayan untuk membelinya. Sedangkan taxi menunggu di seberang jalan. Jalan itu jalan sempit dan sepi. Jarang ada orang melewati jalan kecil itu.


Sekitar 10 menit ia berada di swalayan, lalu kembali ke luar. Tetapi ia tak menemukan taxi nya. Berulang kali ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Ia mengambil ponselnya dan menelpon si sopir taxi, namun tak ada jawaban.


Tiba-tiba seseorang dari belakang menyapanya.


"Sebelah sini buk, taxi yang tadi ibu tumpangi sudah pergi. Dia bilang mentransfer penumpangnya sama saya. Mari buk, naik ke mobil."


Leony yang sedang butuh tumpangan dengan senang menurut saja. Hingga dia membuka pintu mobil dan melihat ada 3 orang laki-laki di dalam mobil, yang membuatnya sangat terkejut adalah mereka semua adalah body guard orang tua Rizka.


Dengan sigap ia kembali menutup mobil dan berjalan menjauh. Namun salah seorang dari mereka yang tadi mengobrol dengannya malah menariknya.


Leony berteriak minta tolong, namun tak ada siapa pun di sana. Ia mencoba melepaskan tarikan si body guard. Body guard yang lainnya masih di dalam mobil, mereka sengaja masih berada di dalam agar tak menimbulkan kegaduhan.


Leony hampir berhasil di masukkan ke dalam mobil, hingga seseorang dari belakang memukul si body guard menggunakan kayu.


Leony menoleh ke belakang, ternyata yang menolongnya adalah Nurin. Nurin kembali memukul si body guard dengan kayu dan berteriak minta tolong pada orang-orang yang kebetulan lewat hingga menimbulkan kegaduhan. Karena suasana menjadi tak terkendali, para body guard pergi meninggalkannya.


"Dek.. kamu nggak apa-apa??" Nurin membantunya duduk di pinggiran jalan, salah seorang pengendara yang membantu mereka memberikannya air putih untuk menenangkannya.

__ADS_1


Leony hanya mengangguk, jantung berdebar tak beraturan. Ia sangat takut jika terjadi sesuatu pada bayi nya. Hampir saja si body guard menarik bayi nya dengan kasar.


"Ayo ikut aku, nggak jauh dari sini. Sementara suami kamu menjemputmu!" ucap Nurin yang membantu Leony berdiri dan berjalan kearah sepeda motornya.


Mereka berdua lalu menaiki sepeda motor dan menuju sebuah kost-kostan. Mereka berdua turun dan masuk ke dalam. Di sana mereka di sambut hangat oleh Nita dan Arif.


Nita membantu Leony untuk membaringkan bayi nya di kamar kost Nita. Setelah itu Nurin menceritakan pertemuan mereka tadi.


"Dek, kamu kenal mereka itu siapa?" tanya Nurin heran.


"Mereka itu bodyguard Rizka." Ucap Leony masih ketakutan, suaranya masih bergetar.


"Siapa Rizka?" tanya Nita.


"Dia yang akan menikah dengan suamiku dalam waktu dekat." Air matanya tak terbendung, hatinya sangat sakit. Namun ia segera menyeka nya.


"Iya, ceritanya panjang. Intinya, sekarang aku dan suamiku sudah nggak bisa bersama lagi. Nggak akan ada perempuan yang mau berbagi suami nya."


Mereka mengerti pangkal permasalahannya sekarang.


"Memang nya kamu mau pulang ke Desa?" tanya Nita lagi.


"Ya, aku mau pulang ke desa sekarang."


"Kita istirahat sebentar, setelah itu aku akan mengantarkan kamu ke Desa dek." Ucap Nurin meyakinkan.

__ADS_1


"Nggak perlu repot mas, aku bisa naik taxi."


Nita bisa merasakan ada kecanggungan diantara mereka.


"Mbak, biarkan mas Nurin yang mengantarkan kamu. Kenapa kamu malu, sekarang kami sudah bukan suami istri lagi. Sekarang kami sama-sama bebas."


Leony terkejut mendengarnya.


"Aku nggak mengerti maksud perkataan kamu, apa kalian sudah bercerai?"


"Ya, buat apa meneruskan hubungan kalau kami sama-sama nggak mencintai?" sahut Nita.


Leony menyadari, pantas saja setiap kali ia menanyakan perihal Nita Nurin selalu menjawab dengan jawaban yang aneh. Haid, inilah maksudnya.


"Mas Nurin memang sering main ke sini untuk sekedar mengantar Arif. Karena Arif sangat menempel sama mas Nurin. Mereka sudah seperti ayah sama anak, padahal bukan."


Leony masih tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Jadi, ini kost-kostan kamu?"


"Iya, aku kuliah di sini. Aku melanjutkan kuliahku, melanjutkan hidupku. Dan itu semua berkat mas Nurin, aku nggak akan pernah lupa sama jas nya."


Leony sekarang mengerti apa yang sudah terjadi.


"Mas Nurin di sini juga nggak pernah lama. Cuma seharian terus langsung pulang. Tapi rutin, kadang 1 Minggu sekali. Kalau orang nggak paham memang dikira kami suami istri."

__ADS_1


Penjelasan Nita membuatnya semakin tak percaya. Mereka semua begitu akrab dan hangat. Keluarga kecil yang benar-bemar di impikan nya. Di impikan oleh setiap perempuan.


__ADS_2