Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Hadiah dari Ibu Mertua


__ADS_3

Siang yang terang benderang, namun dalam hati Leony terjadi badai yang mengguncang seluruh tubuh dan hatinya. Ia duduk termangu di taman samping rumah. Hanya bunga-bunga indah di sana yang menghibur matanya.


Ternyata pernikahannya tak seindah bayangannya. Apakah semua orang mengalami apa yang dialaminya, ia tak mengerti. Ia membayangkan Fira dan Nita. Mereka sudah gagal memilih pasangan hidup dan membina biduk rumah tangga. Apakah dia juga akan gagal?


Ia bangkit dan menuju kamarnya. Dilihatnya perawat sedang membantu ayahnya bersiap tidur siang. Ia mencoba menanyakan apakah ayahnya sudah minum jamu, untuk memastikan dan perawat itu mengiyakan sudah memberikannya. Ia memberikan senyum nya kepada ayah mertuanya.


Baru saja ia ingin melangkah naik tangga, ibu dan kakak iparnya masuk dengan suara tawa sangat gembira. Kali ini ibunya mengecat warna rambutnya sama dengan kakak iparnya. Mereka juga membawa banyak paperbag, sepertinya mereka membeli beberapa pakaian baru dan perlengkapan pribadinya.


Leony hanya berusaha menghindar dan melanjutkan naik ke lantai atas. Namun ibu mertuanya memanggilnya menyuruhnya turun kebawah.


"Leony, sini kamu," kata ibu mertuanya.


"Ada apa mah?"


"Gimana penampilan mamah? udah cantik belum?" kata ibu mertuanya sambil menunjukan rambut barunya yang berwarna pirang keemasan panjang sebahu.


"Cantik mah, sangat cocok sama mamah," kata Leony sambil tersenyum.


"Kamu juga sekali-kali harus perawatan! kalau mamah jalan sama kamu kan nggak malu-maluin. Coba deh lihat, dress mamah ini cantik kan?" tanya ibunya menunjukkan dress yang dikenakannya. Dress berwarna hitam bercorak warna krem, sangat cocok dengan warna rambutnya.


"Cantik mah,"


"Kamu tahu nggak, yang belikan dress ini Rizka. Mantan tunangannya Adam," katanya sambil berputar-putar senang dengan dress yang dikenakannya.


"Oya mah? baik sekali dia," ucap Leony sembari menahan sakit hatinya yang terasa semakin seperti di iris-iris.


"Dia memang baik Leony, dia nggak pelit sama mamah. Dan selera pakaian mamah juga sama dengan seleranya dia. Kakak kamu juga sering dibelikan pakaian-pakaian mahal seperti ini," kata ibu mertuanya. Seakan-akan ia tak pernah membeli pakaian mahal.


"Benarkah mah, mamah dan kakak memang beruntung," kata Leony berusaha tersenyum. Namun siapapun yang menatap matanya pastilah tahu, bahwa senyumnya penuh dengan luka.

__ADS_1


"Nah, ini buat kamu. Mamah yang belikan sendiri, supaya kamu punya pakaian yang sedikit layak," ibu mertuanya menyerahkan sebuah paperbag.


"Makasih mah,"


"Ya, sana coba kamu pake."


Ibu mertua dan kakak iparnya membawa paperbag yang banyak kedalam kamar mereka masing-masing. Begitupun juga Leony, ia penasaran pakaian seperti apa yang dibelikan ibu mertuanya. Ia merasa sedikit tersanjung, mereka tak melupakan dirinya.


Ia membuka dress berwarna pink fanta, bentuk dress nya mirip dengan yang biasa ia kenakan. Hanya saja lebih formal dan sedikit mewah dan bermerk. Di dalam paperbag juga ada struk harga dress seharga 800.000 ribu. Seumur hidup baru kali ini ia memiliki pakaian semahal ini. Ia menarik nafas panjang, ia bersyukur ibu mertuanya masih ingat akan dirinya.


Ia menggantung dress pink fantanya di deretan pakaian lainnya, dress itu terlihat begitu cantik diantara yang lain. Ia tersenyum senang. Ia merasa pusing lagi dan berbaring di tempat tidur, tak berapa lama iapun terlelap.


