Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Pekerja Keras


__ADS_3

Nurin terus berusaha menghubungi Leony namun tak ada jawaban apapun, kali ini dia menyerah. Mungkin ini sudah pilihannya, fikir Nurin.


Setiap hari dia bekerja keras untuk membantu mewujudkan keinginan Leony. Sekarang hanya inilah yang bisa dilakukannya. Dia berharap Leony cepat kembali. Di tempat kerja hanya sesekali dia mengobrol dengan para pekerja, setelah itu lebih banyak diam.


Bian yang biasanya ceria juga menjadi lebih pendiam, terlebih lagi pada kakaknya. Dia kecewa kakaknya mengambil keputusan untuk tetap menikahi Nita, namun juga kasihan. Sementara semua orang tahu hanya Leony lah yang ada di hati Nurin.


Fira yang belum pernah ke ladang sejak kepergian temannya setiap hari bekerja keras untuk mengurusi ladang dan segala sesuatu yang ditinggalkan Leony.


Lain hal nya dengan bi Inah, entah dari mana dia mengetahui kabar Nurin yang akan segera menikah dengan Nita, menghamburkan gosip kesana dan kemari. Membuat bude Sum emosi dan bercekcok.


"Kamu itu lo bi, itu mulut apa penggorengan?! gak usah sebarkan gosip yang bukan-bukan! Fitnah itu namanya!" bude Sum sangat emosi melihat bi Inah yang asyik menggosipi Leony.


Bi Inah yang kaget mendengar bude Sum yang tiba-tiba muncul menjadi tergagap tak bisa berkata apa-apa.


"Kamu itu bi, sudah tua! sudah tua bukannya nambahin amal malah nambahin dosa!" ucap bude Sum sangat geram.


"Mentang-mentang kamu dekat sama mereka terus kamu belain ya gitu? oohh, kamu sama saja sama Leony! udah tahu Nurin mau menikah malah menggoda calon suami orang, dan kamu malah belain dia." ucap bi Inah dengan santai.


"Dasar, tukang gosip! mending kamu pulang masak, nyuci. Kurang kerjaan!"


Bi Inah yang disemprot oleh bude Sum langsung pulang ke rumahnya, sambil melangkahkan kaki mulutnya terus saja mengomel.


********


Hari yang panas, kerjaan Fira yang menumpuk membuatnya lupa makan. Akhir-akhir ini dia juga tidak selera makan. Tiba-tiba Fira jatuh pingsan.


Bruukkkkk


Pekerja bangunan yang melihat Fira jatuh pingsan langsung membopongnya ke kantor pemasaran karena tak jauh jaraknya. Nurin yang melihat para pekerja membopong Fira langsung berlari menyusul.


Mereka mengambil Aqua gelas dan membasahi wajah Fira agak tersadar. Fira yang perlahan sadar hanya bisa memegangi kepalanya yang sangat pening.


"Mbak, kalau sakit kenapa berangkat kerja?"


"Aku gak papa Rin." Fira menjawab dengan lesu.


"Mbak begadang terus ya?" tanya Nurin khawatir.


"Iya, akhir-akhir ini aku gak bisa tidur tapi aku memang kayagini kalau lagi kedatang tamu bulanan, jadi kamu gak usah khawatir."


Nurin lega mendengarnya.


"Apa mbak mau dibawa ke pak mantri?"

__ADS_1


"Gak usah lah Rin, aku mau pulang aja."


"Aku Anter ya mbak."


"Kalo kamu Anter naik motor besok aku naik apa kesini?"


"Mbak tenang aja, besok pagi aku jemput."


"Yasudah,tolong anterin aku sampai rumah ya."


"Iya mbak."


Fira memarkir mobilnya di teras kantor dan pulang bersama Nurin. Bude Sum yang melihat Fira diantar oleh Nurin merasa heran. Untung Saja Bude Sum pulang sebentar mengambil bumbu yang tertinggal untuk di warung.


"Nak Fira kamu kenapa? apa terjadi sesuatu sama kamu?"


"Tadi mbak Fira pingsan Bude."


Fira terduduk di teras dengan lesu.


"Kamu pasti belum makan ya?" tanya Bude Sum. Fira menggelengkan kepala, "tunggu sebentar Bude ambilkan nasi."


Fira memakan makanan yang diambilkan Bude Sum. Sementara Nurin kembali bekerja.