Setelah beberapa saat ia tertidur, seseorang masuk ke kamar mengejutkannya. Ternyata suaminya sudah datang, wajahnya lusuh dan pucat.


"Mas, kamu sudah pulang?" tanya Leony terheran-heran. Bukankah seharusnya suaminya kembali 2 hari lagi.


"Sini mas," Leony memijit-mijit kepala suaminya. Baru satu menit kemudian Adam sudah terlelap dan mulai mendengkur. Rupanya ia benar-benar kelelahan.


Leony turun kebawah menuju dapur memastikan masakan sudah siap, agar suaminya bisa makan setelah bangun tidur nanti.


"Non, maaf sebelumnya non," kata bi Sri terbata.


"Ada apa bi?"


"Maaf ya non, baru saja beberapa hari tapi uang belanja sudah habis non. Bagaimana ini non? karena kemarin nyonya minta belikan daging sapi, harganya lumayan belum lagi yang lainnya. Sekarang uang belanjanya sudah habis," kata bi Sri agak canggung.


"Tenang saja bi, mas Adam sudah pulang. Nanti kalau dia sudah bangun dan makan, nanti saya minta uang ke dia ya bi," kata Leony sambil mengecek semua masakan di meja yang sangat banyak.


"Iya non,"

__ADS_1


Selang beberapa waktu Adam sudah bangun dan terlihat segar setelah mandi. Namun Leony tak melihat keberadaan ibu mertua dan kakak iparnya. Apakah mereka masih di kamarnya ataukah mereka sudah pergi keluar lagi.


"Bi, ibu sama kak Anita keman?" tanya Leony pelan agar suaminya tak mendengar.


"Sudah pergi lagi non," kata bi Sri setengah berbisik.


"Kalian bisik-bisik apa?" tanya Adam heran melihat gelagat istri dan pembantu rumh tangganya itu.


"Nggak mas, kamu mau tahu aja urusan dapur," kata Leony acuh tak acuh.


"Wah, enak nih masakannya. Ayo kita makan sama-sama!" katanya bersemangat melihat daging sapi yang di sop.


"Ayo bi, kita makan bersama!" ajak Leony, karena biasanya bi Sri makan terakhir kalau semua orang sudah makan. Tapi Leony memaksanya untuk makan bersama, dan akhirnya bi Sri menurut juga.


Setelah makan selesai dan bersih-bersih, Adam menemui ayahnya dan mengajak ayahnya berjalan-jalan menggunakan kursi roda. Leony juga mengikuti mereka yang menuju halaman rumah. Ayahnya terlihat sangat senang melihat Adam. Ia merindukan anak laki-lakinya yang paling perhatian terhadapnya.


Setelah lelah berjalan dan menikmati panas matahari sore mereka masuk ke dalam. Kali ini Leony merasa pusing lagi, hampir saja ia jatuh pingsan. Ia merasa seperti harus beristirahat. Iapun masuk ke dalam kamar dan menarik selimut. Adam terheran melihat istrinya yang ingin tidur, padahal hari sudah sangat sore.


"Hani, kamu sakit?" tanyanya sambil memegang kening istrinya dengan telapak tangan.


"Nggak mas, aku ngantuk banget," katanya sudah memejamkan mata.


"Hani, mas tahu kamu lagi kasih kode kan?" tanya suaminya dengan wajah mesum.


"Nggak mas," Leony mulai terlelap, suaranya semakin lesu.


"Hani, nggak boleh tidur jam segini. Kamu lihat ini jam berapa? ini sudah jam setengah 5," ucap Adam berusaha membangunkan istrinya yang benar-benar hampir terlelap, "Hani, hani, bangun!" namun percuma saja usahanya untuk membangunkan istrinya.


Ia menghela nafas, ia mengira istrinya sedang memberikan kesempatan padanya. Namun sayang, harapan itu pupus seperti abu. Istrinya kini mendengkur kecil, ia kecup kening istrinya yang cantik. Ia teringat kemarin sudah memarahinya, dan berharap takkan mengulanginya lagi. Entah apa saja yang sudah dilakukannya di rumah ini hingga terlihat sangat letih.

__ADS_1


__ADS_2