"Nanti malam tidur di rumah Bude aja ya."


"Enggak papa bude, aku tidur di sini aja."


"Apa Bude yang temenin kamu tidur di sini?"


Fira mengangguk, "iya bude. Bude aja yang tidur di sini ya?"


Dengan berat hati Bude Sum meninggalkan Fira karena warungnya masih buka.


Malamnya Fira ditemani Bude Sum. Bude membawa makanan dan camilan untuk mereka makan berdua.


"Nak Fira, Leony kapan pulang?"


"Saya gak tahu pasti Bude, dia bilang dalam waktu 2-3 bulan lagi."


"Koq lama sekali, kasihan dia pasti hatinya hancur sekali ya."


"Iya Bude."

__ADS_1


"Bude sangat faham sama dia dan almarhum ibunya. Dulu mereka hanya tinggal berdua di sini. Mereka sudah seperti keluarga buat saya." ucap bude Sum sedih.


"Ibunya meninggal karena apa ya bude?"


"Ibunya sakit jantung Ndok." bude Sum terlihat semakin sedih.


Malam hari ini Fira merasa tenang karena ada Bude Sum yang menemani.


Keesokan pagi, Nurin datang menjemput Fira dan pergi sama-sama untuk bekerja.


Di jalan arah pekerjaan, mereka melihat ada deretan bangunan yang mulai di bangun, bangunan seperti kost-kostan. Ada banyak berderet sekitar 8 pintu. Dan betapa terkejut mereka pemilik bangunan itu ternyata Sandi. Orang yang sudah hampir mencelakai Leony dan pernah datang menawarkan kerja sama. Dia terlihat memerintah para pekerja.


"Itukan Sandi, orang yang datang menawarkan kerja sama kemarin?" ucap Fira, dia menjadi geram melihat laki-laki itu.


"Mungkin itu tanah miliknya mbak, yang ditawarkannya kemarin." ucap Nurin yang juga kesal melihatnya.


"Kayaknya iya Rin."


Nurin bisa mengingat dengan jelas betapa Leony marah kepada Sandi saat itu. Dia hanya bisa berharap kejadian yang sama takkan terulang lagi padanya. Sekarang Nurin mulai mengkhawatirkan Leony.


"Mbak, Leony ada ngasih kabar gak?"


"Ada Rin. Tenang aja, dia baik koq. Dia sekarang menjalankan rumah makan milik mbak Ningsih."


"Alhamdulillah kalau gitu mbak, ngomong-ngomong mbak Ningsih orangnya baik banget ya mbak."


"Iya Rin. Apapun yang dilakukan mbak Ningsih pada Leony sekarang, begitu juga yang dilakukan mbak Ningsih terhadapku."


"Nyari orang baik seperti itu sekarang udah jarang mbak."


"Iya Rin, makanya baik aku ataupun Leony kami sama-sama membantu dan berjanji gak akan mengecewakan mbak Ningsih."


Hari itu meskipun masih sakit, Fira tetap pergi bekerja dan ke ladang. Dia juga memetik sayuran untuk dia berikan kepada Bude Sum. Urusan memasak Fira sangat males, kalau cuma untuk dirinya sendiri dia memilih untuk beli di warung. Selama ada Leony, Leony lah yang memasak. Fira hanya membeli lauknya saja.


Ternyata memanen sayuran langsung dari kebun membuat Fira sangat senang. Seumur hidupnya baru kali ini memetik sayur segar dari ladang. Tiba-tiba dia merasa ingin memasak sayur segar ditangannya, dilihat saja sangat menggiurkan.


Sampai rumah, diletakkannya lauk yang tadi dia beli. Nasi tadi Pagi masih ada, jadi dia tak perlu memasak lagi. Fira memetik sayur kacang panjang yang sangat segar itu, dan memasaknya bersama jagung yang tadi dibelinya dari petani sebelah.


Setelah matang, Fira memanggil bude Sum untuk makan bersamanya.


"Wah wah, pinter masak kamu ndok." ucap bude Sum dengan senyumnya yang lebar.


"Iya bude, sayur yang baru dipetik ternyata sangat menggiurkan." Fira tersenyum.

__ADS_1


Fira mengambil es batu di kulkas dan membuat teh es. Mereka berdua menikmati masakan yang ada di meja. Sungguh nikmat yang luar biasa.


__ADS_2